Banyuwangi

Antisipasi Aksi Teror, Aparat Gabungan Razia Rumah Kos

BANYUWANGI (KoranTransparansi.com) – Razia kos-kosan dalam rangka antisipasi orang mencurigakan terkait dengan aksi teror digelar petugas gabungan dari Polri, Satuan Polisi Pamong Praja dan Pemerintah Kecamatan Banyuwangi Kota. Tak satupun orang asing mencurigakan yang terciduk dalam operasi yang digelar selama kurang lebih 4 jam. 

Namun 17 orang diamankan petugas gabungan karena berada di dalam kamar tanpa surat nikah, pesta miras dan tak mengantongi KTP. Para pelanggar ada yang dibawa ke Mapolsek Kota Banyuwangi dan Markas Satpol PP. Razia digelar sekitar pukul 21.00 WIB kemarin.

"Antisipasi kerawanan seperti yang terjadi di Surabaya, kita lakukan razia. Mungkin saja di lokasi kita ada warga yang mencurigakan sedang kos. Sekaligus cipta kondisi saat bulan puasa," jelas Kapolsek Banyuwangi Kota, AKP Ali Masduki..

Para pelaku pesta miras berjumlah 3 orang langsung menjalani pemeriksaan oleh aparat kepolisian. Sedangkan 4 orang tanpa identitas plus 10 muda-mudi yang berada dalam kamar di waktu larut malam digeser ke Markas Satpol PP.

"Kita dapati mereka ada yang kumpul kebo di dalam kamar, ada yang mabuk-mabukan, dan ada juga yang tidak mengantongi identitas. Karena ini bulan puasa agar masyarakat dapat melaksanakan ibadah dengan tenang," ungkapnya. 

Tindakan yang dilakukan petugas pun berbeda. Menurut AKP Ali Masduki, khusus untuk pemuda yang membawa miras akan dijatuhi tindak pidana ringan (Tipiring). Sedangkan yang tanpa identitas maupun kumpul kebo diserahkam ke Satpol PP Banyuwangi. "Yang minum-minumanan keras ada tiga, jadi kita tangani sendiri. Sedang yang tanpa identitas kita bawa ke Satpol PP," katanya.

Di Kantor Satpol PP Banyuwangi, para pemuda pasangan mesum dan  pemuda tanpa identitas tersebut didata. Mereka bahkan dinasehati agar tidak melakukan pelanggaran serupa di lain hari. Apalagi di Bulan Ramadhan yang bagi umat muslim dianggap suci.

"Kita lakukan pendataan terhadap mereka. Khusus untuk pasangan ini kita minta untuk membuat pernyataan di atas materai dan kita panggil orang tua masing-masing," jelas Kabid Penegakan Perda Satpop PP Banyuwangi, Joko Sugeng Raharjo. (ari)

 Peserta Festival Patrol Saat Unjuk Kebolehan

BANYUWANGI (Koranransparansi.com) - Di bulan Ramadhan ini, Banyuwangi Festival (B-Fest) akan menghadirkan dua event menarik, yakni festival musik hadrah (Sabtu - Minggu, 26-27 Mei) dan festival musik patrol (Senin - Selasa, 28 - 29 Mei). Festival Patrol sendiri akan dimeriahkan penampilan Steinhaus Orchestra, grup musik orkestra asal Jerman. 

Menurut Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas, khusus di bulan Ramadhan ini B-Fest sengaja mengangkat atraksi seni yang menggambarkan tradisi masyarakat Banyuwangi selama bulan puasa. Kesenian patrol dan musik hadrah adalah salah satunya. 

"Selain ingin mengenalkan kepada khalayak tentang seni dan budaya Banyuwangi, salah satu tujuan B-Fest adalah menjaga tradisi luhur yang berkembang di masyarakat agar tidak punah. Setiap tahun, hadrah dan patrol ini kami gelar secara masif yang diikuti oleh pelajar dan kalangan umum," tandas Anas. 

