Berita Foto

Peringatan Berdirinya Keraton Yogyakarta

Umat muslim mengikuti acara Semaan Al Quran di Pagelaran Keraton Yogyakarta, DI Yogyakarta, Kamis (15/2/2018). Kegiatan yang diikuti ratusan umat muslim itu merupakan rangkaian dari acara peringatan 271 tahun berdirinya Keraton Yogyakarta. (jay)

 

Kecelakaan bus pariwista di Tanjakan Emen yang mengakibatkan 27 orang meninggal dunia pada Sabtu (10/2/2018)

Subang (KORAN TRABSPARANSI.COM) - Polres Kabupaten Subang menyatakan jumlah korban meninggal dunia dalam kecelakaan Bus Pariwisata di Tanjakan Emen, Kabupaten Subang, Jawa Barat, mencapai 27 orang. 

"Untuk sementara ada 27 korban meninggal dunia," kata Kapolres setempat AKBP M Joni, saat dihubungi di Subang, Sabtu. 

Selain korban meninggal dunia, ada juga delapan korban dengan luka berat dan sepuluh orang luka ringan. 

"Para korban telah dievakuasi dan dibawa ke RSUD (Rumah Sakit Umum Daerah) Ciereng Subang serta dibawa ke Puskesmas terdekat," kata dia.

Dari puluhan korban meninggal dunia dalam peristiwa kecelakaan Bus Pariwisata bernopol F-7959-AA itu, sebanyak 14 korban di antaranya meninggal dunia di lokasi kejadian. 

Sedangkan korban lainnya meninggal dunia saat dalam perjalanan menuju rumah sakit atau saat menjalani perawatan di rumah sakit. 

Pada awalnya, korban meninggal dunia dalam kecelakaan itu dikabarkan 10 orang. Kemudian bertambah menjadi 12 dan 13 orang hingga akhirnya berjumlah 16 orang. 

Tapi dari informasi terakhir, untuk sementara ini diketahui kalau korban meninggal dunia mencapai 26 orang. 

"Korban telah dievakuasi dan dibawa ke RSUD Ciereng Subang dan Puskesmas terdekat," kata dia. 

Sementara itu, kecelakaan maut itu terjadi saat Bus Pariwisata Premium Passion bernopol F-7959-AA melaju dengan kecepatan tinggi dari arah Bandung menuju Subang. 

Saat melintasi jalan menurun, bus itu seperti hilang kendali dan menabrak sepeda motor yang ada di depannya, kemudian oleng ke kiri dan menabrak tebing. Setelah menabrak tebing, kendaraan terguling. (ROM)

Petugas penyelamat berada di sekitar bangunan yang miring akibat gempa di wilayah Hualien, Taiwan, Rabu (7/2/2018).

Hualien, Taiwan (Koran Transparansi) - Para penyelamat menyisir reruntuhan gedung-gedung yang roboh pada Rabu untuk mencari 67 orang yang masih hilang setelah gempa bumi kuat merenggut sedikitnya tujuh jiwa dekat Hualien, kota di Taiwan, yang tersohor di kalangan turis.

Gempa bumi yang berkekuatan 6,4 SR, yang terjadi dekat kota di pesisir tersebut sebelum tengah malam (pukul 23.00 WIB) pada Selasa, melukai 260 orang dan menyebabkan empat gedung roboh, kata para pejabat.

Walikota Hualien Fu Kun-chi mengatakan jumlah orang yang hilang sekarang mendekat 60 orang, walau angka pasti belum tersedia. Sebanyak 150 orang pada mulanya dikhawatirkan hilang.

Banyak yang hilang diyakini masih terperangkap di reruntuhan gedung-gedung, setelah gempa bumi terjadi sekitar 22 km di sebelah timur laut Hualien di pesisir timur Taiwan.

Di Hotel Marshal di kota itu, para penyelamat mencoba membebaskan dua orang Taiwan. Satu orang selamat tetapi satu lagi dinyatakan meninggal, kata pemerintah.

Di antara mereka yang terluka adalah warga negara China Daratan, Ceko, Jepang, Singapura dan Korea Selatan.

