Berita Utama

 Presiden Joko Widodo dan keluarga mengunjungi Tempat Hiburan Dunia Fantasi (Dufan) Taman Impian Jaya Ancol Jakarta Utara, Sabtu (2/6/2018). Foto oleh Biro Pers Setpres.

Jakarta (KoranTransparansi.com) - Presiden Joko Widodo mengajak keluarga termasuk cucunya, Jan Ethes, "ngabuburit" dan bermain di tempat hiburan Dunia Fantasi (Dufan) Taman Impian Jaya Ancol Jakarta,  Sabtu.  

"Tadi sore hari pas kosong diajak main ke sini. Biar tahu aja," ujar Presiden Jokowi seperti disampaikan Deputi Bidang Protokol, Pers dan Media Sekretariat Presiden Bey Machmudin.

Presiden tampak datang bersama Ibu Negara Iriana Joko Widodo, Gibran Rakabuming beserta Selvy Ananda dan Jan Ethes, serta Kahiyang Ayu beserta Bobby Nasution. Mereka tiba di Dufan sekitar pukul 15.50 WIB melalui gerbang karyawan. 

Sambil menggendong Jan Ethes, Presiden kemudian menuju ke wahana permainan pertama, yaitu Turangga Rangga sekitar pukul 16.00 WIB. Wahana ini adalah sebuah komedi putar yang dilengkapi dengan 40 kuda tunggangan serta dihiasi ribuan lampu.

Presiden yang mengenakan kemeja putih, celana hitam dan sepatu kets merah tampak duduk menggendong cucunya. Mereka pun melambaikan tangan dan melemparkan senyum kepada masyarakat yang menyapanya. Tak sedikit pula masyarakat yang meminta swafoto dengan Kepala Negara.

Selesai bermain komidi putar, Presiden kemudian mengajak cucunya masuk ke wahana Istana Boneka sekitar pukul 16.20 WIB. Setelah keluar dari Istana Boneka, Presiden kemudian menuju Dream Playground pada 16.54 WIB. 

Dream Playground merupakan wahana permainan anak terbesar di Indonesia. Dengan luas 900 meter persegi, wahana ini dilengkapi dengan berbagai fasilitas, di antaranya trampoline, soft play toys, wall climbing, futsal games, play panel, sand pool, sliding ride, block puzzle, education toys dan mini rides.

Selesai bermain di Dream Playground, dengan mengendarai golf car, Presiden kemudian menuju wahana Galactica. Setelah selesai di Galactica, Presiden dan keluarga menuju rumah makan yang berada di dekat Dufan. 

Presiden sempat bertemu dengan para jurnalis yang telah menunggunya. Kepada para jurnalis, Presiden pun menyampaikan kesannya tentang Dufan.

"Saya lihat semakin berkembang bagus. Dunia Fantasi semakin berkembang, semua wahana terpelihara dengan baik. Tempat yang bagus untuk mengajak anak kecil," kata Presiden.

Presiden pun mengajak para jurnalis untuk berbuka puasa bersama dengannya di rumah makan tersebut. Setibanya di rumah makan, Presiden tidak langsung ke meja makan yang telah disiapkan, tapi mengecek keberadaan wartawan terlebih dahulu.(rom)

 Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto (kiri) menerima hormat dari Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian (kanan) usai memberi sambutan dalam Safari Ramadhan 2018 di Mapolrestabes Surabaya, Jawa Timur, Kamis (31/5/2018).

Surabaya (KoranTransparnsi.com) - Bintara Pembina Desa (Babinsa) dan Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Babinkamtibmas) berperan sentral mencegah radikalisme di seluruh wilayah Indonesia, kata pimpinan Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto saat menghadiri kegiatan Safari Ramadhan di Markas Kepolisian Resor Kota Besar (Polrestabes) Surabaya, Kamis petang, menyebut serangkaian bom bunuh diri yang menyerang Kota Surabaya dan Sidoarjo, Jawa Timur, pada 13 - 14 Mei lalu, membuktikan bahwa radikalisme masih tumbuh di tengah masyarakat.

"Serangan itu menjadi bukti bahwa tindakan teror merupakan jalan perjuangan yang salah karena mencederai, merugikan dan menyakiti orang lain, termasuk anak-anak yang tidak berdosa," ujarnya.

Panglima menyerukan agar segenap masyarakat tidak boleh lengah karena ancaman radikalisme masih tumbuh.

"Diperlukan keterpaduan masyarakat dan aparat untuk membendung radikalisme dan aksi-aksi terorisme. Dibutuhkan kepedulian orang tua untuk melindungi anak-anaknya karena sudah banyak generasi muda yang terpapar oleh geraka radikalisme dan terorisme," tuturnya.

