Banyuwangi

Peserta Ijen Green Run Menikmati Kopi Bersama Bupati Anas

BANYUWANGI (Korantransparansi.com) – Sebanyak 732 pelari meramaikan trail run Banyuwangi Ijen Green Run yang melintasi lereng Gunung Ijen, Banyuwangi, Minggu (8/4). Para peserta disuguhi keindahan alam kawasan Taman Wisata Alam Gunung Ijen di sepanjang rute. 

Lomba lari ini diikuti oleh peserta manca negara dan dari berbagai kota di Indonesia. Tercatat ada peserta dari Kenya yang merupakan salah satu negara penghasil pelari di dunia, Prancis, dan Belgia. "Diikuti pelari dari 14 negara. Pesertanya juga 50 persen dari luar Banyuwangi. Berlari menyusuri Ijen memang pengalaman yang menyenangkan," kata Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas usai ikut berlari. Hadir dalam acara ini, mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan. 

Lomba lari ini mengambil start di lapangan Tamansari, Kecamatan Licin, Banyuwangi yang merupakan pintu gerbang memasuki kawasan Gunung Ijen. Para peserta pun memulai start  di pagi hari dengan suhu 22' celcius. Bisa dibayangkan bagaimana sejuknya berlari menyusuri Ijen di pagi hari. 

Banyuwangi Ijen Green Run terdiri atas tiga kategori, yaitu kelas 6 KM, 18 KM, hingga 33 KM. Para pelari dalam ajang sport tourism ini tak hanya disuguhkan panorama alam yang hijau dan menakjubkan, tapi juga suguhan kultur kehidupan ala masyarakat pegunungan. Bahkan sebelum dilepas, para pelari diajak mencicipi minuman legen (air enau) oleh Bupati Anas. 

Para peserta menyusuri jalur yang melalui cukup menantang, mulai dari tanjakan, turunan yang curam sampai menyeberangi sungai. Rute yang dilalui juga dilewati pemukiman warga desa. Beberapa warga bahkan menyambut para pelari dengan menghidangkan aneka camilan tradisional seperti pisang rebus, ubi, dan kacang rebus.

"Ayo mampir minum teh hangat. Ini ada polo pendem (umbi-red). Tidak usah sungkan," ujar Darsono, warga yang pekarangan rumahnya dilewati rute Green Run kepada salah satu peserta. 

Para pelari puas dengan ajang ini. "Kalau saya lari di Belanda rutenya selalu flat. Tapi di sini menyenangkan. Saya tadi lewat hutan, ada suara-suara alam yang enak didengar. Menyenangkan dan indah sekali di sini," kata Daley Lievense, dari Middelburg, Belanda. 

Daley mengaku beruntung bisa liburan ke Banyuwangi saat ada event Banyuwangi Ijen Green Run ini. "Dari event ini, setelah kembali ke Belanda saya bertekad mau berlatih lari maraton. Event ini membuat saya jadi cinta olahraga lari," ujar Daley.

Tak salah apa yang diucapkan. Para pelari di trail run ini melewati rute yang indah meski menantang. Sejak start, pelari langsung bekerja keras karena harus melalui tanjakan sepanjang 500 meter. Mengharuskan pelari pintar mengatur tenaga. 

Salah seorang pemenang Ijen Green Run kategori 18K Master putri asal Gianyar Bali, Ni Made Honey, juga terkesan dengan rute yang dilaluinya. ”Suasana dan pemandangannya indah. Rute ini enak, secara teknis rutenya dirancang pelari seperti kita masih bisa terus berlari meski banyak tanjakan," kata Ni Made.  

Bupati Anas mengatakan, pihaknya terus mendorong pengembangan sport tourism (olahraga berbalut pariwisata). Banyuwangi sangat cocok dikembangkan untuk sport tourism, mengingat potensi alamnya yang mendukung. 

