Banyuwangi

Kementrian Keuangan mengucurkan anggaran Rp 75 milliar karne dianggap kinerja Bupati Anas cukup baik. Foto Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas.

BANYUWANGI (KT)  –  Pemerintak Kabuaten Banyuwangi mendapatkan dana insentif daerah (DID) sebesar Rp75 miliar dari Kementerian Keuangan untuk tahun anggaran 2018. Jumlah tersebut naik drastis dari tahun sebelumnya yang hanya Rp7,5 miliar.

“Ini perolehan luar biasa bagi daerah seperti Banyuwangi. Kami berterima kasih ke pemerintah pusat. Tentunya dana ini didedikasikan sepenuhnya untuk mendukung pembangunan daerah guna menyukseskan Nawacita Presiden Jokowi,” kata Bupati Abdullah Azwar Anas.

Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Samsudin mengatakan, DID yang diterima Banyuwangi sebesar RP 75 miliar terdiri atas dana insentif dasar Rp7,5 miliar dan dana insentif kinerja daerah Rp 67,5 miliar.

“Untuk dana insentif dasar, semua daerah yang mencapai WTP tiga kali berturut-turut besarnya sama, tapi untuk kinerja daerah berbeda-beda. Alhamdulillah Banyuwangi dinilai kinerjanya sangat baik,” kata Samsudin.

Artinya, sambung Samsudin, kriterianya bukan hanya soal administrasi pengelolaan keuangan daerah, tapi juga kinerja daerah dalam peningkatan pelayanan publik dasar dan kesejahteraan masyarakat.

Bupati Anas mengatakan, selama ini Banyuwangi terus melakukan berbagai inovasi demi kemajuan daerah. Mulai inovasi bidang pelayanan publik, pemerintahan, hingga yang terkait dengan pengembangan ekonomi masyarakat.

Dari sisi pelayanan publik, ada inovasi program Samrt Kampung yang menjadikan desa sebagai garda terdepan pelayanan. Program itu ditopang e-village budgeting dan e-monitoring system. Ada pula Mal Pelayanan Publik yang telah mengintegrasikan 142 jenis dokumen/izin di satu tempat, sehingga warga dimudahkan.

Program pengembangan ekonomi juga dipacu melalui pariwisata, pertanian, dan UMKM. Hasilnya, pendapatan per kapita warga juga melonjak dari Rp 20,8 juta per orang per tahun menjadi Rp 41,46 juta per orang per tahun. Kemiskinan bisa ditekan signifikan hingga level 8,79 persen, relatif jauh di bawah rata-rata Jatim dan nasional.

Anas menekankan, inovasi-inovasi itu tidak kemudian mengabaikan prinsip tata kelola keuangan yang baik.

“Dulu banyak yang mengkhawatirkan ide-ide baru semacam Banyuwangi Festival dan keterlibatan pihak ketiga dalam program kemiskinan akan menghalangi pelaporan keuangan daerah yang tertib dan baik. Tapi berkat kepatuhan dan ketelitian dalam menyusun laporan keuangan sesuai kaidah akuntansi keuangan negara, alhamdulillah kita bisa melakukannya,” ujarnya. (ifr)

Dihadapan Kapolres, Salah Satu Kapolsek Menandatangani Pakta Integriras. (foto/kt/ari)

BANYUWANGI (KT) - Kapolres Banyuwangi AKBP Donny Adityawarman mengatakan, pergeseran maupun rotasi merupakan hal yang rutin, dan ini bagian dari dinamika kepolisian untuk meningkatkan kinerja sekaligus profesionalisme agar lebih mendekatkan diri kepada masyarakat.

"Jadi pergeseran ini suatu hal yg wajar, karena yang bersangkutan perlu ada penyegaran. Dengan adanya pergeseran ini, Insya Allah kinerja kita bisa lebih meningkat," tandas Donny kepada pers usai memimpin jalannya Sertijab jajaran Kapolsek dilingkungan Polres Banyuwangi kemarin.

