Banyuwangi

Syaharani dan ESQI:EF saat tampil di Ijen summer Jazz tahun 2016 lalu

BANYUWANGI (KT) - Akhir pekan ini, wisatawan yang berkunjung Banyuwangi akan dihibur pagelaran musik jazz pantai. Banyuwangi Beach Jazz Festival (BBJF) hadir kembali pada Sabtu, 2 September 2017.

Ajang yang telah digelar sejak 2013 tersebut biasanya digelar di Pantai Boom, Banyuwangi. Namun, tahun ini, pergelaran yang memadukan musik jazz, musik tradisional, dan suasana pantai itu digelar di Pantai Cacalan.

"Tahun ini digelar di Pantai Cacalan karena Pantai Boom masih tahap penataan untuk pengembangan marina atau dermaga yacht-yacht dari luar negeri yang akan bersandar di Banyuwangi," ujar Asisten Administrasi Pembangunan dan Kesra, Agus Siswanto. 

Pengisi acara yang ditampilkan tahun ini adalah musisi Jazz ternama Indonesia, Syaharani and Queenfireworks (ESQI:EF). “Kami ingin memberikan pengalaman berbeda di ajang jazz pantai tahun ini. Kalau biasanya yang tampil musik jazz rasa pop, kali ini akan lebih kental nuansa jazz-nya,” kata Agus.

Pengisi acara kali ini adalah Syaharani and Queenfireworks (ESQI:EF). Syaharani adalah diva jazz dengan rekam jejak panjang dan teruji. Syaharani membentuk grup ESQI:EF bersama Didit Saad, mantan gitaris grup band PLASTIK yang juga seorang  produsen musik dan sound engineer. Ada pula gitaris kawakan Donny Suhendra yang juga guru tersohor di bidang musik. “Syaharani dan kawan-kawan adalah satu dari sedikit musisi yang konsisten di jalur jazz. Semoga ini bisa menginspirasi anak-anak muda kami dalam bermusik,” ujar Agus.

ESQI:EF ini juga digawangi sejumlah musisi hebat nasional. Sebut saja Hentriesa Yulmedia seorang drummer nasional dengan segudang prestasi baik didalam maupun luar negeri. Bersama Elfas Secioria, Hentriesa ini sempat menelurkan lagu hits "Pesta". "Syaharani juga akan berkolaborasi dengan pelaku seni Banyuwangi, dengan seni kuntulan Banyuwangi yang kuat dalam perkusinya," ungkap Agus.

Pantai Cacalan yang bakal menjadi tempat perhelatan acara ini terletak di sisi utara yang berjarak hanya tiga kilometer dari pusat kota Banyuwangi. Pantai ini tengah dikembangkan menjadi destinasi wisata baru. Agar penonton bisa menikmati keindahan pantai, pentas jazz akan dimulai sejak pukul 15.00 WIB.

BBJF juga menjadi sarana unjuk kreasi bagi lima band pelajar yang terpilih lewat kompetisi Student Jazz Festival belum lama ini. Mereka akan tampil di atas panggung yang sama dengan Syaharani dan ESQI:EF. “Pasti menjadi pengalaman inspiratif bagi mereka,” kata Agus.

Banyuwangi Beach Jazz Festival sendiri merupakan bagian dari rangkaian Banyuwangi Festival 2017 yang digelar setiap tahun. Selain BBJF, nuansa musik jazz lain bakal digelar di kaki Gunung Ijen pada ajang Banyuwangi Ijen Summer Jazz, 6-7 Oktober mendatang. (jam)

Wabup Yusuf dan Kadis Pertanian Saat Menaiki Cikar Tempo Doelu

BANYUWANGI (KT) -Kesuksesan kegiatan Catle Market Festival (CMF) Banyuwangi benar-benar meriah dan sukses. Kehadiran Inspektorat Jenderal Peternakan dan Kepala Dinas Peternakan Jawa Timur membuat Kepala Dinas Pertanian Banyuwangi, Arief Setiawan optimis kegiatan serupa tingkat Jawa Timur kedepan bisa ditempatkan di Kabupaten Banyuwangi. Penutupan CMF ini dilakukan Wakil Bupati Banyuwangi, Yusuf Widyatmoko. Bahkan, Yusuf dan Arief menaiki cikar tempo doelu keliling ke stan-stan kandang sapi.