”Ini merupakan cara kreatif untuk mempromosikan daerah. Kami juga konsisten menggelar event berbasis komunitas, salah satunya lari ini. Olahraga lari saat ini kian diminati karena telah menjadi bagian dari gaya hidup sehat masyarakat,” ujar Anas.  (ari)

 

Bupati Anas Didampingi Istrinya Ikut Memancing di Atas Perahu

BANYUWANGI (KOrantrasparansi.com) - Luar biasa. Itulah Banyuwangi Fishing Festival yang diadakan untuk pertama kalinya dalam rangkaian Banyuwangi Festival dibanjiri para peserta. Lomba memancing di perairan Selat Bali ini, tidak hanya diikuti peserta dari Banyuwangi saja. Tapi, animo peserta juga datang dari para penghobi mancing asal luar kota.

“Pesertanya banyak yang datang dari luar kota. Ada yang dari Tangerang, Jakarta, Surabaya. Ada juga yang dari Sampang, Bali, Jember dan juga dari maniak mancing lokal,” ungkap Kepala Dinas Perikanan dan Pangan Kabupaten Banyuwangi Hary Cahyo Purnomo saat pembukaan Banyuwangi Fishing Festival di Grand Watudodol, kemarin.

Secara keseluruhan peserta terdiri dari 675 orang. 200 diantaranya merupakan peserta yang memancing di daerah pinggir. Sedangkan yang 475 peserta lainnya, memilih spot pancing di tengah. “Saat pendaftaran kita, tutup, sebenarnya masih ada sekitar 300 an peminat. Namun, memang kita batasi mengingat ketersediaan perahu di lokasi setempat," kata Hary. 

Menurut Hary, salah satu yang menjadi daya tarik para pecinta mancing untuk ikut Lomba Mancing ini adalah spot mancingnya yang menarik. Posisi Selat Bali bagian utara ini berbatasan dengan Laut Jawa, sehingga meungkinkan banyak golongan ikan demersal, ikan laut dalam seperti ikan cakalang dan ikan putihan. “Adrenalin para maniak mancing ini, lebih tertantang dengan spot-spot mancing yang demikian,” ungkapnya. 

Sementara itu, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas yang membuka acara, tak menyangka event lomba mancing ini dapat menarik minat peserta yang besar. “Ini bisa jadi event pariwisata yang menarik. Mancing ini merupakan hobi yang banyak pecintanya juga,” paparnya.

Anas menambahkan, kegiatan seperti Banyuwangi Fishing Festival ini, merupakan bagian dari upaya Banyuwangi untuk menjaga kelestarian laut Banyuwangi. “Dengan banyaknya titik pantai yang bisa menjadi tempat wisata seperti ini, maka akan terbentuk kelompok sadar wisata yang ikut menjaga pantai dan ikut serta membersihkannya,” jelasnya.

Banyuwangi Fishing Festival ini sendiri sengaja digelar pada bulan April karena menjadi bagian dari peringatan Hari Nelayan yang jatuh setiap tanggal 6 April. Untuk itu, panitia tidak hanya sekadar menggelar lomba mancing, tapi juga disisipi dengan misi menjaga laut. Para peserta terlebih dahulu diberikan paparan tentang cara memancing yang ramah lingkungan dan menggunakan alat-alat pancing yang juga ramah lingkungan. 

Selain itu, para peserta juga dibekali dengan kantong sampah untuk memunguti sampah plastik yang ada di lautan. “Nanti pulangnya, sampah yang dikumpulkan di tengah laut disetor ke panitia. Ini akan menjadi bagian dari penilaian,” imbuh Hari Cahyo. (ari)

 

Silaturahim Manajement Aston Hotel Banyuwangi dengan Dinas Pariwisata Banyawangi

 

BANYUWANGI (Korantransparansi.com) - Sebagai pendatang baru bidang pariwisata di Bumi Blambangan, manajemen Aston Banyuwangi Hotel & Conference Center bersilaturahmi ke Dinas Pariwisata pada (6/4) kemarin. Kunjungan ini dalam rangka menjalin hubungan baik serta sebagai wujud dukungan penuh Aston Banyuwangi Hotel & Conference terhadap program-program Dinas Pariwisata Banyuwangi ke depannya.

Kedatangan managemen Aston Banyuwangi Hotel & Conference Center ke dinas Periwisata disambut langsung oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi, M. Yanuarto Bramuda. Pria yang kerap disapa Bram ini juga memaparkan bahwa akan ada berbagai festival di sepanjang tahun 2018.