Lebih lanjut Panglima Hadi Tjahjanto menekankan Babinsa, sebagai salah satu kekuatan Komando Daerah Militer, serta Bhabinkamtibmas, yang merupakan kekuatan Kepolisian Republik Indonesia (Polri) di desa-desa, berperan sentral untuk mencegah radikalisme di Indonesia.

"Babinsa dan Bhabinkamtibmas harus merangkul masyarakat kontra radikalisme, harus bersatu padu. Kita tidak ingin negeri yang indah dan kaya raya ini hancur oleh gerakan radikalisme," katanya.

Dia meyakini gerakan radikalisme di Indonesia bisa dicegah jika seluruh lapisan masyarakat peduli.

Safari Ramadhan di Polrestabes Surabaya juga dihadiri Kepala Polri Jenderal Polisi Tito Karnavian. Dalam kesempatan itu Tito memastikan Polri telah bergerak cepat mengatasi serangan terorisme di Surabaya dan Sidoarjo. Di antaranya telah menangkap 41 terduga teroris yang diyakini terlibat dalam serangan bom bunuh diri di Surabaya.

"Kami bergerak cepat mengidentifikasi para pelaku agar besoknya pasca serangan bom bunuh diri di Surabaya dan Sidoarjo situasinya sudah normal kembali," ucapnya. (kh)

Anggota Komisi VIII DPR RI Yandri Susanto

 

JAKARTA (KoranTransparansi.com) - Sejumlah Anggota Komisi VIII DPR RI mendesak Menteri Agama untuk menghentikan rekomendasi atau rujukan 200 mubalig atau penceramah. Hal itu dimaksudkan untuk meredam kegaduhan dan mencegah pro kontra di masyarakat.

“Kalau rilis itu diteruskan akan sampai berapa ribu mubalig, dikhawatirkan akan ada yang tercecer dan bisa memecah belah umat,” tandas Anggota Komisi VIII DPR RI Yandri Susanto, saat Rapat Kerja dengan Menteri Agama, di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Kamis (24/5/2018).

Menurut mantan Anggota Komisi II DPR RI itu, penjelasan Menag soal rilis itu kurang clear, disebut bukan standarisasi dan bukan pula seleksi. Sepertinya Menag dipaksa untuk mengumumkan mubalig tersebut, padahal orang-orang yang masuk daftar belum dikonfirmasi. Dalam kaitan ini, bisa dibilang Menag sudah mencatut nama orang.

“Itu tanpa izin, enggak elok. Dan rilis itu pula bisa mengakibatkan munculnya pandangan masyarakat adanya ulama pemerintah. Bahkan yang masuk rilis tahap kedua bisa dinilai ulama KW dua dan seterusnya,” jelas politisi dari Fraksi PAN ini.

Untuk meredam semua itu dia minta sebaiknya rekomendasi itu tidak dilanjutkan, sebab banyak ulama atau dai di kampung, ikhlas dan tak mau ditampilkan. “Kalau ini dilanjutkan, saya khawatir stigma di masyarakat terbelah, ada yang diakui ada yang tidak sementara keilmuan ulama bukan negara yang memberikan, tapi umat,” tandas Yandri dengan menambahkan, banyak juga ulama atau ustad yang tawadu’ namanya tak mau disebut atau tampil, padahal masyarakat mengidolakannya.

Hal senada disampaikan Anggota Komisi VIII DPR RI Zulfadhli, rekomendasi mubalig dianggap pengalihan isu teroris bisa dipahami, karena sedang hangat-hangatnya soal teroris. Ia sangat menyayangkan kebijakan Menag tidak  dipikirkan akan berdampak luas di masyarakat. Namanya kebijakan, pasti punya dampak luar biasa, ada pro kontra. Tapi lanjutnya, ini banyak yang tidak mendukung termasuk Muhammadiyah, NU dan M

Daripada banyak mudaratnya, Zulfadhli mendesak untuk dihentikan. “Apalagi hanya rilis tidak ada yang kehilangan muka. Niatnya baik, tapi momennya tidak baik maka dicabut dan tidak diteruskan, selesai. Tapi kalau diteruskan dikhawatirkan akan makin besar masalahnya,” tambahnya.

Terkait alasan banyak permintaan, dia menanyakan apakah permintaan itu terdokumentasi. “Kalau hanya lewat telepon bisa saja itu dibuat-buat. Sebagai lembaga pemerintah, apapun usulan harus terdokumentasi. Misalnya dari masjid mana, pesantren mana, sampaikan datanya kepada DPR,” ujar politisi Partai Golkar itu.

