Berita Foto

Politik Kesehatan Harus Berubah Jadi Promotif Preventif

Surabaya  (Korantransparansi.com) - Politik kesehatan harus berubah menjadi promotif preventif. Apalagi politik kesehatan ini sudah dilakukan sejak jaman maraknya penyakit malaria. Namun pada jaman reformasi hingga kini politik kesehatan promotif preventif hilang semua.

Gubernur Jatim Soekarwo saat menghadiri Rakernas Majelis Pembina Kesehatan Umum (MPKU) Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan Seminar Nasional Muhammadiyah Membangun Kesehatan Bangsa di Hotel Santika Premiere Gubeng Surabaya, Rabu (7/3) siang 

Pakde Karwo sapaan lekat Gubernur Jatim menjelaskan, kebijakan kesehatan promotif preventif sangat bermanfaat untuk mengurangi belanja kesehatan yang kuratif. Karena itu, sekarang harus digalakkan lagi policy kesehatan promotif preventif seperti memberikan penyuluhan mengenai gaya hidup sehat bisa kepada masyarakat di desa.

“Jika public policy di kesehatan hanya untuk kuratif maka anggaran kesehatan akan jebol. Kalau pola kuratif dijalankan terus, seberapa besar BPJS pun tidak bisa membiayai. Apalagi public policy ini tidak sinkron dengan pola hidup yang ada,” ujarnya sambil mencontohkan keberhasilan promotif preventif Kota Mojokerto yang sudah sembilan tahun ini tidak ada demam berdarah.

Lebih lanjut disampaikannya, salah satu cara penerapan promotif preventif dapat dilakukan dengan menyisihkan Rp. 100 juta untuk tenaga paramedis dari total anggaran belanja kesehatan sebanyak Rp. 300 juta di Puskesmas. Dengan demikian tenaga paramedis bisa memberikan sosialisasi kepada masyarakat mengenai hidup sehat.

Melihat pentingnya promotif preventif, jelas Pakde Karwo, maka Jatim menjadikannya sebagai andalan pembangunan kesehatan, sekaligus menjadi fokus utama penguatan aksesibilitas kesehatan. Dengan mengedepankan pelayanan promotif dan preventif, pelayanan kesehatan di Jatim dapat cepat dalam menangani penyakit yang saat ini sedang dialami oleh masyarakat.

Oleh sebab itu, pihaknya terus membangun berbagai akses kesehatan di seluruh desa/kelurahan dengan membangun Pondok Bersalin Desa (Polindes), Pondok Kesehatan Desa/Ponkesdes, Pustu Gawat Darurat, Puskesmas Rawat Inap Standar, dan Rawat Inap Plus, serta fasilitas-fasilitas kesehatan lainnya.

Pakde Karwo juga menegaskan, bahwa di desa harus ada fungsi paramedis sebanyak dua orang, ditambah satu orang. Di Polindes ditambah dua perawat sebagai langkah promotif preventif.

Di akhir sambutannya, Gubernur Soekarwo mengapresiasi Muhammadiyah telah ikut berperan aktif dalam menangani kesehatan dan pendidikan di Jatim. Bahkan Muhammadiyah telah memiliki 30 rumah sakit yang dapat melayani masyarakat di Jatim.

“Sumbangannya banyak sekali dari Muhammadiyah. Ada 30 rumah sakit di Jatim. Apalagi timnya turun untum menjelaskan kepada masyarakat,” pungkasnya. (min)

Kuliah Umum Said Aqil Shiroj di Institut Agama Islam Trinakti Kediri

Ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Shiroj (tengah) menghadiri Kuliah Umum di Institut Agama Islam Tribakti, Kota Kediri, Jawa Timur, Minggu (4/3). 

Kuliah umum yang dihadiri ratusan peserta itu bertujuan memotifasi mahasiswa dan santri agar bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu agama sebagai modal dasar bermasyarakat dan bernegara.

RSUD BDH akhirnya membantah pemberitaan korantransparansi.com terkait dugaan terlantarnya pasiennya.