 

“Karena, kedepan kegiatan ini tidak hanya tolok ukur kontes sapi secara menyeluruh. Pada yang lain sebuah edukasi kepada masyarakat Banyuwangi. Apalagi sisi pembinaan kita mulai ada pemeritaan di beberapa kecamatan. Maka kami optimis kegiatan seperti ini kedepan bisa untuk kegiatan Propinsi Jawa Ttimur yang ditempatkan di Banyuwangi,” tandas Arief kepada wartawan usai acara CMF, Senin (28/8) petang.

 

Kegiatan CMF ini merupakan kegiatan serimonial saja. Tapi dari sisi pembinaan sudah mulai ada pemerataan beberapa kecamatan. Tidak pada sisi berat atau tidak paling berat, tapi pada sisi pembinaanya mulai berhasil. “Tidak ada yang ekstreem atau berlebihan. Jadi keberhasilan teman-teman dilapangan untuk membina selama setahun sebagai evaluasi kami. Selain itu, hal ini juga menjadi agenda khusus yang berbeda dengan kegiatan lainya. Ini menjadi agenda tunggal Banyuwangi festival  yang berbeda,” ungkapnya.

 

Menurut mantan Kadis Kebersihan dan Pertamanan itu,  konsepnya integrated, pertanian dan peternakan itu sendiri harapannya kedepan kegiatan ini bisa berlanjut. “Yang jelas, kegiatan ini cukup sukses dan berhasil,” papae Arief.

 

Dikatakan Arief, memang pihaknya ditarget dari pemerintah pusat terkait imunisator buatan atau sapi hasil IB atau pedet hasil IB setahun 45 ribu. Hal itu tidak main-main pusat memberikan target yang besar sekarang. Saat ini bulan Agustus saja hampir 29 ribu. Sapi pedet yang hasil IB hasilkan jenis limusin dan semental yang menjadi pavorit peternak. “Insya allah tahun ini nutut. Sebelumnya kita ditarget  32 ribu, dari pusat ada potensi lebih. Yang sasaran kita peternakan rakyat, tidak BUMD yang secara khusus menangani seperti itu.  Jadi kita lebih kepada peternakan rakyat. Bahkan, kedepan tidak hanya kualitas, tapi pada pemerataan pengembangbiakan sapi dari kecamatan bisa hidup,” bebernya.(jam)

Gelar Jalan Sehat Kemerdekaan dan Lomba Kebersihan

BANYUWANGI (KT) -Jalan sehat kemerdekaan dan lomba kebersihan serta senam perjuangan membuat jalan raya di Kertosari, Banyuwangi ditutup total. Karena, peserta jalan sehat kemerdekaan diikuti ribuan warga ditingkat kelurahan Kertosari. Bahkan, jalan sehat kemerdekaan itu dilepas Camat Banyuwangi, Yusdi Irawan yang didampingi Lurah Ketosari, Joko Handoko.


Selain jalan sehat kemerdekaan, senam perjuangan dan bazar itu juga dimeriahkan music klasik tanpa nama dari Kelurahan Singonegaran. Sementara antusias warga dalam mengikuti jalan sehat Kemerdekaan itu benar-benar memadati jalan utama Ikan Hiu tersebut. Ada puluhan hadiah yang akan dibagikan ke warga, seperti Kulkas dan Sepeda Gunung dan hadiah hiburan lainya. Kegiatan tersebut dalam rangka memperingati HUT RI ke-72.


"Yang jelas, kami merasa bangga kegiatan jalan sehat kemerdekaan, senam perjuangan dan bazar serta lomba kebersihan lingkungan ini berjalan dengan baik. Lomba kebersihan ini, kami mendukung Pemkab yang lima kali berturut-turut meraih penghargaan Adipura," tandas Lurah Kertosari, Joko Handoko disela-sela kegiatan tujuhbelasan itu, Minggu (27/8).


Selain itu, kata Joko, kegiatan ini sukses karena ada rasa kepedulian dari tokoh muda, meski warga dari luar Kertosari. Dia, ujar Lurah, memiliki rasa yang cukup dalam memperingati hari kemerdekaan tahun ini. Selain itu, ada partisipasi daru Universitas Banyuwangi (Uniba-PGRI) dan masyarakat Kertosari. "Kami juga merasa terimakasih kepada bapak Tri Sudaryono (Trijiwa) yang ikut partisipasi untuk kegiatan kami di Kertosari dan kami juga megucapkan terimakaih kepada Rektor Uniba, Teguh Sumarno," tandas Joko Handoko.