"Ini gempa bumi terburuk dalam sejarah Hualien, atau sedikitnya dalam 40 tahun terakhir semasa hidup saya," kata sukarelawan Yang Hsi Hua. "Kami tak pernah mengalami hal ini. Kami tak pernah punya gedung roboh jadi orang-orang sungguh takut, kami berlarian ke ruang-ruang terbuka kosong untuk menghindarinya."

Gempa susulan berkekuatan 5,0 bisa terjadi di pulau itu dalam dua pekan mendatang, kata pemerintah. Gempa-gempa susulan dengan kekuatan kecil membuat takut warga.

Warga masyarakat menunggu dan melihat dengan penuh perhatian sementara para pekerja darurat yang berseragam oranye-merah dan mengenakan hem mencari warga yang terperangkap di beberapa blok apartemen.

Hualien berpenduduk sekitar 100.000 orang dengan sekitar 40.000 rumah tanpa pasokan air dan sekitar 1.900 tanpa aliran listrik. Pasokan air kembali mengalir ke hampir 5.000 rumah pada siang sedangkan aliran listrik pulih untuk sekitar 1.700 kepala keluarga.

Para pekerja darurat mengelilingi sebuah gedung berlantai 12 dan rusak parah. Gedung tersebut menjadi pusat usaha penyelamatan.

Para penyelamat sibuk melakukan tugasnya sementara warga memperhatikan dari jalan-jalan yang telah diberi garis pembatas. Yang lainnya berbicara tentang kepanikan yang dialami ketika gempa bumi terjadi, demikian Reuters.

Bocah boca SD di Rusia kini mulai "Kranjingan" main gamelan, kesenian asli Indonesia

 

Jakarta (Koran Transparansi) - Anak-anak Rusia yang masih duduk di bangku sekolah dasar di Star City, kawasan Moskow, menaruh minat besar pada permainan gamelan dan mereka telah piawai dalam memainkannya walaupun baru tiga kali mengikuti latihan di KBRI Moskow.

KBRI Moskow dalam keterangannya yang diterima Antara di Jakarta, Rabu, menyebutkan para siswa SD Musik Star City menujukkan semangat mereka untuk berlatih.

Jarak ke KBRI Moskow yang cukup jauh dari Star City, sekitar 45 km dengan waktu tempuh sekitar dua jam dan Moskow, ibu kota Rusia, yang dalam minggu terakhir dilanda hujan salju terparah sejak seratus tahun terakhir tidak mematahkan semangat mereka untuk berlatih gamelan di KBRI Moskow.

"Permainan alat musik ini menarik, dan saya sangat senang dapat memainkan gamelan. Baru tiga kali latihan, saya dan teman-teman sudah bisa memainkannya," kata Aleksey, siswa kelas empat sekaolah dasar itu.

Star City adalah tempat pelatihan rumah para kosmonot yang dibuat pada Era Uni Soviet. Saat ini, Star City masih dianggap sebagai kota tertutup dan Yuri Gagarin, manusia pertama yang naik ke angkasa luar pernah tinggal di kota ini.

Siswa-siswi Sekolah Dasar Musik Star City bergabung dan berlatih di KBRI Moskow sebulan yang lalu. Setiap latihan yang dilakukan pada Sabtu dihadiri 35-40 orang. Sebanyak 20 orang di antaranya adalah siswa-siswa yang sangat aktif bermain gamelan, sedangkan yang lainnya adalah orangtua mereka dan pendamping dari sekolah.

Duta Besar Republik Indonesia untuk Federasi Rusia merangkap Republik Belarus, M. Wahid Supriyadi sangat mengapresiasi minat besar anak-anak sekolah dasar Rusia tersebut untuk bermain gamelan. Upaya ini sebagai bagian dari pengenalan budaya Indonesia kepada masyarakat Rusia, khususnya pada usia dini.

Menurut Dubes Wahid, ini langkah bagus memperkenalkan budaya Indonesia kepada warga Rusia untuk lebih mendekatkan hubungan kedua bangsa. Kegiatan ini juga sebagai bagian dari pengembangan jejaring kerja sama antara sekolah-sekolah di Rusia dengan Sekolah Indonesia Moskow dan sekolah-sekolah di Indonesia.(*/min)

 

 Menteri Sosial Idrus Marham.