Surabaya – Pemberitaan terkait pengakuan salah seorang pasien miskin bernama Tressia Hermin Uneputty yang merasa diterlantarkan oleh Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bhakti Dharma Husada rupanya memantik reaksi keras Reni Astuti S,Si , Anggota Komisi D DPRD Surabaya Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Menurutnya, penelantaran terhadap pasien adalah sebuah pelanggaran serius yang tidak boleh dilakukan pihak rumah sakit, apalagi terhadap pasien miskin. Untuk itu ia berjanji akan menindak lanjuti permasalahan tersebut agar lebih jelas.

“Apapun alasannya tetap tidak diperbolehkan. Namun demikian nanti akan saya chek kebenarannya ke rumah sakit sekaligus pasiennya untuk mengetahui kejelasan kronologinya,” kata Reni.

Sementara itu Tressia Hermin Uneputty yang dikonfirmasi Koran Transparansi di tempat kosnya di Jalan Sememi Jaya 1C mengaku tidak diberi makan dan gizi yang baik oleh pihak RS BDH karena tidak mampu membayar biaya persalinan sebesar Rp12 juta.

Surat Keterangan Tanda Miskin yang telah diurusnya bahkan ditolak oleh manajemen RS BDH. "Saya tidak diberi makan dan gizi yang baik oleh pihak RS BDH dengan alasan untuk menekan ongkos biaya persalinan lantaran saya tidak mampu bayar," katanya.

Lanjut Tressia, dirinya memang sudah menjadi peserta BPJS tapi memiliki tunggakan sebesar Rp3.315.000. Dia berusaha membayarnya akan tetapi pihak BPJS memintanya agar melunasi seluruh tunggakannya terlebih dulu.

"Dari mana uang sebanyak itu mas, untuk makan dan sewa kos saja kami sudah kesulitan," kata perempuan yang masih tercatat sebagai warga Candi Lontar Kulon 3 Nomor 24 tersebut.

menanggapi hal itu, Direktur RS BDH, dr Maya Syaria Saleh melalui bagian Prom Kes Diklat, Arif kepada wartawan membantah keras pernyataan Tressia seperti dalam pemberitaan Wartatransparansi.com.

Pihak manajemen RSUD BDH juga sudah melakukan rapat membahas hal tersebut guna meluruskan informasi yang sebenarnya. "Kami sudah merapatkan permasalahan ini. Apa yang sudah dikatakan Tressia itu tidak benar," ujar Arif.

Pihak RSUD BDH, lanjut Arif, telah melakukan penanganan terhadap Tressia sesuai Standart Prosedur Operasional (SOP).

Pihak RSUD BDH sebelumnya melakukan maturasi dan pencegahan infeksi termasuk melakukan operasi SC kepada Tressia.

Dua hari berselang, Tressia diperbolehkan pulang namun bayinya tetap di rumah sakit karena mulai terjangkit ikterus. Saat itu Tressia memohon untuk dapat menemani bayinya tersebut.

"Fasilitas ruang yang digunakan untuk melakukan perawatan kepada bayi Tressia adalah ruang perawatan gratis tanpa dikenakan biaya akomodasi. Jadi pihak kita bukan menahan bayinya," ujarnya.

Setelah selesai perawatan dan diperbolehkan pulang, Tressia diarahkan ke bagian kasir untuk menyelesaikan administrasinya. Sayang Tressia tidak memiliki uang sama sekali.

"Kita memberinya kesempatan 3x24 jam untuk mengurus SKTM dan surat penting lainnya agar pasien tidak terbebani. Akan tetapi sampai waktu yang ditentukan belum melengkapi berkas maka pasien dianggap masuk jalur umum dengan pembiayaan penuh," ujarnya. (den)

   Arsip Foto. Raja Maroko Mohammed VI saat bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Moskow pada 15 Maret 2016. (Kremlin)
 
 
 
Arsip Foto. Raja Maroko Mohammed VI saat bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Moskow pada 15 Maret 2016. (Kremlin)
 
Rabat - Raja Maroko Mohammed VI menjalani operasi jantung di sebuah klinik di Paris pada Senin waktu setempat karena detak jantung yang tidak beraturan menurut tim medisnya.
 
Para dokter dalam sebuah pernyataan mengatakan bahwa raja berusia 54 tahun itu merasakan gejalanya pada 20 Januari. "Ablasi radiofrekuensi aritmia" telah berhasil menormalkan detak jantungnya.
 