Sedangkan Anggota Komisi VIII DPR RI Choirul Muna mengatakan, mestinya yang dirilis  adalah mubalig atau dai yang tidak tepat untuk menjadi penceramah, karena mengandung radikalisasi yang merugikan dan berdampak negatif kepada masyarakat. Menurutnya, dai yang positif banyak sekali, beribu-ribu jumlahnya.

“Mestinya yang dirilis dai yang menyebarkan paham radikal, dan Kemenag harus punya bukti-bukti bahwa dai itu tidak tepat, karena akan membawa dampak negatif di masyarakat,” pungkas politisi Partai NasDem itu. (rom)

 

 Presiden Joko Widodo ramah tamah dengan perwakilan Ketua OSIS, Ketua Pramuka dan Ketua Rois tingkat SM-SMK se-Jawa Barat di Lapangan Dirgantara Majalengka, Kamis.

Majalengka (KoranTransparansi.com) - Seorang pelajar SMA dari Kabupaten Indramayu yang menderita buta warna parsial, Anzal Ibrahim, mengeluh Kepada Presiden Joko Widodo terkait banyak jurusan yang mensyaratkan tidak buta warna.

"Mengapa banyak jurusan-jurusan yang melarang buta warna untuk masuk," kata Anzal saat acara ramah tamah Presiden dengan perwakilan Ketua OSIS, Ketua Pramuka dan Ketua Rois SMA-SMK se-Jawa Barat di Lapangan Dirgantara Majalengka, Kamis.

Atas pertanyaan ini, Presiden meminta Menteri Pendidikan dan kebudayaan Muhadjir Effendi untuk menjelaskan.

"Memang ada kebijakan dari sekolah dan Perguruan Tinggi untuk bidang-bidang tertentu mensyaratkan harus yang tidak buta warna. Tapi tidak itu saja, ada syarat lain, karena nanti kalau lulus kaitannya dengan pekerjaaannya. Kalau nanti tidak cakap karena kekurangan itu bisa membahayakan bidang pekerjaan itu," kata Muhadjir.

Mendikbud mengaku bahwa syarat itu bukan kementeriannya yang mensyaratkan, tetapi sudah menjadi standar internasional untuk bidang-bidang tertentu.

Presiden menambahkan bahwa tidak semua bidang melarang penderita buta warna untuk masuk dan tidak perlu khawatir.

"Tapi tidak semua bidang, artinya banyak bidang yang bisa dimasuki, ngak usah khawatir mengenai itu," kata Presiden memberi semangat kepada Anzal.

Presiden di awal ramah tamahnya mengatakan bahwa cita-cita masih terbentang luas, tapi harus dengan kerja keras dan kedisiplinan.

"Lakukan hal-hal produktif. Ke depan kesempatannya besar tapi tantangannya juga besar," kata Kepala Negara.

Namun Jokowi yakin dengan para pelajar yang memiliki wajah-wajah cerah dan optimis bisa menjadi generasi yang bisa bersaing.(guh)

Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian

Jakarta (KoranTransparansi.com) - Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian mengungkapkan ada 74 orang terduga teroris yang berhasil ditangkap polisi pasca serangan bom di beberapa wilayah Indonesia.

"Dari bom Surabaya maka Polri didukung teman-teman bersama TNI melakukan penindakan sehingga dalam waktu 8 hari dari 13-21 Mei sudah 74 orang ditangkap dan 14 orang di antaranya meninggal dunia karena melawan pada saat ditangkap, antara lain di Jawa Timur 31 orang, Jawa Barat 8 orang, Banten 16 orang, Sumatera bagian Selatan 8 orang, Riau 9 orang dan Sumatera Bagian Utara 6 orang," kata Tito di lingkungan Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa.

 menyampaikan hal itu seusai menghadiri rapat terbatas pencegahan dan penanggulangan terorisme yang dipimpin oleh Presiden Joko Widodo dan dihadiri oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla serta para menteri Kabinet Kerja.

"Pasca bom Surabaya minggu lalu Polri sudah melakukan investigasi pengungkapannya termasuk mendeteksi jaringan. Dari hasil operasi, kita meyakini atau dugaan yang sangat kuat sekali aksi di Surabaya terkoneksi dengan penyerangan di Polda Riau, insiden di Mako Brimob dilakukan oleh Jamaah Ansharut Daulah yang memiliki afiliasi ISIS di Suriah," ungkap Tito.

Polri juga menemukan dan menyita ada barang bukti seperti bom siap pakai maupun materi bahan peledak lainnya, baterai, switcher dan lainnya.

"Dari 74 orang itu tokoh utama belum ditangkap, tapi sudah ditangkap ketua JAD Jawa Timur, tapi tidak kami sebutkan," tambah Tito.