Jalan sehat kemerdekaan, bazar dan senam perjuangan tersebut dalam rangka memeriahkan HUT RI ke-72 tingkat Kelurahan Kertosari. Tujuanya, kita merajut kebersamaan dan kekeluargaan. "Kalau  selama ini kegiatah tujubelasan dilakukan di lingkungan, tapi tahun ini dilakukan ditingkat kelurahan. "Dengan wujud kebersamaan ini kedepan akan lebih baik lagi," paparnya.


Ketua Pantia, Abdul Sidiq mengaku bangga, karena kegiatan ini diikuti ribuan warga dari seluruh RT se wilayah Kelurahan Kertosari. "Alhamdulilah kegiatan ini sukses," ujar Ketua RT 01 Krajan itu. (jam)

Salah Satu Peselancar Layang Mancanegara Saat Tampil Dilaut

BANYUWANGI-Banyuwangi Kiteboarding and Wind Surfing International Competition dimulai hari ini, Sabtu (26/8) di Pulau Tabuhan, Banyuwangi. Sebanyak 30 peserta dari 14 negara bersaing menampilkan atraksi seluncur angin terbaik di ajang sport tourism ini.

 

Pulau Tabuhan Banyuwangi benar-benar menjadi surga bagi para peselancar angin. Para atlet dari mancanegara terlihat sangat menikmati suasana pulau berpasir putih tersebut. Hembusan angin yang kencang, ombak yang tidak terlalu besar yang dipadu dengan keindahan pulau menjadi kenikmatan tersendiri bagi para peselancar tersebut.

 

Seperti yang diungkapkan salah satu peserta Narapichit Pudla asal Thailand. Dia sangat senang bermain selancar angin di Pulau Tabuhan. Menurut dia, Pulau Tabuhan merupakan lokasi terbaik untuk bermain selancar angin di Indonesia. "Di sini kecepatan anginnya pas. Apalagi pulaunya sangat cantik. Lokasi yang paling bagus untuk bermain surfing di Indonesia," katanya. Pulau Tabuhan merupakan tempat ketiga di Indonesia yang pernah didatangi oleh Narapichit untuk bermain selancar angin di Indonesia, setelah Bali dan Pulau Bintan.

 

Narapichit merupakan pemenang juara kedua kategori freestyle di kompetisi ini pada tahun 2015 lalu. "Saya sudah dua kali mengikuti kompetisi di Pulau Tabuhan ini. Cuaca dan anginnya benar benar mendukung, Sangat menyenangkan," paparnya.

 

Pulau ini dikenal memiliki angin yang cocok untuk digelar selancar layang dan angin. Bahkan angin di Pulau Tabuhan memiliki karakteristik yang tidak dimiliki oleh tempat lainnya.

 

Hari ini, Narapichit beratraksi freestyle. Dia beberapa kali bermanuver menampilkan aksi terbang di atas air lalu melandai kembali dengan gerakan-gerakan akrobatik.

 

Selain diikuti peserta pria, kompetisi ini diikuti peserta wanita. Salah satunya Madlen Ernest dari Austria. Madlen menjadi yang terbaik di kelas maraton. Di kelas marton, para peserta diadu menjadi yang tercepat  berseluncur mengitari Pulau Tabuhan.

 

"Saya beruntung, meskipun saya sudah berlatih sebelumnya. Anginnya sangat bagus, membantu saya menambah kecepatan sehingga bisa jadi pemenang," kata Madlen.

 

Pulau Tabuhan sendiri merupakan sebuah pulau kecil tak berpenghuni yang masuk Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi. Hanya diperlukan waktu 20 menit untuk menuju ke Pulau Tabuhan dengan menggunakan perahu motor.
Pulau yang terletak di sisi Timur Kabupaten Banyuwangi ini menyimpan pesona yang indah. Pasir putih yang halus, air laut yang jernih dan biota laut yang menawan. Tak heran, banyak wisatawan yang pergi ke pulau ini untuk melakukan snorkeling dan diving.

 

Secara terpisah, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan sport tourism menjadi salah satu cara untuk mempromosikan pariwisata daerah. “Sport tourism efektif untuk mendorong wisata. Jadi kita dapat dua manfaat, pertama kunjungan atlet dan wisitawan penggemar olahraga air. Kedua, promosi destinasinya yaitu Pulau Tabuhan,” ujar Anas.

 

Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Wawan Yadmadi mengatakan, kompetisi berlangsung selama dua hari, 26-27 Agustus. Ajang ini melombakan berbagai kelas yaitu kategori racing (maraton), trapezoid, speed trial, freestyle dan big jump exhibition dengan memperebutkan hadiah menarik total Rp105 juta. “Hari ini kategori yang dilombakan marathon women and men serta freestyle. Besok dilanjutkan kategori lainnya," ujarnya. (jam)

Ribuan Warga Saat Menikmati Tumpeng

BANYUWANGI (KT) – Banyuwangi untuk yang kesekian kalinya kembali menggelar Festival Tumpeng Sewu 2017. Bukan hanya sebuah ritual adat, namun festival ini kini menjadi atraksi wisata Banyuwangi yang diminati wisatawan.

