Banyuwangi

Nampak budi duduk di kursi pesakitan.

BANYUWANGI, KT – Sidang  lanjutan kasus  spanduk bergambar palu arit kembali di gelar, Jaksa Penuntut Umum (JPU) menghadirkan dua orang saksi dalam persidangan kasus demo berlogo palu arit Pesanggaran Kabupaten Banyuwangi di Pengadilan Negeri (PN) Banyuwangi, Jawa Timur, Selasa (17/10/2017).

Dia adalah Basyori Saini, sopir saat saksi sebelumnya, Manager External Affairs PT Bumi Suksesindo (PT BSI), Bambang Wijonarko, dan Makinudin, karyawan PT BSI sekaligus Ketua Majelis Wakil Cabang (MWC) Nahdlatul Ulama (NU) Kecamatan Pesanggaran.

Kepada Majelis Hakim, Basyori mengaku melihat adanya spanduk bergambar mirip lambang Partai Komunis Indonesia (PKI) dalam demo, 4 April 2017, yang dikoordinatori Hari Budiawan alias Budi Pego tersebut. Bahkan, disore hari pasca aksi, spanduk berlogo palu arit dia ketahui terpasang dipohon Randu, didekat rumah warga di pinggir jalan.

“Saat itu, saya mengantar pak Bambang Wijonarko sekitar jam setengah 2 ke Banyuwangi, kembali sampai di Pesanggaran jam 4 sore dan masih ada spanduk dibeberapa tempat, antara 7 sampai 8 spanduk,” katanya.

Sementara itu, saksi Makinudin, menjelaskan pada Majelis Hakim bahwa dia tidak tahu-menahu tentang keberadaan spanduk berlogo palu arit.

Menanggapi pernyataan kedua saksi, penasihat hukum terdakwa, Ahmad Rifai SH, menilai seluruh keterangan masih sama dengan saksi sebelumnya. Bahkan, pengakuan saksi Makinudin dianggap sangat meringankan terdakwa.

“Kebetulan saksi kedua hari ini (Makinudin) adalah ketua MWC NU Pesanggaran. Karena didalam berkas perkara, ahli menerangkan bahwa komunisme itu anti Tuhan dan terdakwa ini beragama serta dia punya Tuhan. Itu poin yang kita garis bawahi,” ungkap Rifai kepada wartawan.

Usai mendengar keterangan kedua saksi dan juga membuka barang bukti spanduk yang di gunakan pendemo, Ketua Majelis Hakim, Putu Endru Sonata SH, kembali menunda persidangan hingga, Selasa 24 Oktober 2017. Dengan agenda lanjutan mendengarkan keterangan saksi dari jaksa penuntut umum. (ifr)

Bupati Saat Menemui Pasien di Rumah Sakit.

BANYUWANGI (KT) – Pemkab Banyuwangi akan memberikan santunan/biaya pengganti kepada keluarga penunggu pasien yang dirawat di rumah sakit/puskesmas. Rencana ini ditargetkan berjalan dalam dua bulan ke depan.

”Nantinya warga yang menunggu keluarganya dirawat di rumah sakit dapat semacam uang pengganti karena dia kan harus meninggalkan pekerjaannya sehari-hari. Jadi alhamdulillah, ini paket lengkap, biaya berobatnya sudah gratis, plus kita tambahi uang pengganti bagi keluarga yang menunggu,” ujar Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas.

”Kita sedang sinkronkan regulasinya, konsultasi ke pemerintah pusat dan BPK. Kita ingin berinovasi dengan tidak melenceng dari aturan keuangan negara,” imbuh Anas.

Anas mengatakan, kebijakan ini lahir dari evaluasi terhadap penanganan warga miskin yang sakit. Pemkab Banyuwangi sudah punya program ”Jemput Bola Rawat Warga” di mana petugas kesehatan mendatangi warga miskin sakit secara rutin.

Dari program tersebut, ada temuan beberapa warga enggan keluarganya dibawa ke RS, meski penyakitnya sudah dalam kondisi harus dirawat di RS. Warga enggan melepaskan keluarganya ke RS karena harus meninggalkan pekerjaan sehari-hari.

