Berita Utama

Published in Berita Utama

Haji-Umroh, Totalitas Tidak Menduakan Allah

May 05, 2017 Publish by 
Jamaah saat ziarah mengambil miqot di Bir Ali.
Jamaah saat ziarah mengambil miqot di Bir Ali. KT/Makin Rahmat

Laporan Makin Rahmat
Wartawan Koran Transparansi

Menapak Haromain, Menabur Keberkahan (4)

LABBAIK ALLAHUMMA LABBAIK. Labbaik laasarika lakaa labbaik. Innal hamda wanni’matha laka walmulk laa syariikalaka. (Aku datang memenuhi panggilanMu ya Allah. Aku datang memenuhi panggilanMu tidak ada sekutu bagiMu. Sesungguhnya, segala pujian, kemuliaan dan segenap kekuasaan hanyalah milikMu, tidak ada sekutu bagiMu).

Subhanallah. Maha suci Allah SWT. Setelah menikmati ibadah di Madinatul Munawaroh, kota dengan pancaran cahaya ke-Ilahiyaan dank kerasulan Muhammad shollahu alahi wasalam, para dloifullah (tamu Allah) mulai berbenah. Bukan sekedar mengemasi pakaian dan segala oleh-oleh selama di Madinah, seperti kurma Ajwa, Sukari, Rothab, baju, gamis, namun mempersiapkan raga, jiwa dan ruh kita untuk memenuhi panggilan Allah sebagai dloifullah.

Sebelum berangkat ke Mekah, kewajiban tour leader (TL) bersama muthowib(pembimbing) memberikan bekal dan mengecek segala persiapan agar totalitas dalam menghamba sebagai tamu Allah bisa mengantarkan kepada kenikmatan dan keagungan Ilahi.  Jadi, baik ibadah haji ataupun umroh bagian dari serial manusia berkomitmen dalam beribadah, setelah kesaksian dalam ucapan syahadat, diteruskan shalat, puasa dan zakat, manusia kembali mendapat ujian untuk berkorban dan tidak menyekutukan terhadap Allah Azza wajalla.

Rangkaian kegiatan yang rutin menjadi SOP kami, yaitu memberikan pembekalan ulang manasik umroh untuk lebih memantapkan jamaah melaksanakan kesunnahan sebelum berihram dan menjauhi larangan usai niat di miqot dengan terus memperbanyak bacaan talbiyah. Labbaik Allahuma labbaik.
Sampai tibalah saat dinanti, jamaah pria sudah berbalut dua pakaian ‘sakral’ ihram. Tas koper besar sudah masuk bagasi bus. Sedang tas tenteng berderet di cabin bus. Setelah doa di atas kendaraan dan soa safar dipandu muthowwif, rombongan menuju ke Bir Ali, tempat di luar kota Mekah bernama Dzulzulaifah atau masjid Sajarah yang penuh sejarah dan penentu ritual jamaah dalam beribadah haji dan umroh dari Madinah.

Sebelum berangkat ke Mekah, hampir semua rombongan memilih usai Dzuhur, kecuali kalau bulan Ramadlan berangkat dari Madinah pada pagi hari. Biasanya, jamaah mendapat arahan untuk melaksanakan shalat jamak takdim Dzuhur-Ashar, sehingga memudahkan para dloifullah yang memang diberikan kelonggaran dalam bepergian (safar). Rute Madinah-Mekah yang ditempuh sekitar 5-6 jam jelas membutuhkan kesiapan fisik, apalagi seluruh jamaah sesampai di Mekah segera menyelesaikan rangkain umroh, yaitu thowaf, sai dan tahallul (tertib).

Ada beberapa opsi yang harus dipersiapkan TL, ketika jamaah sudah tiba di hotel di Makkatul Mukaromah, yaitu diarahkan ke restoran untuk makan malam. Saat para dloifullah menikmati hidangan malam, TL, muthowib dan tim di Mekah membagikan kunci kamar. Setelah mengecek di masing-masing kamar dan membagikan koper besar, jamaah masih ada waktu untuk istirahat. Biasanya, ada kesempatan 30 menit dan mengkondisikan seluruh jamaah berkumpul di loby. Di sinilah, para jamaah terlihat wajah tegang, pasrah dan penuh kesungguhan dalam menunaikan ibadah umroh.

Tetesan Air Mata Saat Melihat Kabah
Mengapa ibadah umroh begitu terkesan dan memberikan nuansa relegi begitu kuat, pasca beribadah di Haromain? Memang sulit untuk dijelaskan dalam rangkaian kata dan kalimat. Ketika ikrar niat umroh mulai melekat terhadap jamaah dan talbiyah terus berkumandang, memang terlihat ada pemandangan sakral. Selain sudah menyatuh dalam rangkaian ibadah, tetesan air mata sulit terbendung. Doa selesai berihram,” Ya Allah aku haramkan rambut, kulit, tubuh dan seluruh anggota tubuhku dari semua yang Kau haramkan bagi seorang yang sedang berihram, demi  mengharapkan diri-Mu semata, wahai Tuhan pemelihara alam semesta.”

Belum lagi, setelah memasuki kota Mekah, jamaah disunnakan membaa doa: Allahumma hadzaa haramuka wa-amnuka faharrim lahmii wadamii wasya,rii wabasyarii ,alaa nnaari. Wa-amimnii min ,adzaabika yauma tab’atsu ‘ibaadaka waaj’alniy min auliyaaika wa ahli tho’atika. (Ya Allah, kota (Mekah) ini adalah tanah haramMu dan tempat aman-Mu, maka hindarkanlah daing, darahm rambut, dan kulitku dari neraka. Dan, selamatkanlah diriku dari siksaMu pada hari Engkau membangkitkan kembali hambaMu dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang selalu dekat dan taat kepada-Mu.”