Festival Tumpeng Sewu digelar masyarakat Desa Kemiren, Kamis malam (24/8). Pada event ini ribuan masyarakat dari berbagai penjuru desa maupun wisawatan hadir di desa Kemiren untuk menikmati ribuan Tumpeng Sewu.

Sejak pukul 17.30 Wib, jalan menuju Desa Adat Kemiren telah ditutup. Semua warga yang ingin menuju desa ini harus berjalan kaki demi menghormati ritual adat ini. Sementara warga telah menyuguhkan ribuan tumpeng di sepanjang jalan.

Sekitar pukul 18. 00 Wib atau usai sholat Magrib, ritual ini mulai dilangsungkan. Di bawah temaram api obor, semua orang duduk dengan tertib bersila di atas tikar maupun karpet yang tergelar di depan rumah. Di hadapannya tersedia tumpeng yang ditutup daun pisang. Dilengkapi lauk khas warga Kemiren, pecel pithik dan sayur lalapan sebagai pelengkapnya. Usai kumandang do’a yang yang dibacakan sesepuh dari masjid di desa setempat, masyarakat mulai makan tumpeng bersama.

Tumpeng Sewu merupakan tradisi adat warga Using, suku asli masyarakat Banyuwangi, yang digelar seminggu sebelum Idul Adha. Sebelum makan tumpeng sewu warga akan di ajak berdoa agar desanya dijauhkan dari segala bencana, dan sumber penyakit karena ritual tumpeng sewu diyakini merupakan selamatan tolak bala.

Setiap rumah warga Using di Kemiren mengeluarkan minimal satu tumpeng yang diletakkan di depan rumahnya. Pagi harinya sebelum dimulai selamatan masal, warga telah melakoni ritual mepe kasur.

Suasana guyub dan kebersamaan pun terasa di sini. Meskipun saat makan tumpeng warga baru kali pertama bertemu.  Mereka hanyut dengan suasana yang penuh kebersamaan ini. “Ehm enak sekali boleh nambah dong. Karena saya tak pernah merasakan masakan ini,” kata Rina N J, yang berasal dari Jakarta ini.  

Gadis berjilbab ini mengaku sangat suka dengan pecel pithik ini. Meski baru pertama kali sudah kesengsem rasanya. Hal yang sama juga diungkapkan Marisa, gadis berkaca mata ini juga mengakui kelezatan makanan tradisional khas Banyuwangi ini. “Kalau boleh bungkus boleh dong, enak banget nich,” katanya.

Pelaksana tugas (Plt) Sekretaris Kabupaten Banyuwangi, Djajat Sudrajat mengatakan Banyuwangi terus konsisten mengangkat tradisi lokal Banyuwangi dalam balutan Banyuwangi Festival. Menurut Sekkab, tradisi ini menjadi salah satu daya tarik wisata yang banyak diminati wisatawan. Saat ini banyak travel yang membuat paket-paket wisata yang memasukkan atraksi budaya sebagai salah satu destinasinya.

“Kekhasan semacam ini banyak diminati wisatawan. Kami akan terus mendorong bentuk-bentuk wisata seperti ini. Karena wisata tradisi ini juga bisa memperpanjang lama tinggal wisatawan di Banyuwangi. Mereka yang setelah dari Gunung Ijen, atau sekedar mengunjungi Banyuwangi bisa menikmati dulu tradisi Kemiren,” tandas Djajat.

Dari waktu ke waktu Banyuwangi terus memperlebar sayap destinasi wisatanya. Mulai kesenian pariwisata syariah hingga ritual adat.  "Tradisi semacam tumpeng sewu ini akan memperluas segmentasi pasar turis mancanegara. Apalagi Banyuwangi sendiri telah bersiap-siap menjadikan bandaranya dapat dikases secara internasional,” katanya.