Terkait penandatanganan pakta integritas yang dilakukan para Kapolsek, pamen kelahiran Surabaya ini menegaskan, kalau hal itu dilakukan untuk mengikat seseorang atau pejabat tertentu supaya melaksanakan tugasnya sesuai dengan aturan-aturan yang berlaku. Baik secara norma hukum, norma sosial, norma agama, maupun norma kemasyarakatan. "Semua terkait, termasuk persoalan Saber Pungli," bebernya. 

Untuk percepatan kerja para Kapolsek, mantan Kasatresnarkoba Polrestabes Surabaya ini menginstruksikan kepada jajarannya agar melakukan kerja keras, kerja cerdas, dan kerja ikhlas yang semuanya berangkat dari kepedulian. 

"Karena tanpa adanya kepedulian, tidak mungkin bisa melakukan segala hal terutama berkaitan dengan kebutuhan masyarakat yang semakin meningkat. Dan ini yang harus kita terus ikuti, karena tidak mungkin masyarakat hanya berdiam stagnan. Artinya, kita terus mengikuti kebutuhan masyarakat seperti apa, kita harus layani dan mencoba menjadi pelindung, pengayom serta melayani masyarakat dengan baik," ungkap mantan Kapolres Trenggalek itu.. 

Berdasarkan Surat Telegram Kapolda Jatim Irjen Machfud Arifin Nomor 2405 tertanggal 27 November 2017, Kompol Toha Choiri yang sebelumnya menjabat Kapolsek Rogojampi menggeser Kompol Agus Dwi Jatmiko selaku Kapolsek Muncar. Sedangkan Agus DJ menempati kursi sebagai Kapolsek Genteng yang berstatus urban. Sementara Kabagops Polres Situbondo Kompol Suharyono datang menggantikan Kompol Toha Choiri.

Selanjutnya Kompol Sumartono pasca digantikan oleh rekan sejawatnya, Kompol Agus DJ menempati posisi baru selaku Kabagops Polres Situbondo. AKP Bakin yang kurang lebih satu tahun menjabat Kasubag Humas Polres Banyuwangi menjadi Kapolsek Songgon yang ditinggalkan AKP Suwanto Barri karena memasuki masa pensiun. Perwira pengganti posisinya sebagai corong institusi kepolisian dikabarkan adalah Iptu Joko Jepang. 

Kasubag Hukum Polres Banyuwangi AKP Abdul Jabbar mendapat kesempatan menjabat sebagai Kapolsek Kalibaru.  Sementara AKP Bambang Suprapto yang meninggalkan Kalibaru mendapat jatah kursi Kapolsek Tegalsari menggantikan AKP Suhardi yang pindah ke Polsek Sempu. Dan, Kapolsek Sempu AKP Jaenur Holiq menduduki posisi Kasubag Hukum Polres Banyuwangi.

AKP Sudarsono selaku Kapolsek Pesanggaran akhirnya pulang kampung dengan menempati jabatan Kasubag Binops Bagops Polres Situbondo. Kursi yang dia tingggalkan diisi oleh AKP Heri Purnomo yang selama beberapa tahun sebagai Kapolsek Tegaldlimo. Jabatan yang ditinggal Heri Purnomo ditempati perwira yang sebelumnya menjabat Kasubag Dalops Bagops Polres Banyuwangi, AKP Mohammad Munir.

Kapolsek Kalipuro AKP Supriyadi masuk sebagai penggantinya. Sedangkan perwira dari Polres Probolinggo, AKP I Ketut Wijaya Kesuma, mengisi kursi yang ditinggalkan AKP Supriyadi. ((ari)

 

Bupati Saat Melantik 51 Kades Terpilih di Pendopo

BANYUWANGI (KT) - Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengajak para kepala desa (kades) di Banyuwangi untuk menumbuhkan desa-desa sehat. Kepala desa harus mengubah cara berpikir sektor kesehatan, dari paradigma “sakit” menjadi paradigma “sehat”.

