Berita Foto

Published in Berita Foto

RSUD BDH Bantah Terlantarkan Pasiennya

Mar 01, 2018 Publish by 
RSUD BDH akhirnya membantah pemberitaan korantransparansi.com terkait dugaan terlantarnya pasiennya.
RSUD BDH akhirnya membantah pemberitaan korantransparansi.com terkait dugaan terlantarnya pasiennya. (kt/den)

Surabaya – Pemberitaan terkait pengakuan salah seorang pasien miskin bernama Tressia Hermin Uneputty yang merasa diterlantarkan oleh Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bhakti Dharma Husada rupanya memantik reaksi keras Reni Astuti S,Si , Anggota Komisi D DPRD Surabaya Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Menurutnya, penelantaran terhadap pasien adalah sebuah pelanggaran serius yang tidak boleh dilakukan pihak rumah sakit, apalagi terhadap pasien miskin. Untuk itu ia berjanji akan menindak lanjuti permasalahan tersebut agar lebih jelas.

“Apapun alasannya tetap tidak diperbolehkan. Namun demikian nanti akan saya chek kebenarannya ke rumah sakit sekaligus pasiennya untuk mengetahui kejelasan kronologinya,” kata Reni.

Sementara itu Tressia Hermin Uneputty yang dikonfirmasi Koran Transparansi di tempat kosnya di Jalan Sememi Jaya 1C mengaku tidak diberi makan dan gizi yang baik oleh pihak RS BDH karena tidak mampu membayar biaya persalinan sebesar Rp12 juta.

Surat Keterangan Tanda Miskin yang telah diurusnya bahkan ditolak oleh manajemen RS BDH. "Saya tidak diberi makan dan gizi yang baik oleh pihak RS BDH dengan alasan untuk menekan ongkos biaya persalinan lantaran saya tidak mampu bayar," katanya.

Lanjut Tressia, dirinya memang sudah menjadi peserta BPJS tapi memiliki tunggakan sebesar Rp3.315.000. Dia berusaha membayarnya akan tetapi pihak BPJS memintanya agar melunasi seluruh tunggakannya terlebih dulu.

"Dari mana uang sebanyak itu mas, untuk makan dan sewa kos saja kami sudah kesulitan," kata perempuan yang masih tercatat sebagai warga Candi Lontar Kulon 3 Nomor 24 tersebut.

menanggapi hal itu, Direktur RS BDH, dr Maya Syaria Saleh melalui bagian Prom Kes Diklat, Arif kepada wartawan membantah keras pernyataan Tressia seperti dalam pemberitaan Wartatransparansi.com.

Pihak manajemen RSUD BDH juga sudah melakukan rapat membahas hal tersebut guna meluruskan informasi yang sebenarnya. "Kami sudah merapatkan permasalahan ini. Apa yang sudah dikatakan Tressia itu tidak benar," ujar Arif.

Pihak RSUD BDH, lanjut Arif, telah melakukan penanganan terhadap Tressia sesuai Standart Prosedur Operasional (SOP).

Pihak RSUD BDH sebelumnya melakukan maturasi dan pencegahan infeksi termasuk melakukan operasi SC kepada Tressia.

Dua hari berselang, Tressia diperbolehkan pulang namun bayinya tetap di rumah sakit karena mulai terjangkit ikterus. Saat itu Tressia memohon untuk dapat menemani bayinya tersebut.

"Fasilitas ruang yang digunakan untuk melakukan perawatan kepada bayi Tressia adalah ruang perawatan gratis tanpa dikenakan biaya akomodasi. Jadi pihak kita bukan menahan bayinya," ujarnya.

Setelah selesai perawatan dan diperbolehkan pulang, Tressia diarahkan ke bagian kasir untuk menyelesaikan administrasinya. Sayang Tressia tidak memiliki uang sama sekali.

"Kita memberinya kesempatan 3x24 jam untuk mengurus SKTM dan surat penting lainnya agar pasien tidak terbebani. Akan tetapi sampai waktu yang ditentukan belum melengkapi berkas maka pasien dianggap masuk jalur umum dengan pembiayaan penuh," ujarnya. (den)

banner

Berita Terkini

> BERITA TERKINI lainnya ...