Raja Mohammed, yang akan melanjutkan aktivitas normalnya setelah periode istirahat yang diperintahkan dokternya, berkuasa di Maroko sejak kematian ayahnya Hassan pada Juli 1999.
 
Dia menjalani operasi mata di ibu kota Prancis pada September tahun lalu, demikian menurut siaran kantor berita AFP.(min)
Foto  : Ketua MKGR Jawa Timur Dr Kodrat Sunyoto bersama Emil Dardah dan Ketua DPRD Kabupaten Gresik Abdul Hamid keliling Kota Gresik dan singgah dari warung ke warung.

KETUA  DPD MKGR Jawa Timur Dr Kodrat Sunyoto dengan setia mendampingi calon wakil gubernur Emil Elestianto Dardak keliling Jawa Timur. Sepertihalnya pada minggu kemarin, Kodrat yang juga wakil ketua bidang organisasi Partai Golkar Jawa Timur tersebut tidak lupa mengajak Emil naik becak keliling Kota Gresik.

Kodrat menaiki becak warna hijau, sebaliknya Emil Dardak yang lebih ramping didampingi Ketua DPRD Kabupaten Gresik Abdul Hamid . Disitu ada kerumunan massa Kodrat dan Emil turun dari becaknya, lalu menyapa dan mengajak dialog sejenak untuk menyerap aspirasi masyarakat.
 
Lalu melanjutkan lagi perjalanan. Malahan disebuah warung nasi, Emil malah berlama lama bercengkrama dengan masyarakat. Karuan saja, Emil menjadi rebutan berselfi ria. 
 
Kodrat yang juga anggota DPRD Jawa Timur dua periode ini bertekat untuk tidak henti hentinya mengajak Cagub Khofifah atau Caagub Emil keliling Kota Gresik dan Lamongan yang menjadi Dapil (Daerah Pemilihannya). Ini sesuai perintah Ketua Plt Golkar Jawa Timur Zainudin Amali agar anggota DPR RI, DPRD Provinsi dan DPRD Kab/Kota bertanggung jawab atas wilayahnya. (min)   
 Dua Kapal berbedera Taian yang sejak 2017 lalu menjadi buron Polisi akhirnya ditangkap. Diduga dua kapal tersebut membawa puluhan ton Sabu sabu dan siap diturunkan dari kapal.

Karimun, Kepri (KoranTransparansi) - Kabareskrim Polri Komjen Ari Dono Sukamto meninjau kapal Win Long yang diduga membawa sabu-sabu di dermaga Kanwil BC Kepri, Jumat malam.

Kabareskrim tiba di Kanwil BC Kepri sekitar pukul 22.30 WIB menggunakan mobil Alphard B 777 KT, setelah naik kapal carter dari Batam.
 
Kabareskrim tiba bersama sejumlah Brimob berselengkap dan membawa anjing pelacak.
 
Humas BC Kepri Refly Feller Silalahi melalui pesan singkat mengatakan, anjing pelacak didatangkan untuk memeriksa muatan kapal Win Long dengan nomor lambung BH 2998, terkait dugaan menyelundupkan sabu.
 
"Anjing pelacak didatangkan untuk memudahkan pencarian biar lebih mudah dan cepat," katanya.
 
Pantauan hingga pukul 22.45 WIB di dermaga BC Kepri, sejumlah truk masih membongkar muatan kapal berupa ikan beku. Sedikitnya sudah 6 truk keluar mengangkut muatan menuju Stasiun Karantina Karimun.
 
Sementara itu, sejumlah brimob masij melakukan penggeledahan dalam kapal menggunakan anjing pelacak.
 
Informasi dihimpun di lapangan, kapal Win Long ditangkap di perairan Selat Phillips oleh kapal patroli BC 2005 dibantu dua kapal patroli BC lain.
 
Kapal Win Long diduga mematikan GPS saat memasuki perairan Indonesia hingga akhirnya ditarik dan tiba ke dermaga BC Kepri di Meral, Karimun sekitar pukul 16.00 WIB.Kapal Win Long dikabarkan telah menjadi target petugas sejak 2017. (rom)
banner

Berita Terkini

> BERITA TERKINI lainnya ...