Selain itu, Banyuwangi merupakan salah satu destinasi wisata tujuan peserta IMF Conference pada Oktober mendatang. " Pasti banyak tamu dari manca negara maupun lokal akan datang ke Banyuwangi yang akan melihat festival festival budaya maupun berwisata," ujarnya.

Bram juga menjelaskan bahwa Dinas Pariwisata telah melakukan penyebaran brosur ke beberapa Negara dan telah mencantumkan Aston Banyuwangi Hotel & Conference Center sebagai salah satu hotel terbaik pilihan wisatawan.

“Hotel Aston Banyuwangi selalu kami cantumkan dalam brosur resmi Dinas Pariwisata Kabupaten Banyuwangi sebagai salah satu hotel terbaik yang dimiliki Banyuwangi dan telah di sounding ke lebih dari 180 negara.” Ujar Bram. 

Sejalan dengan padatnya kegiatan di Banyuwangi dari awal tahun 2018 hingga di penghujung tahun nanti. Manajemen Aston Banyuwangi Hotel & Conference Center siap memberikan dukungan penuh terhadap berbagai program-program Dinas Pariwisata Banyuwangi dan turut serta menyukseskannya.

“Kami siap mensupport setiap acara Dinas Pariwisata serta Pemerintah Banyuwangi dalam rangka memajukan pariwisata di Indonesia khususnya Banyuwangi, ujar Yosi Arivianto General Manager Aston Banyuwangi Hotel & Conference Center. 

Lebih lanjut Yosi mengatakan, kami juga siap memberikan kualitas tempat menginap terbaik bagi para wisatawan dan businessman yang bertandang ke Banyuwangi. Aston Banyuwangi Hotel & Conference Center sendiri telah mempersiapkan 123 kamar dengan karakteristik khas Banyuwangi serta fasilitas lainnya seperti Gym, coffeeshop, ruang meeting, ballroom yang besar, dan fasilitas dengan standar terbaik lainnya. " Yang jelas kami berikan pelayanan terbaik buat tamu yang datang ke Banyuwangi," Ujar Yosi. (ifr)

 

 Rommy Saat Berada di  Mal Pelayanan Publik Banyuwangi

BANYUWANGI (Korantransparansi.com) - Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas pamerkan program Smart Kampung ke anggota DPR RI dari Komisi XI, Romahurmuziy, yang mengunjungi Banyuwangi. Anas mengajak Gus Romi, panggilan akrab Romahurmuziy melihat langsung program Smart Kampung di Desa Blimbingsari, Banyuwangi, kemarin.

Anggota DPR RI ini diajak melihat berbagai pelayanan ditingkatkan desa yang berbasis Teknologi Informasi (TI) ini, . Dikatakan Bupati Anas, sejak diluncurkan Mei 2016 silam oleh Menkominfo Rudiantara, saat ini sudah 133 desa teraliri internet berbasis serat optik (fiber optic).

”Ada tujuh kriteria ”Smart Kampung”, yaitu pelayanan publik, pemberdayaan ekonomi, pelayanan kesehatan, pengembangan pendidikan dan seni-budaya, peningkatan SDM, pengentasan kemiskinan, dan melek informasi hukum. Semua itu ditopang TI,” jelas Anas saat menunjukkan program tersebut ke Romahurmuziy.

Program ini, lanjut Anas, berhasil menjadikan desa melakukan berbagai inovasi. Mulai dari program kesehatan, pelayanan administrasi publik, hingga pengelolaan wisata. ”Inovasi layanan pun makin beragam. Ada kantor desa buka malam hari, ada yang buka Sabtu-Minggu. Ada desa yang punya ambulans hasil modifikasi, ada desa yang Bumdesnya menggandeng Bulog memasarkan kebutuhan pokok warga. Kini antar desa berkompetisi memberikan yang terbaik bagi warganya,” ujar Anas.