Sehingga, meski biaya pengobatan sudah gratis dalam skema Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) maupun fasilitas Pemkab Banyuwangi, warga enggan merelakan keluarganya dirawat di RS.
”Kan mereka ada yang buka warung kecil-kecilan. Kalau mereka menunggui keluarganya di RS, warung tutup, otomatis kehilangan pendapatan. Nah berapa hari kehilangan pendapatan itulah yang kami ganti. Kami ingin masyarakat mendapat perawatan dan perhatian optimal, tidak perlu bingung kehilangan pendapatan harian,” ujarnya.

Anas menambahkan, santunan/uang pengganti ini diberikan ke warga yang dirawat di kelas III atau menggunakan skema JKN-KIS dan skema surat keluarga miskin Pemkab Banyuwangi.

”Besaran angkanya sedang dihitung. Bisa Rp 50.000 per hari, bisa Rp 75.000 per hari. Jadi kalau keluarganya dirawat tiga hari, ya tinggal dikalikan. Saya pastikan ini dimulai dua bulan ke depan atau awal Januari. Total berapa miliar, pasti dianggarkan,” papar Anas.

Terkait mekanismenya, dibikin sesederhana mungkin. Misalnya, menyertakan KTP, kartu keluarga, dan surat keterangan dari rumah sakit/puskesmas. ”Kemudian diverifikasi dinas terkait, lalu dicairkan,” ujarnya.

Selain di RS/puskesmas di Banyuwangi, biaya pengganti diberikan kepada keluarga pasien yang harus dirujuk ke Surabaya. ”Di Surabaya sudah bisa menginap gratis di Rumah Singgah milik Pemkab Banyuwangi, dan kami tambahi ini untuk uang saku. Kalau yang dirujuk ke luar kota, nanti kami tambahi dananya,” ujarnya. (jam)

Ny Ipuk Anas dan Sekda Saat Berpoto Bersama Peserta Fashion.

BANYUWANGI (KT)  - Pelaku fashion di Banyuwangi seolah tak henti berkreasi. Setelah terakhir menggelar Banyuwangi Batik Festival pada 29 Juli lalu, kini mereka menghadirkan karyanya dalam Banyuwangi Fashion Festival (BFF). Sebanyak 75 busana diparadekan dengan menarik oleh para desainer asli Banyuwangi di halaman Mal Pelayanan Publik Banyuwangi, Sabtu (14/10).

Pada ajang pertama kali digelar ini, ada 9 desainer yang dilibatkan. Di antaranya Sanet Sabintang, Oliss, Rizkyesa Sauqi, Miftahur Ridho, Bagus, dan Almira. Selain itu ada Setya Nugraha, Amuzacku Fahim  dan IKM Sekar Jagad. Puluhan busana karya desainer Banyuwangi pun ditampilkan dengan apik. Mulai casual japanesse etnic, gaun kebaya, baju kantor, casual batik hingga busana muslim.

Seperti Bagus Saputro yang menyuguhkan busana pengantin dominan warna putih yang terkesan elegan dan mewah. Begitu pula Sanet Sabintang yang menampilkan warna-warni kain motif lurik.

Sementara Miftahul Ridho, menampilkan batik bernuansa biru yang menunjukkan semangat serta etos kerja yang tinggi untuk membangun Banyuwangi. Ada beragam variasi motif yang dipakai para desainer sebagai padu padan, di antaranya batik Gajah Oling, Kopi Pecah dan Kangkung Setingkes.

Acara ini dibuka oleh Wakil Bupati Banyuwangi Yusuf Widyatmoko. Yusuf mengatakan  dalam fashion ini  diikuti 9 desainer lokal. Mereka terdiri atas desainer profesional yang telah memiliki jam terbang di dunia fashion. Selain juga diikuti desainer pemula yang baru saja menapaki bidang fashion. “Kami menghadirkan desainer profesional amupun pemula agar bisa terjadi sharing ide, maupun tukar ilmu diantara mereka,” kata Wabup Yusuf. 

 
Para pengunjung pun tampak menikmati dan sesekali mengagumi setiap rancangan yang ditampilkan. Salah satunya adalah Sintia. Wanita asal Surabaya ini mengaku sangat menikmati even ini. "Terutama saya suka rancangan Bagus Saputro dan Amuzacki Fahim. Dua-duanya punya pilihan warna yang keren. Begitu juga dengan kreasinya dan padu padan bahan yang digunakan," ungkap Sintia.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan even ini salah satu upaya pemkab mendorong berkembangnya desain produk fashion dan memajukan industri mode di Banyuwangi. Termasuk juga bisa mendongkrak nilai tambah industri kreatif bidang fashion di Banyuwangi.

