Berita Utama

Published in Berita Utama

Hudaibiyah, Gerbang Menaklukkan Kota Mekah

May 18, 2017 Publish by 
Jamaah saat mengunjungi pertenakan onta di Hudaibiyah
Jamaah saat mengunjungi pertenakan onta di Hudaibiyah KT/Makin Rahmat

Laporan Makin Rahmat
Wartawan Koran Transparansi

Menapak Haromain, Menabur Keberkahan (5)

KEISTIMEWAAN kota Mekah sudah tersebar seantero jagat. Mengapa Mekah menjadi sangat istimewa? Alasan pertama, Allah telah memilih sebagai tempat dibangunnya Baitullah (rumah Allah), kota tempat kelahiran dan kenabian Muhammad SAW penutup para Rasul, adanya kewajiban dari hamba Allah yang muslimuntuk mengunjungi dengan penuh kerendahan hatim khusyu’, meninggalkan pakaian dan persiapan dunia, tempat suci yang aman dilarang terjadi pertumpahan darah, tempat menghapus dosa-dosa masa lalu, dan tempat di mana masjid tempat shalat mendapat ganjaran berlipat ganda, yaitu 100 ribu kali, dan sederetan kelebihan lain yang terungkap di dalam alquran dan hadits.

Bagi jamaah haji dan umrah, saat berada di Mekah rasanya tiada hari tanpa ibadah dan berlama-lama di masjidil Harom untuk melaksanakan thowaf sunnah. Bagi yang ingin berumrah pun bisa melaksanakan dengan mengambil miqot yang telah ditentukan. Dari batas sesuai dengan syariat baginda Rasulullah, ada peta batas-batas tanah suci, yaitu di bagian timur ada pembatas kawasan Arofah jaraknya sekitar 23 km, bagian barat daya ada kawasan Tan’im masjid Siti Aisyah (7 km dari Mekah), kawasan utara ada Ji’ronah wilayah Mustawfirah (21 km dari Mekah), bagian barat dari kawasan Hudaibiyah di masjid Asy-Syumaisi (26 km). Pembatas lagi yang jarang didengar, yaitu Wadi Nakhlah (utara Mekah) dan Adlat Laban di kawasan Aqisyiyah, selatan kota Mekah.
Diantara batas-batas tanah suci, yang sering menggunakan miqot, yaitu Ji’ronah dan Hudaibiyah. Untuk ulasan kali ini, perlu dijelaskan mengapa Hudaibiyah menjadi salah satu idola jamaah untuk mengambil miqot. Ternyata, Hudaibiyah merupakan kota yang berada di sekitar 26 kilometer dari Masjidil Haram.

Nama Hudaibiyah sebenarnya diambil dari nama telaga, yang juga dikenal dengan sebutan telaga Asy-Syumaisi.

Sejarah Islam menyebutkan, Hudaibiyah menjadi pintu masuk kecemerlangan kaum Muslimin dalam gerbang menaklukkan Kota Makkah (Fathul Makkah). Di kota ini, Rasulullah SAW dan kaum Quraisy Makkah membuat perjanjian untuk saling tidak menyerang, yang kemudian membuka peluang umat Islam Madinah untuk meng-Islamkan pendudukan Kota Makkah.

Kisah tersebut berlangsung pada bulan Dzulqaidah tahun 6 Hijriah saat umat Islam Madinah yang terdiri atas kaum Muhajirin dan Anshar berencana akan melakukan umrah di Baitullah. Keputusan melakukan umrah ini diawali dari mimpi Rasulullah SAW yang menggambarkan beliau serta sahabat-sahabatnya bisa masuk ke Masjidil Haram dan melakukan umrah dengan aman. Hal ini kemudian tertuang dalam Alquran surat Al-Fath ayat 27 menyebutkan,

"Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya, (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman, mencukur rambut dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat".

Mendapat wahyu ini, Rasulullah kemudian memerintahkan umat Islam Madinah bersiap-siap pergi ke Makkah untuk melakukan umrah. Bukan untuk menantang kaum Quraisy berperang. Umat Islam Madinah pun menyambut perintah Rasulullah dengan sukacita karena sudah enam tahun mereka tidak bisa melepaskan kerinduan bersimpuh di Baitullah.

Namun, ketika rombongan Rasulullah sampai di Asfan, mereka didatangi seseorang yang mengabarkan kaum Quraisy sudah menyiapkan pasukan untuk berperang. Mendapat informasi tersebut, Nabi Muhammad SAW mencoba menghindari pertumpahan darah dengan menempuh jalur diplomasi.

Nabi SAW kemudian mengutus Usman bin Affan untuk berunding dengan kaum Quraisy. Namun informasi menyebar, Usman disandera pihak Quraisy. Kabar ini membuat para sahabat bersumpah untuk memerangi kaum kafir Quraisy sampai titik darah penghabisan. Sumpah tersebut rupanya membuat kaum Quraisy gentar dan akhirnya melepaskan Usman. Bahkan, kaum Quraisy akhirnya bersedia berunding sehingga Rasulullah mengirim Suhail bin Amar sebagai utusan.