Ruliyono Ditengah-tengah Timnya Saat Pertemuan . ( kt/ari )

BANYUWANGI (KT) - Membangun kepercayaan memang tidak segampang membalik tangan. Tapi, Ruliyono membangun kebersamaan dengan sahabat-sahabat di daerah pemilihan (Dapil) 5 (wilayah Kec Genteng, Sempu, Glenmore, Kalibaru dan Tegalsari) itu sangat tulus dan ikhlas. Maka ketika Ruliyono melanching Sahabat Ruliyono, SH dan Pranaya Yudha Mahardhika ribuan audenya hadir dengan warga kaos kuning.

Lokasinya dipinggir jalan raya Genteng-Jember, yakni di Desa Tegalpakis, Kecamatan Kalibaru. Bahkan, Ketua DPD Golkar Banyuwangi itu selain membangun komunikasi dengan audenya, anggota DPRD Banyuwangi itu juga menjadi MC. “Ini luar biasa. Saya membangun komunikasi dengan masyarakat ini sudah bertahun-tahun dengan rasa tulus dan ikhlas,” tandas Ruli merendah.

Ketika ditanya kenapa menggunakan nama sahabat? Dengan tegas Ruliyono menyatakan kalau nama sahabat itu filosofinya lebih tinggi dari saudara. Karena, dijaman kerajaan itu perang saudara. Apalagi, kata Ruli, nama saudara untuk retak itu potensinya masih ada. Kalau nama sahabat itu, apalagi itu sahabat sejati.

“Contoh bagaimana sahabat-sahabat rasulallah, saya bercontoh disana. Bagaimana sahabat-sahabat rosulallah itu. Dengan rosullalah katakanlah dengan atasanya itu tawaduq dalam arti royal, memperhatikan. Lebih lebih kanjeng nabi sangat memperhatikan sahabat-sahabatnya. Dan disitu juga ada pesan setelah kanjeng nabi wafat, ada regenerasi sahabat-sahabatnya yang jadi khalifah itu pemimpin agama juga pimpinan pemeritahan. Justru itu, saya berharap terjadi di konstituen saya,” beber Ruli yang didampingi istrinya, Yuli.

Dikatakan Ruli, dianggotanya sasaran dirinya ada dua pilihan. Kebetulan semua itu dari allah. Pertama Ruli dapat tiket untuk ke pusat, tapi dengan biaya sendiri. Kedua ada pengusaha nasional, ya mungkin karena mereka kasihan atau apa, siap membiayai Ruli untuk calon bupati dengan syarat harus dapat 15 ribu suara. 

“Kalau mendapatkan 15 ribu suara, kamu sudah  punya modal. Begitu kasarnya dan itu saya sampaikan kepada temen-temen pengusaha di Banyuwangi dan mereka sangat antusias serta luar biasa. Ada juga yang menyarankan saya harus gandeng dengan Ponpes Darussalam dari Blokagung. Siapapun, apakah Gus Munib atau Gus Malik. Tapi feling ada disana (ponpes),” papar Ruli.

Rulipun akan mengejar perolehan 15 ribu suara itu. Karena, menurut Ruli, hal itu adalah amanah untuk maju sebagai calon Bupati Banyuwangi priode tahun 2020-2025. Kalau Ruli mendapatkan dapat 15 ribu otomatis juga ikut membesarkan Golkar. “Kalau saya dapat 15 ribu, saya yakin Golkar dapat 3 kursi di dapil 5. Kalau dapat 3 kursi berarti suara terbanyak kedua dan ketiga berpeluang dapat 3000-an suara,” kata Ruli.

Selain itu Ruli juga memberikan hadiah untuk timnya, yakni Umroh. Kebetulan, ujar Ruli, yang mendapatkan hadiah Umroh dari warga Salamrejo yang juga timnya Ruli. Tidalk hanya Umroh, Ruli juga membagikan dorprize sejumlah 260 unit. “Jadi, inilah saya membangun sahabat-sahabat di wilayah dapil 5,” jelasnya. (ari)

 

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas ( fot/kt/ ifr)

BANYUWANGI (KT)  - Masyarakat boleh berbicara apa saja. Yang pasti Banyuwangi beda dengan dulu. Apa saja ada disini. Dunia sudah melihat Kabupaten paling timur Jawa Timur. Event bernilai sejarah rutine kita gelar. Desember ini Banyuwangi genap berusia 246 tahun .