Musik Patrol adalah musik tradisional yang menggunakan alat musik sederhana yaitu kentongan. Kentongan yang digunakan bermacam - macam dengan berbagai ukuran dan dibunyikan secara teratur sehingga menghasilkan suara yang indah dan enak didengar. Musik ini banyak dimainkan masyarakat terlebih saat Ramadhan untuk membangunkan orang dari tidur supaya segera sahur.

"Meski saat ini cara membangunkan kita tidur lewat alarm HP, namun lewat festival patrol ini akan mengingatkan kita tentang pentingnya guyub dan peduli dengan tetangga seperti yang dilakukan orang tua kita dahulu. Patrol ini kan menunjukkan cara pedulinya warga membangunkan tetangganya agar tidak ketinggalan makan Sahur sekaligus menjaga keamanan lingkungan," kata Anas. 

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi MY Bramuda menjelaskan festival ini akan digelar selama dua hari yang diikuti 25 grup patrol dari 25 kecamatan se-Banyuwangi. Para peserta akan berkeliling kampung dengan membawakan lagu-lagu bernafaskan Islami. 

"Peserta kita bagi dua, hari pertama yang tampil 12 grup, dan hari berikutnya 13 grup. Setiap grup terdiri dari 15 personil dengan masing-masing memainkan berbagai alat musik. Ada yang pegang gong, terothok, seruling, tempal, kenthongan atau pethit," ujar  Bramuda.

Festival patrol akan dimulai pukul 20.00 WIB atau setelah sholat taraweh. Para peserta akan saling berkompetisi untuk memberikan penampilan yang terbaik. "Rute hari pertama dan kedua berbeda. Ini biar lebih banyak masyarakat yang menikmati musik patrol," jelas Bramuda. 

Bramuda pun memastikan festival patrol kali ini bakal lebih meriah. Ini karena ada kelompok musik orkestra asal Jerman, Steinhaus Orchestra yang akan tampil memeriahkan Festival Patrol. "Hari pertama akan diramaikan penampilan 12 peserta manca negara yang tergabung dalam program Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia (BSBI) yang tengah belajar seni dan budaya Banyuwangi. Orkestra asal Jerman ini tampil di hari kedua," ungkapnya. (ari)

 

Kalapas kelas 2 Banyuwangi Ketut Akbar (ujung kiri) bersama Kapolres dan Dandim melakukan sidak antisipasi gangguan menyusul aksi teror Bom di Surabaya dan Sidoarjo.

BANYUWANGI (KoranTransparnsi.com) - Lembaga pemasyaratan (Lapas) kelas 2 Banyuwangi kini mempekatat pengawasan. Selain mengantisipasi kemungminan hal hal yang tidak diinginkan, secara kebetulan dihuni Narapidana Teroris.

Lapas kelas 2 tersebut kini duhuni 956 orang dan satu tahanan teroris kiriman dari Mako Brimob yaitu AA lias AD alias AM berasal dari Bandung.

Ketut Akbar, Kepala Lapas Kelas 2 Banyuwangi kepada KoranTransparfansi.com mengatakan, AA lias AD alia AM menghuni Lapas Banyaungi sejak 11 bulan lalu. Tahann Teroris tersebut sudah diputus 15 tahun penjara, ujar Ketut Akbar, Kamis (17/5/2018).

Narapidana  itu sudah menjalani hukuman selama 2 tahun 3 bulan 25 hari. 

Selama berada di sini, sikap dan tingkah lakunya sangat baik, Tetapi kami masih waswas sekali dengan narapidana teroris ini karena orangnya pasif. Dengan keadaan sekarang yang rawan teror bom hari-hari ini, maka narapidana teroris kami kasih pengawasan lebih ketat,” jelas Akbar.

Pasca ledakan bom di Surabaya dan Sidoarjo, pihak Lapas Banyuwangi memperketat keamanan dan pengawasan kepada pengujung lapas terutamanya kepada pembesuk narapidana dengan kasus-kasus yang rawan seperti narapidana teroris.