Menurut Tito, Presiden dan Wakil Presiden sudah memberikan arahan untuk menangani terorisme lebih komprehensif.

"Artinya selain penegakan hukum kepada jaringan in dilakukan juga upaya `soft power` terutama untuk membendung ideologi terorisme karena ini bukan agama tertentu, kemudian upaya pengembangan ekonomi dan pendekatan `soft` lainnya termasuk melibatkan masyarakat, kajian kurukulum, untuk membendung ideologi terorisme dengan ideologi lain seperti Pancasila melalui pengembangan lebih humanis," ungkap Tito.

Pekan lalu, terjadi teror di sejumlah daerah di Indonesia. Serangan teroris awalnya terjadi pada 8 Mei 2018 yaitu terjadi kerusuhan antara narapidana terorisme dengan anggota Densus 88 di rumah tahanan Mako Brimob menjelang tengah malam. Akibat dari kerusuhan itu, lima orang polisi meninggal, satu orang polisi disanderan, dan satu orang napi teroris tewas.

Ada 155 orang napi teroris yang merebut senjata petugas dan mengambil alih rutan hingga akhirnya mereka menyerah pada 10 Mei 2018 dan seluruhnya dipindahkan ke lapas Nusa Kambangan.

Selanjutnya pada 13 Mei 2018, kota Surabaya diguncang serangan bom bunuh diri. Bom pertama meledak di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, Gereja Kristen Indonesia (GKI) Jalan Diponegoro dan Gereja Pantekosta di Jalan Arjuno yang menyebabkan korban tewas mencapai 14 orang, termasuk para pelaku diduga berjumlah enam orang yang merupakan satu keluarga, sedangkan korban luka-luka tercatat mencapai 41 orang.

Selang 14 jam kemudian, ledakan bom terjadi di Blok B Lantai 5 Rusunawa Wonocolo, Sidoarjo. Ledakan itu merenggut tiga nyawa yang merupakan satu keluarga terduga teroris yang akan melakukan serangan bom. Pada 14 Mei 2018 juga terjadi bom bunuh diri di pintu masuk kantor Mapolrestabes Surabaya yang menyebabkan empat pelaku tewas dan masyarakat dan polisi yang ada di sekitar ledakan juga terluka.

Selanjutnya pada 16 Mei 2018 terduga teroris menyerang Mapolda Riau yang menyebabkan seorang polisi meninggal, sedangkan 4 orang terduga teroris ditembak hingga tewas. (guh)

Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian (tengah).

 

 

 

Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian (tengah).

 

 

Pekanbaru (KoranTransparansi.com) - Kapolri Jenderal Tito Karnavian menegaskan delapan terduga teroris berhasil ditangkap di sejumlah daerah di Riau pascaserangan teroris di Markas Polda Riau. Tito meyakini teror di Riau itu satu rangkaian dengan teror di Mako Brimob dan teror bom di Jatim karena dilakukan oleh jaringan yang sama, Jamaah Ansharut Daulah (JAD).

"Kelanjutan kasus ini sendiri sudah ada delapan orang yang ditangkap oleh tim," kata Tito saat berkunjung ke Mapolda Riau, Kota Pekanbaru, Kamis

Tito tidak menjelaskan lokasi para terduga ditangkap dan demikian pula dengan identitas mereka. Tito hanya mengungkapkan bahwa kedelapan teroris itu ditangkap oleh tim gabungan Mabes Polri, Polda Riau dan Polres.

Tito menegaskan bahwa polisi terus menyelidiki dan mengembangkan kasus ini. Tito juga menyebut pihaknya masih turut mendalami jaringan terduga teroris yang melakukan penyerangan dan yang ditangkap.

Akan tetapi, jika melihat serangkaian aksi teror yang terjadi mulai dari Mako Brimob, Surabaya hingga Mapolda Riau, Tito yakin mereka berasal dari jaringan yang sama, yakni Jamaah Ansharut Daulah (JAD).

"Saya sudah sampaikan, semua yang laksanakan kegiatan (terorisme) Jamaah Ansharut Daulah. Saya berani tunjuk hidung karena 3-4 tahun kita melihat pengembangan dari kelompok jaringan ini," kata Tito sebagaimana dilaporkan Antara.

Empat tersangka teroris mati dalam percobaan serangan ke Mapolda Riau Rabu pagi kemarin. Seluruh tersangka berasal dari Kota Dumai.

Setelah teror itu, Polres Dumai menggeledah lima lokasi untuk menangkap sejumlah orang, namun tidak mengungkapkan secara detail para pelaku ini. (sam)

 

banner

Berita Terkini

> BERITA TERKINI lainnya ...