Diungkapkan Anas, acara ini dirancang setelah empat tahun pemkab menggelar even fashion yang melibatkan perancang dari luar. Diharapkan dia, setelah empat tahun ini, para desainer Banyuwangi telah siap tampil menunjukkan karyanya dalam even Banyuwangi Fashion Festival.

“Inilah panggung bagi perancang dan pengrajin fashion asal Banyuwangi. Panggung ini ibaratnya pemanasan bagi mereka, agar lebih percaya diri tampil di pentas yang lebih tinggi,” kata Anas dalam sambutannya lewat sambungan facetime. 

Anas pun berharap ajang ini menjadi jembatan bagi desainer untuk kancah yang lebih luas. “Untuk tahun pertama kita bisa lah memberikan batasan seperti ini, namun seriring bertumbuhnya industri mode di Banyuwangi, kami yakin akan banyak tumbuh desainer baru di tahun depan. Semoga ini menjadi pembuka jalan agar industri busana Banyuwangi semakin dikenal luas," ujar Anas.

Para perancang yang terlibat pun mengaku senang terlibat dalam acara ini. Bagi Ollis, acara ini sangat bermanfaat bagi para desainer asal Banyuwangi. "Saya menampilkan 10 outfit. Semua rancangan dan koleksi saya. Bahkan saya sampai lembur untuk membuat kebaya khusus acara ini," tutur Ollis. (jam)

Danrem 083 Kol. Inf. Bangun Nawoko (tengah), dan Letkol Innf. Roby Bulan kiri serta Letkol inf. Ruly memberikan salam Komando usai Sertijab (13/10/2017)

BANYUWANGI (KT) - Komandan Kodim 0825 Banyuwangi diserahterimakan dari pejabat  lama Letkol Inf Roby Bulan kepada penggantinya Letkol Inf Rully Nuryanto. Sertijab di pimpin Danrem 083/Bhaladika Jaya Kolonel Inf Bangun Nawoko, Jumat (13/10/2017)

Letkol. Inf. Roby Bulan selanjutnya  mendapat promosi sebagai Wakil Asisten Personel (Waaspers) Kodam Iskandar Muda Aceh. Sedangkan penggantinya Letkol. Inf. Ruli Nuryanto, yang sebelumnya menjabat sebagai Komandan Batalyon Infanteri (Danyonif) Raider 500/Sikatan Surabaya.

Letkol. Inf. Ruli Nuryanto  merupakan putra daerah asal Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu, Kabupaten Banyuwangi. Upacara serahterima jabatan berlangsung cukup meriah diikuti perwira dijajaran Kodim8 0825 Banyuwangi, Danramil dan pegawai negeri sipil dilingkungan Kodim.

DanRem 083/Bhaladika Jaya Kol Inf Bangu Nawoko nengatakan,  jabatan merupakan amanah sekaligus bukti kepercayaan pimpinan terhadap diri kita dalam mengemban tugas dan tanggung jawab organisasi dilingkungan TNI AD sekaligus  pembinaan personel dilingkungan TNI AD agar tetap dalam kondisi siap operasional.

"Kepada Roby Bulan kami sampailan penghargaan yang setingginya atas kinerjanya selama  dalam melaksanakan tugas dan jabatan Dandim 0825 dengan baik. Berbagai kegiatan telah dilaksanakan diwilayah Banyuwangi diantaranya program ketahanan pangan, terjalinnya hubungan silatruhmi yang baik dengan Toga dan Tomas serta komponen masyarakat lainnya diwilayah dan kegiatan lainnya," ujarnya.

Kepada Dandim Letkol. Inf. Ruli Nuryanto, Danrem Bangun Nawoko meminta   agar kegiatan-kegiatan tersebut dipertahankan dan ditingkatkan untuk mendukung tugas pokok kita sebagai satuan kewilayahan yang menjadi garda terdepan dalam bidabg teritorial.

"Saya ucapkan selamat datang Dandim yang baru Letkol. Inf Ruli Nuryanto  dan segera  menyesuaikan dengan tugas yang baru, kenali dan kuasai betul karakteristik wilayah, baik dari aspek geografi,

Dalam keaempatan itu Danrem 083 Kol Inf Bangun Nawoko juga berharap agar pejabat baru peduli dan peka terhadap perkembangan situasi dan kondisi nasional yang terjadi saat ini perlu kita sikapi dengan cermat dan seksama. (ifr)

Bupati Anas bersama Istri Didamping Arief Setiawan Bersama Warga Petani.