"Kami tidak mau kecolongan seperti yang ada di Makobrimob. Maka mulai sekarang pengawasan disini kami perketat dan barang bawaan pengujung kami geledah dan kami cek sedetail mungkin, Takutnya pengunjung membawa barang yang berbahaya," pungkas Akbar. (ifr)

PNS siap melaksanakan jam kerja ramadhan

BANYUWANGI (KoranTransparansi.com) – Dua hari lagi, Bulan Suci Ramadhan 1439 Hijriah akan tiba. Selama bulan puasa tersebut, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menetapkan jam kerja baru bagi seluruh Pegawai Negeri Sipil (PNS)-nya.  

Penetapan jam kerja baru tersebut tercantum dalam Surat Edaran (SE) Sekretaris Daerah Kabupaten Banyuwangi Nomor 065/1094/429.013/2018  tentang Jam Kerja Bulan Ramadhan 1439 H di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi yang diterbitkan Senin, 14 Mei 2018.

Sekretaris Daerah Kabupaten Banyuwangi, Djadjat Sudradjat, mengatakan SE ini sebagai tindak lanjut SE Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN-RB) Nomor 336 Tahun 2018 tanggal 8 Mei 2018 perihal Penetapan Jam Kerja ASN, TNI dan POLRI pada Bulan Ramadhan. “Ini semata-mata demi peningkatan kualitas pelaksanaan ibadah puasa bagi umat muslim,” ujar Djadjat.

Djadjat menjelaskan, pada instansi pemerintah yang memberlakukan lima hari kerja, jam kerja Hari Senin – Kamis dimulai pukul 08.00 – 15.00 WIB dengan jam istirahat pukul 12.00 – 12.30 WIB. Sedangkan Hari Jumat masuk pukul 07.30 – 15.30 WIB dan istirahat pukul 11.00 -12.30 WIB.

Sementara pada instansi pemerintah yang memberlakukan enam hari kerja, Hari Senin - Kamis jam kerja diawali pukul 08.00 – 14.00 WIB, Hari Jumat pukul 07.30 – 11.30 WIB, dan Hari Sabtu pukul 08.00 – 13.00 WIB. Dengan diberlakukannya jam kerja tersebut, kata Djadjat, total jam kerja bagi instansi yang melaksanakan 5 hari atau 6 hari kerja selama bulan Ramadhan adalah 32,5 jam per minggu. Artinya jam kerja ini berkurang dibandingkan hari-hari biasa.

“Meski jam kerjanya berkurang, kami mengimbau agar seluruh PNS bisa merampungkan pekerjaan tepat waktu. Jangan sampai ada pekerjaan yang tertunda gara-gara puasa. Justru dengan semangat puasa, kita harus lebih produktif,” tegasnya.

Selain perubahan jam kerja, Pemkab Banyuwangi juga menetapkan penggunaan seragam selama Bulan Ramadhan berupa pakaian muslim putih dan bawahan berwarna gelap bagi seluruh PNS Kabupaten Banyuwangi. Selama satu bulan penuh, kata Djadjat, PNS laki-laki wajib memakai baju muslim putih dilengkapi dengan songkok nasional berwarna hitam. Sedangkan bawahannya mengenakan celana warna hitam atau gelap yang berbahan non jeans.

Sementara untuk pegawai wanita, paparnya,  mengenakan baju muslimah putih dipadukan celana atau rok hitam atau gelap. Sementara kerudungnya berwarna putih polos. “Bagi pegawai non muslim bisa menyesuaikan dengan pakaian atasan putih dan bawahan hitam atau gelap juga. Yang jelas semuanya tetap menggunakan atribut Kartu Tanda Pengenal Pegawai,” bebernya. (jam).

 

Anggota PWI Saat Bertemu Kapolres

BANYUWANGI (KoranTransparansi.com) – Pernyataan sikap Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Banyuwangi terhadap maraknya teror  membuat PWI Banyuwangi langkah tegas terhadap jajaran Polri.

Bahkan,  Kapolres Banyuwangi, AKBP Donny Adityawarnan hingga merinding atas pernyataan sikap PWI yang dibacakan Ketua PWI Banyuwangi, Syafuddin Mahmud dihadapan Kapolres langsung.