Allahu-Akbar. Rangkaian doa sebelum rangkaian ibadah inti dilakukan, telah menghipnotis jamaah, termasuk saat doa sebelum masuk masjidil Haram. Saat, jamaah melaksanakan shalat jamak takhir, Maghrib-Isya di areal masjidil haram, sudah banyak jamaah yang terlarut. Sulit sekali membendung tetesan air mata.

Puncaknya, usai shalat dan menuju kawasan areal thowaf. Tentu jamaah tidak langsung thowaf, namun sudah terbelenggu dalam dekapan Sang Ilahi. Tangisan lebih dahsyat dari jamaah mengalir, saat muthowif memandu doa melihat kabah.  Allahumma zidhadaalbaita tasyrifaan wata’thimaan watakrimaan wamahaa bathaan. Wazidman syarrafahu wa’adlodlomahu wakarramahu mimman hajjahu awi’tamarahu tasyrifaan wata’dliiman watakriiman wabirraa. (Ya Allah, tambahkanlah kemuliaan, keagungan, kehormatan dan wibawa pada bait (Kabah) ini. Dan, tambahkan pula pada orang-orang yang memuliakan, mengaungkan dan menghormati diantara yang berhaji dan umroh dengan kemuliaan, keagungan, kehormatan, dan kebaikan).

“Kaki saya tiba-tiba seperti copot. Lunglai begitu melihat dan berdoa memandang langsung baitullah. Ya Allah, hambamu ternyata memang sangat dloif. Saat saya thowaf, seperti melayang karena tidak percaya bisa melaksanakan umrah dengan penuh keagunganNya. Air mata ini terus mengalir. Jujur, rasanya ingin kembali ke sana lagi,” kata Mujayyin, jamaah asal Surabaya dibenarkan Agus Sumirat, pria asli Tegal Tengah.

Bukan hanya Mujayyin dan Agus, beberapa jamaah perempuan tidak kalah terlarut dalam kenikmatan beribadah. lantunan doa tiap putaran thowaf dipandu al mundlir (pimpinan rombongan) dan muthowif terdengar syahdu, karena alunan terucap sakral karena diiringi getaran hati dan jiwa yang sudah menyatuh dalam rangkaian kepasrahan, keteguhan dan ketegaran yang diwujudkan dalam totalitas untuk meng-Allahkan Allah. Tiada yang lain!.

Dinamika gerak kaki, ayunan tangan, dan kekompakan doa-doa di tempat istajabah areal thowaf telah menjelma menjadi ‘kekuatan’ saling mengikat sampai tujuh putaran. Rasanya, jamaah ingin terus berputar sebagai bukti ketaatan, karena tuntutan disudahi, maka sebagai siklus ibadah, jamaah umroh bergerak keluar kea rah kanan untuk mencari areal strategis segaris dengan maqom Ibrahim melaksanakan shalat sunnah dua rakaat usai thowaf. Bak air bah, tangisan nikmat, pengakuan dosa, permohonan untuk bersimpuh kepada Allah Penguasa alam semesta menjadi satu. Doa usai shalat sunnah dan thowaf menjadi saksi, betapa nikmat berada di tempat yang paling dimuliakan di muka bumi. Doa abaul muslim nabiyullah warasulullah Ibrahim Al-Khalilullah Alaihissalam menjadi bukti betapa luar biasa, kawasan tandus dengan gunung batu menjadi tempat istimewa dan tidak akan pernah terjamah oleh Dajjal. Subhanallah.

Selesai thowaf, jamaah diarahkan ke tempat sai (lari-lari kecil dimulai dari bukit Shofa ke Marwa, hingga tujuh rute lurus dan akan berakhir di bukit Marwa. Tapi, sebelumnya jamaah disunnahkan minum air Zamzam, mukjizat yang diberikan kepada keluarga Nabi Ibrahim melalui symbol perjuangan, ketaatan, dan kesetiaan seorang istri terhadap suami, kasih saying kepada anak tercinta, sehingga mampu menggerakkan kekuatan Maha Dahsyat yaitu sumber air yang sampai sekarang dinikmati oleh miliaran umat manusia. Doa, sebelum minum Zamzam diberikan ilmu manfaat, rejeki barokah dan diberikan kesehatan (kesembuhan) dari segala penyakit, terutama gangguan jiwa adalah garansi betapa Rahman-RahimNya Allah SWT.

“Inilah ibadah yang membutuhkan harmonisasi fisik, jiwa dan batin yang harus diselaraskan dengan totalitas kepada Allah. Motivasi dari ustadz menambah semangat dan meraskan kenikmatan dalam beribadah. Insha-Allah kami akan umroh di lain kesempatan bersama orang-orang yang kami cintai,” tutur Endang, yang umroh bersama suami.

Bagaimana seruan berthowaf dan sai diikuti dengan mencukur rambut (tahalul) menjadi rangkaian ibadah haji-umroh yang bersifat mutlak, tidak boleh diwakilkan, atau jamaah diberikan kesempatan umroh mengambil miqot dari Ji’ronah, Hudaibiyah dan Tan’im, ikuti edisi berikutnya. (mat/ bersambung)

banner

> BERITA TERKINI lainnya ...