Bupati Anas juga menerangkan, desa menjadi ujung tombak pelayanan. Desa dan kepala desa tidak hanya dijadikan sorotan terkait besarnya dana desa dari pusat dan alokasi dana desa dari pemerintah daerah, tapi juga harus diberdayakan dan dipercaya. Smart Kampung memberi instrumen bagi pemerintah desa untuk berinovasi melayani warga, sekaligus dari sisi akuntabilitas cukup bagus karena ada e-village budgeting. 

Mendengar penjelasan Anas, Romi mengaku takjub dengan pelayanan yang menyasar hingga pedesaan. Transparansi publik terlihat jelas di Smart Kampung ini. Penggunaan Teknologi Informasi (TI) bisa dimanfaatkan untuk kegiatan penunjang kontrol dan pengawasan anggaran APBD hingga di tingkat bawah. "Masyarakat bisa melihat langsung pengguna dana desa dan besaran nilainya. Tak hanya itu, ini ruangan seperti lobby hotel. Karena kalau biasanya di desa ya standar saja," ujarnya. 

Romi mengaku jika semua daerah memiliki Smart Kampung, anggaran dana desa dari pemerintah pusat akan bisa terserap dengan baik. Kontrol program ini menyatu dengan program pemerintah pusat untuk kesejahteraan rakyat di tingkat desa. "Sesuai dengan Nawacita Presiden. Ini program untuk mengawal pembangunan dari pinggiran," papar Rommy. Dalam kesempatan itu, Anas juga mengajak Romi melihat Mal Pelayanan Publik, sebuah mal yang mengintegrasikan 153 jenis pelayanan publik. (ari)

 

 Rini Saat Menaiki Alat Pertanian di Panen Raya

BANYUWANGI (Korantransparansi.com) - Menteri BUMN Rini Soemarno melakukan panen raya padi di  areal persawahan Desa Pondoknongko, Kecamatan Kabat, Banyuwangi, Jumat (6/4). Selain panen, Rini datang untuk memastikan gabah hasil panen terserap dengan harga yang menguntungkan petani.

Rini memanen padi di lahan seluas empat hektar bersama 50 petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Sumber Kedawung. Lahan tersebut menghasilkan gabah hingga 7-7,5 ton per hektar, di atas rata-rata nasional yang berkisar 6 ton per hektar. Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas turut mendampingi Rini.

"Saya senang padi Banyuwangi yang kita panen  kualitasnya bagus. Dalam satu hektar, hasilnya di atas rata-rata. Kadar airnya juga rendah. Dengan kualitas ini, harga gabah petani bisa tinggi. Semoga Banyuwangi bisa terus mempertahankan produktivitas padi yang baik ini," kata Rini usai melakukan panen.

Selain memanen padi, Rini melihat langsung penyerapan gabah yang dilakukan oleh perusahaan BUMN PT Pertani. Program serap gabah ini adalah program BUMN untuk membeli gabah petani dengan harga yang bagus untuk petani. Pada serap tersebut gabah dibeli dengan harga Rp. 4400 per kilogram.

PT Pertani dan BNI pada Maret 2018 mulai melaksanakan program penyerapan gabah di Banyuwangi, berkolaborasi dengan dinas pertanian setempat. “BUMN tampil ikut menyerap gabah petani agar petani sejahtera. Alhamdulillah di sini penyerapan gabah optimal,” ujar Rini.

Ketua Kelompok Tani Sumber Kedawung Banyuwangi, Supardi, mengatakan, gabah yang dipanen oleh kelompoknya biasanya dijual Rp4200 per kilogram ke swata. Namun pada panen raya ini, PT. Pertani memberikan harga sebesar Rp4.400 per kilogram. "Alhamdulillah lebih menguntungkan daripada dijual ke penggilingan swasta," katanya.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, pihaknya terus mendorong produktivitas padi. Produksi padi rata rata Banyuwangi 806.826 ton per hektar atau setara beras 506.202 ton. Banyuwangi setiap tahunnya mengalami surplus beras rata rata 360 ribu ton.

"Target serap gabah di Banyuwangi juga berjalan baik. Bahkan pada 2017 lalu Bulog berhasil menyerap melampaui target hingga 128,6 persen atau 81.395 ton setara beras, dari target yang hanya 63.300 ton. Tentu dengan tambahan penyerapan dari PT Pertani, akan semakin banyak lagi. Terima kasih kepada BUMN," ujar Bupati Anas.