“Wah saya sampai merinding atas pernyataan sikap PWI Banyuwangi ini. Terimakasih terimakasih atas dukunganya. Ini lihat tangan saya,” tandas AKBP Donny usai menerima rombongan PWI Banyuwangi, Selasa (15/5/2018) di Mapolres Banyuwangi.

Pernyataan sikap dari PWI Banyuwangi itu guna  menyemangati aparat kepolisian Banyuwangi agar tidak takut menghadapi pelaku teror meskipun menjadi target. Dorongan semangat  tersebut dilontarkan dalam lima butir pernyataan sikap resmi PWI yang dibacakan oleh Ketua PWI Banyuwangi Saifudin Mahmud.

Lima poin itu berisi tentang bela sungkawa para wartawan atas para korban aksi pengeboman di tiga gereja dan Mapolrestabes Surabaya. PWI juga mendukung penuh TNI – Polri dalam melakukan pengusutan dan penindakkan pelaku teror.

Ketiga, Polri terus disemangati agar tidak gentar memberantas rangkaian aksi teror meskipun menjadi target teroris. Para pemburu berita bahkan meminta kepada masyarakat agar tidak memposting berita hoax, foto dan video sarkasme terkait aksi terorisme maupun korban pengeboman. Terakhir, PWI Banyuwangi mendesak DPR RI segera mengesahkan RUU Anti Terorisme.

“Postingan berita hoax, foto dan video pengeboman justru membuat pelaku teror senang. Media dalam urusan itu sangat hati-hati agar berita yang ditulis dan foto yang dimuat tidak membuat korban yang selamat dan keluarganya traumatik. Sebab itu PWI sepakat untuk tidak memuat dan menyebar gambar sarkasme terkait terorisme,” ungkap Ketua PWI us$$ai memimpin orasi damai di dalam Mapolres Banyuwangi.

Aksi damai para pemburu berita ini digelar di bawah joglo Mapolres Banyuwangi yang diawali dengan orasi. Secara bergantian, Firdaus dari Radio Vis FM dan Muhammad Hujaini dari Banyuwangitimes menyuarakan kecamannya terhadap aksi pelaku teror di Surabaya.

Menurut keduanya, pengeboman justru membuat rakyat kian berani melawan teror dan pasang badan membela aparat kepolisian. “Hidup Polri, Hidup PWI, lawan teroris. Kami tidak takut pada teroris,” ujar keduanya secara bergantian.

Pekik dukungan yang dilontarkan likuran anggota PWI Banyuwangi ini membuat haru Kapolres AKBP Donny Adityawarman SIK. Di bawah kawalan Kasat Sabhara AKP Basori Alwi dan Kasubag Humas AKP Bahrul Anam plus penjagaan personil Satsabhara, pejabat tertinggi di Polres Banyuwangi mengajak para wartawan turut mencegah perkembangan sel terorisme.

“Informasikan segala kegiatan radikalisme, terorisme maupun kekerasan dalam bentuk lain kepada aparat agar segera ditindak. Apabila bisa diatasi lewat nasehat lisan rekan-rekan media, silahkan. Bila tidak segera laporkan kepada kami,” pintanya.

Kapolres meminta warga Banyuwangi tidak perlu takut menyikapi aksi teror. Masyarakat dipersilahkan melakukan aktivitas seperti biasa. Sementara aparat akan terus melakukan penebalan pengamanan untuk memberi jaminan rasa aman.

“Pintu masuk menuju Banyuwangi dari Situbondo, Jember, Bali melalui jalur darat, laut dan udara kita perketat dengan menggelar razia sepanjang siang dan malam hari,” bebernya. (ari).

Aksi damai kalangan wartawan ini ditutup dengan penggunaan rompi anti peluru kepada AKBP Donny Adityawarman dan AKP Basori Alwi. Simbol ini sebagai nasehat dari jurnalis agar aparat kepolisian tetap mawas diri dalam melakukan pengamanan dari aksi teror agar tak menjadi korban. (ari)

Aparat Saat Memeriksa Warga Dipintu Masuk Mapolres

BANYUWANGI (KoranTransparansi.com) - Untuk antisipasi gangguan terorisme pasca ledakan bom di Suarabaya, Polres Banyuwangi terus meningkatkan keamanan. Bahkan, pengetatan penjagaan di Mapolres Banyuwangi terus dilakukan. Senin (14/5/2018) kemarin pagi, penjagaan di pintu masuk Polres Banyuwangi benar-benar ketat.