Bagi warga Banyuwangi perlu lebih mengenal sejarah kelahirannya. "Saat itu telah terjadi perang besar Puputan Bayu antara rakyat melawan VOC (Belanda) yang kemudian diperingati sebagai Hari Jadi Banyuwangi. Mengenang heroisme pejuang tersebut, Banyuwangi menggelar napak tilas dalam balutan Festival Rowo Bayu, Minggu (3/12).

Napak tilas itu diikuti ratusan orang dari seluruh penjuru Banyuwangi. Mereka menyusuri rute sepanjang 10 kilometer yang menjadi jalur perang Puputan Bayu. Dimulai dari Desa Parangharjo menuju hutan Rowo Bayu yang diyakini menjadi lokasi perang besar tersebut.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengapresiasi peran serta seluruh peserta yang berasal dari berbagai elemen ini. "Selamat dan terima kasih kepada masyarakat Songgon. Napak tilas ini penting bagi kita. Banyuwangi boleh maju dan berkibar, tapi sejarah dan budaya masa lalu tidak boleh ditinggalkan. Sejarah itu penting bagi kita untuk mengingat masa lalu, dan merefleksikannya untuk masa depan,” kata Anas. 

Bupati Anas saat itu turut berjalan menyusuri rute bersama masyarakat didampingi istrinya, Dani Azwar Anas. 

Napak tilas itu juga terasa istimewa. Karena para peserta mengenakan kostum yang didesain unik. Ada yang berkostum seperti pejuang, ada juga yang mengenakan bahan daur ulang.

Di antara peserta, bahkan ada wisatawan asing yang juga ikut meramaikan kegiatan yang digelar setiap tahun tersebut. Yos Schneckener, pria berkebangsaan Jerman mengaku senang bisa ikut lebur dalam kegiatan tersebut. 

“Saya surprise sekali. Ini baru pertama kalinya saya datang ke Songgon. Saya baru tahu kalau ada kebiasaan jalan semacam ini. Mereka baik-baik, saya disapa terus sedari tadi,” ujar pria yang akrab disapa Yos ini.

Yos mengungkapan bahwa dirinya datang ke Songgon khusus untuk belajar tentang kopi pada salah satu produsen kopi di Songgon, yakni Ny. Sunarmi. Ini kali ketiga Yos berkunjung ke Banyuwangi. “Saya selalu rindu untuk kembali ke Banyuwangi. Apalagi sekarang saya punya keluarga angkat yang tinggal di sekitar Pulau Merah. Jadi kalau kesini, sekalian menengok keluarga saya,” ujar Yos.

Warga Songgon pun menyambut antusias tradisi ini. Sepanjang rute yang dilalui peserta, warga dengan sukarela menyiapkan makanan dan minuman ringan yang bisa dinikmati secara gratis oleh para peserta napak tilas. Makanan tradisional seperti ubi, talas, jagung dan kacang rebus hingga bubur ketan hitam.

Berbagai atraksi juga mereka tampilkan untuk menyemangati para peserta. Mulai dari permainan musik tradisional Banyuwangi berupa rebana yang dibawakan beramai-ramai hingga lantunan lagu-lagu Osing hingga atraksi Barong Kumbo.(ifr)

Ketua DPRD, I Made Cahyana Negara, SE

BANYUWANGI (KT) - Munculnya kuliner memang tumbur subur. Tapi kuliner satu ini memang beda. Bahkan, ada nama warung yang bernuansa etnik Using.  Tidak hanya itu, lokasinyapun tidak mudah dijangkau.  Hampir semua bernuansa pawon Using. Karena, ornamen dan pernak-perniknya dapur sangat kental dengan ada istiadat daerah dimana lokasi tersebut.

 

banner