Archipelago

Lara Silvy Yuniar mulai keliling Radio di Jawa Timur

 

SIDOARJO (Korantransparansi.com) - Putri dari mbak Yuni yang punya Yayang kafe di Sidoarjo dan  Bungurasih yaitu.( Lara,)  penyanyi asal Kota petis Sidoarjo ini baru saja mencatatkan namanya di Museum Rekor Indonesia (MURI) setelah berkolaborasi dengan 100 musisi tanah air. 

Kini gadis asal kota  Sidoarjo Jatim dengan nama lengkap Lara Silvy Shanta Yuniar Putri saat ini telah sibuk keliling jawa Dan Di 45 Radio pada hari kamis  ,(08/03/2018). untuk promo single terbaru nya yang berjudul Mencintaimu Sampai Mati.

Dan hari Jum at (09/03/2018). Lara juga akan on air lagi ke Beberapa radio yang berada di Kota Solo. Dia berharap singel keempat ini mampu sukses seperti lagu lagu Negotiation, Kamu dan Lara. Dan ada 45 radio yang siap didatangi selama bulan Maret ini.

“ Untuk tahap awal memang Lara Silvy Shanta Yuniar .Telah keliling untuk on air di radio yang ada di Jawa. Namun ke depan ucap LARA saya akan menyusun jadwal keliling ke luar Jawa.karena jadwal saat ini Lumayan padat jadwal untuk promo lagu ke empat ini,”ungkap lara gadis kelahiran 6 maret 1995 ini.

Dan Promo lagu keempat memang sudah dimulai pada bulan Februari, dia menggelar konser dengan menggandeng 100 musisi. Dalam event tersebut, Lara telah sukses telah membawakan single Mencintaimu Sampai Mati, lagu pernah dipopulerkan group band Utopia.

4,7 Juta Viewers Jadi Motivasi Lara untuk Terus Berkarya, dan Kesuksesan Lara dalam mencatatakan nama dalam buku Muri menambah semangat dan motivasi Lara. Sehingga rasa lelah dalam mengikuti jadwal promo lagu baru tidak dirasakan. Semua terbayar saat mengetahui antusias masyarakat dalam menanti karya terbarunya itu.

“memang sangat Padat jadwal nya Lara pada bulan ini. Tapi saya sangat senang karena dapat menunjukkan karya dalam dunia musik. Saya tidak akan pernah berhenti untuk berkarya, “ ungkapan dari gadis asal kota petis sidoarjo Jatim . (med/eka)

Pamekasan - Khofifah Indar Parawansa ke Kaduara Timur, Pragaan,

Pamekasan - Ada saja kreasi Cagub Khofifah Indar Parawasa dalam menarik simpati masyarkat. Ketika memenuhi undangan masyarkat di Pamekasan dalam acara petik laut. Cagub Jatim nomor urut 1 itu videoblog menayangkan tradisi nelayan tersebut.

Khofifah bersama masyarakat melarung ke tengah laut mengelilingi laut Madura Selatan. Tampak dalam ritual tersebut sejumlah kapal yang dihias. Dalam prosesi itu, Khofifah mengambil video untuk blog.

Di dermaga, masyarakat menyemut. Mereka mengangkat jari telunjuk tanda dukungan ke Khofifah.

"Ini perahunya dicat sendiri, dihias sendiri. Bayangan saya untuk agenda larung, petik laut rasanya perahu-perahu ini akan menjaddi referensi pariwisata Jawa Timur yang luar biasa," kata Khofifah.

"Kita bisa bayangkan kalau misalnya satu perahu ditawarkan untuk rombongan. Karena dengan pulau terdekat sangat memungkinkan untuk destinasi kuliner dengan destinasi wisata. Bagaimana kita memaksimalkan potensi laut, potensi nelayan dan pelahu nelayan menjadi destinasi wisata yang sangat menakjubkan," tambah Khofifah.

Khofifah ingin menciptakan wisata dengan melestarikan kebudayan dan lingkungan hidup di 51 titik potensi pariwisata Jawa Timur. Komitmen tersebut tertuang visi misinya. Yakni terkait wisata, Khofifah dan pasangannya memaksimalkan potensi wisata dengan menjaga harmoni sosial dan alam. (fids)

Wartawan KoranTransparansi tengah menikmati keindahan Kota Padang,Sumatra Barat.

’’Duduak samo randah duduak samo tinggi’’

KEINDAHAN alam dan kekuatan budaya Sumatera Barat dengan ciri khas rumah Gadang memang bukan rahasia lagi, rumah Gadang ibarat stempel buat bumi Minang, sehingga Masjid Raya Padang juga sedang dibangun dengan arsitektur rumah Gadang, hanya menara saja yang menandai bahwa itu masjid tempat beribadah umat Islam.

Arsitektur Masjid Raya Padang Sumatera Barat dengan khas rumah Gadang menunjukkan kekuatan budaya tanah Minang yang khas dan unik, juga punya filosofi serta model dan motif bangunan mempunyai kekuatan tersendiri, ibarat pantun, ’’Rumah Gadang Rumah Kondang, Tanah Minang Menata Pandang’’. 

Artinya bahwa rumah Gadang sudah pasti kondang dan kesohor populer dengan khas Sumatera Barat, sedangkan tanah Minang menata Pandang, karena fisolofi hidup berkeluarga dari rumah gadang ini, dari kecil sudah ditanamkan hidup berpandangan jauh ke depan dengan model pendidikan ala surau (mushola) dan masjid.