Padang (KOran Transparansi) - Menteri Sosial Idrus Marham menyebutkan saat ini di Indonesia mengalami apa yang disebut dengan kesenjangan niat sehingga apa pun yang dilakukan pemerintah akan selalu dinilai salah oleh pihak-pihak tertentu.

"Ini yang paling susah sekarang karena kalau semua pihak memiliki niat yang sama masalah besar bisa diperkecil, masalah kecil bisa diselesaikan," kata dia Padang, Selasa malam, saat bersilaturahim dengan awak media di sela kunjungan kerja dalam rangka Hari Pers Nasional 2018.

Menurut Idrus, karena niat yang tidak sama membangun bangsa ini maka masalah kecil diperbesar dan masalah besar diperbesar lagi.

Apabila terjadi kesenjangan niat lalu dipertajam kesenjangan visi maka yang lain-lain merupakan implikasi dari dua hal ini, katanya.

Ia memberi ilustrasi kesenjangan niat saat ada politisi yang meninggal kemudian banyak orang datang menjenguk.

"Coba perhatikan wajah orang yang datang, hampir semua sedih, tapi ada juga yang senang karena ada peluang jadi anggota DPR, jadi niatnya datang bukan berduka cita tetapi karena bahagia," kata dia.

Oleh sebab itu ia mengajak semua pihak bahwa menjadi apa pun di negara ini adalah panggilan perjuangan dan pengabdian untuk bangsa. 

"Kalau niat sama untuk itu pasti hasilnya akan bagus," ujarnya.

Ia mengatakan cara untuk mengatasi kesenjangan niat melalui revolusi mental dengan meluruskan niat berjuang untuk bangsa ini.(min)

PWI : Kerjasama Wartawan Kunci Integrasi Masyarakat ASEAN

JAKARTA - Kerjasama yang baik dan erat antara organisasi profesi wartawan negara-negara anggota ASEAN merupakan kunci penentu keberhasilan integrasi kawasan Asia Tenggara.

Tentu saja kerjasama itu harus didirikan di atas pondasi penghormatan yang tinggi terhadap etika profesi.

Demikian disampaikan Ketua bidang Luar Negeri Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Teguh Santosa dalam keterangan yang diterima redaksi, Rabu (24/1).

"Apalagi di zaman now, dimana arus informasi begitu deras dan cepat, hoax dan ujaran kebencian menjadi santapan sehari-hari, dunia memerlukan kelompok wartawan yang sungguh-sungguh menghormati etika profesi dan mengedepankan kepentingan publik," ujar Teguh yang juga dosen Hubungan Internasional di Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta Syarif Hidayatullah.

"Wartawan yang kompeten, termasuk di dalamnya menghormati etika jurnalistik, akan menjadi filter informasi yang sehat. Integrasi ASEAN membutuhkan kerjasama ini," sambungnya.

Teguh dan rombongan PWI sedang berada di Bangkok, Thailand, untuk menghadiri sidang Majelis Umum Konfederasi Wartawan ASEAN (CAJ) ke-19 pada tanggal 25 hingga 27 Januari 2018.

Selain Teguh Santosa, anggota delegasi PWI lainnya adalah Direktur CAJ Bob Iskandar, Ketua PWI Bangka Belitung Mohammad Fathurrakhman, Ketua PWI Jambi Saman Muraki, Ketua PWI Kalimantan Barat Gusti Yusri Ismail, Ketua Ikatan Keluarga Wartawan Indonesia (IKWI) Kalimantan Barat Haryani, Ketua PWI Sulawesi Barat Naska Mahmud Nabhan, dan Wakil Ketua PWI Bangka Belitung Nico Alpandy.

Dalam sidang ini organisasi wartawan negara-negara ASEAN akan membahas berbagai isu yang tengah terjadi di kawasan Asia Tenggara, juga perkembangan pers di masing-masing negara.

"Sidang Majelis Umum CAJ akan meresmikan transfer kepemimpinan CAJ dari Vietnam kepada Thailand. Sementara Indonesia akan menjadi wakil ketua CAJ. Majelis Umum juga akan menetapkan Kamboja sebagai anggota baru CAJ," demikian Teguh. (mat)

banner

Berita Terkini

> BERITA TERKINI lainnya ...