Bagi warga yang mau masuk ke Polres diperiksa satu persatu. Sedangkan sepeda motornya diarahkan untuk parkir diluar Mapolres.

Kapolres Banyuwangi, AKBP Donny Adityawarman menyatakan kalau Polres Banyuwangi sudah melakukan beberapa langkah. Pertama melakukan deklarasi bersama seluruh eleman di Banyuwangi, seperti tokoh agama, Forpimda dan tokoh masyarakat. Untuk pemeriksaan warga yang mau masuk Polres diperiksa secara selektif sekali.

“Dalam  deklarasi tersebut, seluruh elemen mengutuk aksi terorisme tersebut dan menyatakan bahwa masyarakat tidak takut terhadap aksi-aksi tersebut. Karena kita bersama-bersama bergandeng tangan untuk melawan semua aksi terorisme,” tegas Donny kepada wartawan di Mapolres Banyuwangi, Senin (14/5/2018).

Dikatakan Kapolres, untuk antisipasi dilakukan beberapa penyekatan, razia dan kegiatan-kegiatan dilakukan hingga subuh tadi (Senin. 14/5/2018) dan hal ini akan berlangsung terus menerus, baik ke arah Jember, Situbondo maupun di penyebrangan dan pelabuhan-pelabuhan.”Kami bersama masyarakat terus melakukan razia di pelabuhan penyebrangan di Ketapang,” papar Donny.

Pengamana di gereja juga terus dilakukan pengetatan. Begitu juha di  Mapolres Banyuwangi. Kita antisapasi, kita melakukan selektif dan sekarang pemeriksaan terhadap orang yang mau masuk ke Polres. “Pengamanan termasuk di Gereja sudah kita lakukan bersama-sama sesuai komitmen kita kemarin, kegiatan di gereja kita lakukan bersama-sama beberapa elemen masyarakat hindu, budha maupun islam,” ungkapnya.

Ketika ditanya ada pelaku terorisme yang berasal dari Banyuwangi, Kapolres menyatakan kalau salah satu itu lahir di Banyuwangi. Tapi, sejak usia 20 bulan bayinya diasuh tantenya yang ada di Magetan. “Mereka dibesarkan di Magetan. Mulai SD hingga SMA ada di Magetan. Setelah itu kuliah kesehatan di Surabaya,” papar Kapolres.

Seperti diketahui,  Puji Kuswati, salah satu pelaku terorisme yang meledakkan bom  di Gereja Kristen Indonesia (GKI)n Surabaya itu adalah anaknya pengusaha Jamu tradisional di RT 3/RW 16 Dusun Krajan, Desa Tembokrejo, Kecamatan Muncar.”Memang sejak usia 20 bulan di asuh tantenya di Magetan,” ujar perwakilan keluarga pelaku, Rusiono.

Setelah diasuh di Magetan, keluarga di Banyuwangi jarang komunikasi. Bahkan, hendak menikah keluarga Banyuwangi menolak. Karena, calon suami Puji dimata keluarga terlihat beda, agak aneh begitu. “Terutama pemahaman soal keagamaan. Keluarga Banyuwangi tetap menolak, tapi Puji tetap nekad menikah,” ungkap Rusiono.

Dikatakan Rusiono, sejak menikah itu prilaku Puji mulai berubah. Mulai tertutup, jarang bergaul dengan keluarga, termasuk jarang pulang ke Banyuwangi. Dan, terakhir Puji pulang bersama keluarganya  pada Januari 2018 lalu. “Kalau pulang juga tidak pernah lama-lama dan jarang mau bergaul dengan keluarga,” paparnya. (ari) 

banner

Berita Terkini

> BERITA TERKINI lainnya ...