Dalam perundingan tersebut, kedua belah pihak mencapai beberapa kesepakatan yang kemudian disebut sebagai perjanjian Hudaibiyah. Isi perjanjian, antara lain, kaum Muslimin bersedia menunda umrah ke Baitullah hingga tahun depan. Dan saat umrah dilakukan, kaum Muslim hanya diizinkan membawa senjata yang biasa dibawa seorang musafir, yaitu sebatang tombak dan sebilah pedang yang disarungkan.

Selain itu, antarkedua belah pihak juga sepakat melakukan perdamaian melalui gencatan senjata selama 10 tahun. Sementara itu, jika kaum Muslimin datang ke Makkah, pihak Quraisy tidak berkewajiban mengembalikan orang itu ke Madinah. Sedangkan jika penduduk Makkah datang kepada Rasulullah di Madinah, kaum Muslimin harus mengembalikan orang tersebut ke Makkah.

Kendati perjanjian Hudaibiyah sepertinya merugikan kaum Muslim, namun dari perjanjian inilah Rasulullah SAW dapat mengembangkan dakwah hingga ke Hudaibiyah. Bahkan, selama masa gencatan senjata, Nabi bisa melakukan dakwah dengan leluasa, bahkan menyampaikan pesan Islam pada Kaisar Romawi, Raja Habsyah (Ethiopia), Raja Mesir, dan Raja Parsi.
Dalam kitab tarikh yang lain disebut, kaum Quraisy tidak setuju dengan menyebut Muhammad Rasulullah, mereka meminta Muhammad bin Abdullah dan tidak memakai pembukaan dengan Bismillahirahmanirrahiim. Walau para sahabat tidak setuju, khususnya Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib, tapi Rasulullah tetap memberikan lampu hijau.

Peristiwa ini disebut oleh Alquran dengan istilah Fathun Mubiinun (kemenangan nyata), sebagaimana termaktub dalam surat Al-Fath ayat 1 sampai 3. "Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata. Supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan memimpin kamu ke jalan yang lurus. Dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kokoh (banyak).” Itulah fakta sejarah yang tidak bisa dipungkiri.

Pertenakan Onta Hudaibiyah
Saat ini, umat muslim begitu leluasa melaksanakan umrah dengan mengambil miqot Hudaibiyah di masjid Asy-Syumaisi tanpa ada tekanan dan paksaan. Bukan hanya itu, kesiapan Kerajaan Saudi dan Gubernur pemeliharan Haromain memberikan tambahan bagi jamaah untuk bisa mengunjungi kawasan pertenakan onta di Hudaibiyah.

Kesan pertama saat mendatangi pertenakan onta tentu bau yang kurang sedap agak menyengat. Tapi, setelah mendapat penjelasan bagaimana keutamaan dan keistimewaan hewan onta yang diciptakan dengan berbagai keunggulan, termasuk ‘air kencing’ onta yang konon dengan seizin Allah bisa menyembuhkan berbagai penyakit, belum lagi khasiat susu onta untuk kebugaran dan minyak onta bisa mempercepat proses penyembuhan akibat keseleo, penyakit tulang. Dari tulang onta sendiri termasuk favorit untuk dibikin tasbih.

Salah satu profesor di Unair bahkan telah melakukan penelitian tentang keajaiban dari ‘air kencing’ onta yang bisa menjadi perantara untuk kesembuhan berbagai penyakit. “Faktanya memang setelah mengkonsumsi air kencing onta, ada penderita diabet, jantung, kanker dan penyakit kronis lain bisa mengalami perubahan cukup signifikan. Kewajiban ilmu kedokteran mengungkap di balik rahasia tersebut,” ungkapnya.

Memang, bila jamaah mengunjungi kawasan pertenakan onta bisa menyaksikan segerombolan onta didalam pengawasan peternak. Mereka sudah mengambil susu segar dari onta betina dan dijual per botol 5 real (sekitar Rp 17.500,-). Uniknya, untuk harga air kencing onta dengan ukuran botol sama, harga minimal 20 real bahkan kalau lagi langka bisa mencapai 30 real (sekitar Rp 100 ribu). “Kalau susu onta sudah lama dengan khasiatnya untuk kebugaran dan bisa dipergunakan cuci perut (urus-urus), minyak onta juga bisa mujarab untuk urut tulang dan penyembuhan. Kalau air kencing memang pernah dengar, tapi rasanya kok penasaran,” kata Andhi Ganis, jamaah asal Makasar, juga pelayar rute Eropa dan Amerika.

Bagaimana dengan sejarah miqot di Ji’ronah dan fasilitas museum Haromain atau Kiswah yang ada di kawasan Hudaibiyah, ikuti tulisan berikutnya. (mat/ bersambung)

banner

Berita Terkini

> BERITA TERKINI lainnya ...