BANYUWANGI (KT) – Petani di lereng Gunung Ijen Banyuwangi kini memiliki penghasilan tambahan. Ini setelah mereka diajak Dinas Pertanian dan Peternakan Banyuwangi untuk memanfaatkan lahan Hutan Tanaman Industri secara tumpangsari. Salah satunya kini mereka berhasil memanen kentang hingga ratusan ton. Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar turut menyaksikan proses panen tersebut.

Pemkab Banyuwangi memanfaatkan lahan di lereng Gunung Ijen yang sejatinya merupakan kawasan Hutan Tanaman Industri untuk pertanian yang digarap oleh kelompok tani setempat. Salah satunya yang terletak di Dusun Bawonan, Desa Tamansari, Kecamatan Licin, yang menjadi lokasi panen kentang tersebut, Jumat (13/10). Berbagai tamanan sayur seperti kentang, bawang putih, cabai rawit, dan sayuran ditanam di lahan seluas 50 hektare tersebut.

“Pemkab mengajak petani setempat untuk bisa memaksimalkan lahan hutan tersebut. Selama jeda waktu penanaman pohon kembali,  petani kami ajak untuk menanam berbagai jenis sayuran agar mereka mendapatkan tambahan penghasilan. Salah satunya adalah tanaman kentang yang dipanen saat ini,” kata Bupati Anas.

Menurut Anas, dari keseluruhan areal hutan tanaman industri, lahan yang dimanfaatkan untuk pertanian tumpangsari seluas 50 hektar. Sebanyak 30 hektar ditanami kentang dan sisanya ditanami berbagai jenis sayuran seperti kentang, kol, cabai dan daun bawang. “Pertanian tumpang sari ini bisa berlangsung 2 sampai tiga tahun. Setelah pohon-pohon itu tumbuh besar, maka lahan di bawahnya sudah tidak bisa ditanami lagi karena sinar mataharinya akan tertutup oleh pepohonan,” beber Anas.

Ini merupakan pertama kalinya di Banyuwangi mengembangkan tanaman kentang. Dengan binaan Dinas Pertanian Banyuwangi, para petani yang tinggal di kawasan Gunung Ijen, Kecamatan Licin, panen ratusan ton kentang, Jumat (13/10). "Ini merupakan kawasan binaan pemerintah daerah, sehingga petani di sekitar Gunung Ijen ini, bisa mendapat tambahan pemasukan," ungkanya saat panen bersama petani.

Selain itu, Ijen yang merupakan sebagai destinasi favorit di Banyuwangi akan bertambah daya tariknya bila lahan di lereng Ijen bisa dimanfaatkan . Selain sayuran, rencananya pemkab akan mengembangkan taman bunga di sana. “Wisatawan yang turun Ijen, bisa menikmati suasanalahan sayuran di sana. Mereka bisa melihat lebih dekat beragam tanaman di sini. Setelah lihat sayuran, turun dikit mereka akan ketemu kebun kopi,” ujar Anas. 

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Arief Setiawan mengatakan ini merupakan pertama kalinya di Banyuwangi mengembangkan tanaman kentang. Tanaman kentang sendiri merupakan tanaman khas dataran tinggi, 700 meter diatas permukaan laut (mdpl). Lokasi areal penanaman kentang di Desa Bawonan ini berada di ketinggian 900 mdpl. “Kami memilih kentang untuk dikembangkan petani karena cocok dengan karakteristik tanahnya. Selain itu nilai ekonomisnya juga tinggi,” kata Arief.

Luas lahan kentang yang dipanen petani saat ini 15 hektare kentang, dengan per hektar menghasilkan sekitar 30 ton kentang. Dengan demikian panen kali ini petani memanen 450 ton kentang per masa tanam yang mencapai 90 hari. Dengan harga saat ini per kilogram kentang sebesarRp 6.200, tiap hektare tanaman kentang bisa menghasilkan Rp 246 juta. “Modal yang dibutuhkan perhektarnya sekitar Rp. 112 juta, keuntungan buat petani cukup bagus,” ujar Arief.