Pada kesempatan tersebut Menteri Rini juga mengunjungi pabrik penggilingan gabah milik Pertani di Kecamatan Muncar. Di tempat tersebut, Menteri Rini melihat langsung bagaimana pemrosesan padi dilakukan. Mulai proses penjemuran, pengeringan dan penggilingan gabah, hingga proses pengemasan berasnya. (ari)

 

Rini Saat Melihat Beras Merah di Banyuwangi

BANYUWANGI (Korantransparansi.com) - Menteri BUMN Rini Soemarno melakukan kunjungan kerja di Kabupaten Banyuwangi, Jumat (6/4). Tiba di Bandara Banyuwangi, Rini mengunjungi sejumlah titik di kabupaten berjuluk The Sunrise of Java tersebut dengan didampingi Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas.

Di antaranya ke Desa Pondok Nongko untuk mengecek penyerapan gabah. Di sana, Rini juga diperkenalkan ke produk beras organik khas Banyuwangi, yaitu beras merah organik, hitam organik, dan beras germanasi.

“Ini produksi kelompok tani dari Kecamatan Singojuruh Banyuwangi, Bu. Sudah ada 100 hektare, dan sudah diekspor ke Eropa dan Amerika Serikat, serta mengisi pasar di kota-kota besar. Harganya lebih bagus dibanding beras biasa, sehingga petani bisa lebih sejahtera,” kata Anas kepada Rini.

Anas menjelaskan, ada tiga varietas tanaman padi organik Banyuwangi yang sudah terdaftar sebagai padi asli Banyuwangi di Kementerian Pertanian. Sejumlah kelompok tani telah mendapat sertifikasi produsen beras organik yang bebas pestisida dan pupuk kimia berdasarkan pedoman SNI.

“Pemkab Banyuwangi juga membuka lahan percobaan pengembangan beras organik menggunakan dana APBD,” papar Anas.

Penasaran, Rini pun memborong beras merah dan hitam organik produksi kelompok tani Banyuwangi itu. Satu lagi yang dibeli adalah beras germinasi, beras yang telah melalui proses aktivias berbagai enzim di dalam beras pecah kulit, sehingga semua kandungan gizinya dioptimalkan. “Wah saya beli ya, Pak. Ternyata di sini ada beras hitam. Saya beli semuanya, tiga-tiganya beras ini ya. Saya senang mengonsumsi yang organik-organik,” ujar Rini.

Sebelumnya, Rini melakukan pengecekan harga komoditas, termasuk harga beras yang didistribusikan BUMN seperti PT Pertani, di Pasar Rogojampi. "Harga beras Pertani di sini berapa?" tanya Rini kepada Intan, pemilik toko. Intan menerangkan, harga beras Pertani Rp 9.250 per kilogram. Di toko tersebut, Rini juga membeli roti dan keripik pisang khas Banyuwangi. 

Rini lalu menyambangi beberapa pedagang di sepanjang pasar. Saat melewati pedagang jajan tradisional, Rini berhenti karena melihat ada lupis, jajanan yang terbuat dari beras ketan dengan taburan kelapa parut dan saus gula merah. "Bu, saya pengen lupis. Ini jajanan favorit saya sejak kecil. Saya beli ya, Bu," kata Rini sambil mencoba dua potong lupis. 

Tidak hanya itu, Rini membeli jagung manis, tahu, dan cabai rawit. "Saya bawa ke Jakarta, mau saya masak," kata Rini. Rini menjelaskan, tujuannya turun ke pasar adalah mengecek harga beras yang dijual oleh BUMN Pertani yang dinstruksikan untuk menjual beras di bawah harga eceran tertinggi Rp9.450 per kilogram. "Ini kita cek langsung. Alhamdulillah hasilnya sesuai yang diinstruksikan. Kami minta masyarakat mengawasi. Jangan nanti menterinya pergi, harganya naik," tandasnya. (ari)

 

banner

Berita Terkini

> BERITA TERKINI lainnya ...