Sampai saat ini wisatawan Banyuwangi sendiri terus meningkat. Pada 2016 wisatawan mancanegara mencapai 70 ribu, dan wisatwan domestik sejumlah 4 juta juta orang. "Target kami tahun 2017 ini wisman tembus 85 ribu, dan domestik 4, 5  juta orang. Saat bulan ini sudah 3,4 jta wisatawan yang melancong ke Banyuwangi," beber Bramuda, Plt Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata Banyuwangi. (jam)

Orang-orang kembar ini mengikuti Festival Kembar

BANYUWANGI (KT) - Tidak hanya menggelar sederet even yang berlatar seni, budaya ataupun sport dan religi, Banyuwangi Festival juga menggelar festival unik dan lucu, yakni Festival Kembar, Jumat (25/8). Sebanyak 350 orang kembar saling beraksi menunjukkan diri sebagai pasangan yang paling identik.


Apa jadinya bila ratusan orang kembar berkumpul bareng. Saat bertemu, para pasangan kembar itu saling sapa dan tersenyum malu. Meski tak saling kenal, mereka saling melirik keidentikan pasangan lain.


Seperti yang dilakukan pasangan kembar Nurul Yaqin dan Ainul Yaqin. "Lucu ya, ternyata banyak juga anak kembar di Banyuwangi. Lihat orang wajahnya mirip ternyata lucu juga. Mungkin orang lain juga gitu ya lihat kami," ujar Ainul (16).


Festival kembar digelar di halaman depan Gedung Seni Budaya (Gesibu) Kabupaten Banyuwangi. Festival ini diikuti pasangan kembar dari seluruh penjuru Banyuwangi dari beragam usia, mulai usia 5 bulan hingga 84 tahun. Mereka bersama-sama mengikuti beragam acara menarik yang telah disiapkan panitia. Mulai dari lomba selfie, lomba kembar identik dan lomba kembar sehat.


Lucu dan menggemaskan melihat anak anak balita mengikuti lomba foto. Bukannya fokus memperhatikan kamera, mereka malah sibuk dengan mainannya. Ada yang main mobil-mobilan, puzzle, dan masih banyak lagi. Tingkah mereka ini membuat peserta lain ikut gemas melihatnya.
Keunikan acara ini juga tampak saat melihat pasangan kembar tertua berpose di depan kamera. Adalah Umrah dan Umnah, pasangan kembar berusia 84 tahun dari Desa Kaotan, Kecamatan Blimbingsari. Ekspresi dua nenek yang datar ini justru membikin gemes semua orang yang hadir di acara itu. "Senyum dong mbah, jangan kaku," goda panitia.


Umrah mengatakan senang ada festival kembar. Dari dulu belum pernah ada acara seperti ini. Bahkan, sebagai pasangan kembar tertua, dia dan saudara kembarnya mendapatkan hadiah berupa uang tunai dari panitia. "Alhamdulillah, kulo seneng. Hadiahe ajenge kula damel kirim doa bapakke (Alhamdulillah, saya senang. Hadiahnya mau dipakai untuk selamatan almarhum suami saya," kata Umrah. Umrah mengaku mereka sejak kecil hingga setua ini tidak pernah terpisah jauh.


Festival ini juga menjadi ajang bagi orang tua anak kembar untuk saling berbagi cerita. Seperti yang dituturkan Rihana, ibu muda asal Desa Gitik, Kecamatan Rogojampi. Dia mengungkapkan festival ini sebagai ajang untuk menambah ilmu bagaimana membesarkan anak kembar. "Tadi ketemu ibu-ibu yang anaknya sudah 10 tahun. Tadi saling cerita serunya mengasuh bayi kembar. Saya juga nanya bagaimana nanti kalau anak-anak sudah sekolah. Pokoknya seru acara ini," ujar ibu yang putri kembarnya berusia 3 tahun.


Asisten Administrasi Pembangunan dan Kesra Agus Siswanto yang membuka acara ini mengatakan Festival Kembar ini sengaja digelar untuk memberi warna dalam rangkaian Banyuwangi Festival. "Selama ini kan sudah biasa ada festival seni, budaya ataupun religi. Nah lewat festival ini, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas ingin memberikan warna yang unik dan menarik bagi masyarakat. Ini karena Pak Anas melihat ada ratusan orang kembar di Banyuwangi, sehingga tercetus acara ini," kata Ague.


Ke depan, imbuh Agus, festival ini akan menjadi potensi pariwisata baru bagi Banyuwangi. Dengan gelaran ini pasangan kembar dari berbagai nusantara pasti akan tertarik untuk daang ke Banyuwangi. "Festival kembar ini kan tidak dibatasi dari mana asalnya, sehingga punya peluang untuk menarik pasangan kembar dari manapun, termasuk luar negeri tertarik mengikuti festival kembar," ujarnya. (jam)

banner

Berita Terkini

> BERITA TERKINI lainnya ...