Ke depannya, selaian tanaman sayuran yang ditanam saat ini, dinas pertanian berama petani akan mengembangkan berbagai jenis buah-buahan khas dataran tinggi seperti strawberry dan jeruk manis. Begitu juga beberapa jenis bunga-bungaan. “Kami juga akan mengembangkan bibit kentang, karena lebih tinggi nilai ekonomisnya. Kami berharap kawasan ini juga akan ikut mendukung pariwisata untuk kawasan Ijen,” papar mantan Kadis DKP itu.(jam)

20 IKM Kerajinan Banyuwangi mengikuti pelatihan kusus

BANYUWANGI (KT) – Sebanyak 20 peserta pelaku IKM (Industri Kecil & Menengah) Kerajinan di Kabupaten Banyuwangi mengikuti pelatihan singkat selama lima hari mulai Kamis (12/10). Pelatihan teknis tersebut dimaksutkan untuk menumbuhkan dan mengembangkan usahanya agar lebih maju.

Pelatihan yang dilaksanakan hasil kerja bareng antara Kementrian Perindustrian RI  dan Pemkab Banyuwangi  dibuka Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan dan Pertambangan Kabupaten Banyuwangi, Drs Ketut Kencana Nirha Saputradi satu hotel  Desa Genteng Kulon Kecamatan , Genteng, Kamis (12/10/2017).

Ikut menyaksikan pembukaan pelatihan Irvan Kuswardana,Kepala Subdirektorat IKM Alat Angkut) Kementrian Perindustrian dan Perdagangan RI, perwakilan Bank Jatim Cabang Banyuwangi Arief Wicaksono dan H Azam Azman Natawijana , anggota Komisi Vl DPR RI.

Drs Ketut Kencana Nirha Saputra mengatakan,  Industri Kerajinan tangan di Indonesia memiliki pasar yang cukup besar. Sesuai data di Kementrian dan Ekonomi Kreatif , nilai ekspor industri kerajinan tangan di indonesia tercatat sebesar 15,5 triliun di tahun 2010 dan mencpai angka 21,7 triliun di tahun 2013.

Selain itu konsumsi yang berbasis rumah tangga untuk produk kerajinan tangan juga meningkat tiap tahunnya.  Dari hannya Rp 110,4 triliun di tahun 2010 menjadi Rp  145,2 triliun di tahun 2013.

“Peluang pasar yang ada di sektor industri kerajinan tangan ini di harapkan dapat dimanfaatkan oleh pelaku usaha kecil dan menengah di Kabupaten Banyuwangi, tegas Ketut Kencana.

Pihaknya meminta agar pelaku IKM Kerjainan  hendaknya memanfaatkan potensi  bahan baku yang berasal dari daerahnya dalam membuat produk kerajinan tangan yang tidak hannya memiliki nilai seni tetapi juga mempunyai inovasi yang tinggi dan berdaya saing.

Industri kecil dan menengah saat ini tersebar di 7.437 sentra di Indonesia berperan penting dalam sektor industri pengolahan karena mampu menyerap tenaga kerja paling banyak di banding sektor lain.

Tercatat pada tahun 2016 IKM telah menyerap tenaga kerja sebanyak 350.000 orang, untuk itu kementrian  Perindustrian menarjetkan terciptanya 20.000 wirausaha baru IKM pada tahun 2019.

Beberapa permasalahan yang dihadapi oleh IKM adalah kurangnya modal baik untuk operasional maupun dalam bentuk mesin peralatan. Kurangnya pengetahuan tehnis produksi, hingga terbatasnya akses pemasaran serta menejement pengelolaan yang masih tradisional.

Kementrian perindustrian melalui program progamnya berupaya untuk mangatasi permasalahan tersebut, diantaranya melalui program bimbingan tehnis dan pendampingan, restrukturisasi mesin pendampingan (yaitu peralatan) pemberian modal kerja berupa alat untuk wira usaha baru IKM (dengan persyaratan khusus) , fasilitas standarisasi prodak serta kompetensi SDM, sosialisasi HAKI dan kemasan, promosi serta perluasan akses pemasaran melalui e-Smart IKM

Kementrian Perindustrian dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan kabupaten Banyuwangi  akan membantu pengurusan izin utuk IKM serta memberikan pendampingan dan pembinaan dalam rangka pengurusan izin usaha maupun dalam sisi produsi IKM. (ifr)

banner

> BERITA TERKINI lainnya ...