Rumah Gadang dalam sejarah perkembangan di tanah Minang ada dua model berbeda, tentu saja dengan fislosofi berbeda pula. ’’Rumah Gadang sebagian besar dari suku Koto dan Piliang serta dari suki Bodi dan Caniago,’’ kata Suaita, Bagian Informasi, Museum Rumah Gadang Dinas Pariwisata, Kota Padang Panjang, saat ditemui, Kamis (8/2).

Menurut dia, rumah Gadang  dari suku Koto dan Piliang mempunyai anjungan kiri dan kanan, sedangkan satu lagi rumah gadang yang dijadikan kantor pariwisata, rumahnya tidak punya anjungan dari suku bodi dan caniago, Rumah dengan model ada anjungan kiri dan kanan sistem pemerintahannya otokasi (disebut di museum Otograsi), sedangkan rumah Gadang dengan model tanpa anjungan sistem pemerintahannya bersifat demokrasi.

Dalam kamus besar dijelaskan bahwa sistem otokrasi adalah suatu bentuk pemerintahan yang kekuasaan politiknya dipegang oleh satu orang. Istilah ini diturunkan dari bahasa Yunani autokratôr yang secara harfiah berarti "berkuasa sendiri" atau "penguasa tunggal"

Model rumah Gadagng dan sistem pemerintahan, kata Ita ---panggikan akrab Suaita---, berpengaruh saat memilih pemimpin suku pada saat datuk meninggal dan harus ada pengganti dari keturunan masing-masing suku itu. ’’

contoh dalam pemberian gelar datuk sistem suku Koto Piliang, ketika datuk meninggal, maka kemenakan langsung diangkat sebagai datuk,’’ katanya.

Sementara di suku Bodi dan Caniago, lanjut Ita, pada saat datuk meninggal, maka  dipilih dulu kemenakan dalam suku yang dianggap paling pantas  mengantikan datuk. ’’Bahkan kalau beberapa kemenangan dianggap pantas, maka dilakukan pemilihan secara terbuka dan demokrastis sekali,’’ tandas Ita.

Budaya Rumah Gadang

Ita menjelaskan, budaya kehiduapan dalam rumah gadang, 1 kamar di rumah gadang dihuni untuk satu keluarga, ukuran kamar di rumah gadang, ukurannya kecil, dimana setiap kamar hanya untuk ayah dan ibu serta anak balita, sedangkan anak laki-laki umur sepuluh tahun dulunya tidur di surau, di surau anak laki-laki mengaji ,belajar adat dan belajar silat.

’’Jadi, anak laki-laki ke rumah Gadang untuk makan dan tukar pakaian saja, siang ke sawah atau ke ladang membantu orang tua, malam tidur ke surau, kenapa anak laki-laki belajar di surau, karena untuk mendapat pendidikan,’’ kata Ita.

Budaya itu, menurut dia, karena pada jaman dulu, cuma orang yang punya duit atau orang kaya saja yang mampu sekolah di kota-kota besar, dan jaman itu sekolah belum sampai ke kampung, ’’Tetapi, kalau anak gadis tidur di anjungan sebelah kiri,’’ ujarnya.

Oleh karena itu, lanjutnya,  kalau duduk menghadap keluar rumah Gadang. Anjungan sebelah kanan digunakan untuk duduk  kalau ada rapat kemenakan duduk di bawah, pepatah adat berbunyi 

’’Bajanjang naiak batanggo turun’’. Itu untuk model rumah Gadang dengan sistem pemerintahan otokrasi, sedangkan, di rumah Gadang model Bodi Caniago, kalau ada musyawarah datuk dan kemenakan duduk di lantai yang sama , pepatah adatnya berbunyi ’’Duduak samo randah duduak samo tinggi’’.

Kontruksi dan Rumah Milik Kaum

Kontruksi rumah Gadang dengan model bangunan agak miring dan tidak diperkuat dengan paku permanen tapi dipasak, ternyata kontruksi itu sangat kuat untuk menyesuaikan pada saat terjadi gempa bumi, sangat fleksibel kalau ada gempa bumi atau sejenis.

’’Kontruksi rumah Gadang dengan model tiangnya tidak lurus mengembang ke atas, dan jendelanya miring mengikuti bentuk tiang, kontruksi ini lebih tahan dari gempa bumi, pada tahun 2007 dan 2009 terjadi gempa, rumah gadang tidak rusak, rumah dari batu banyak yang rusak, kontruksi rumah gadang tidak dipaku tapi dipasak, kalau terjadi gempa tiang di atas bergerak fleksibel mengikuti gerak gempa, peribahasanya,  ’’Condong nan indak mambaok rabah’’.  Artinya miring tapi tak akan rubuh, kokoh rumah Gadangnya.

Sedangkan ada beberapa kamar-kamar kecil di rumah Gadang, tetapi tidak semua keluarga boleh ditinggal di rumah itu, ada ketentuan yang sudah turun temurun mengatur, siapa saja yang berhak dan boleh menempati, dan yang harus meninggalkan rumah Gadang.

 Ita mengatakan, soal penataan kamar, kamar paling ujung kanan, diperuntukan untuk kamar  pengantin, yang baru menikah tinggal. Ketentuannya kalau, ada yang menikah lagi, penghuni kamar paling ujung akan pindah ke kamar sebelahnya, seterusnya sampai kamar paling ujung, kalau sudah tinggal di kamar paling akhir atau paling kiri, maka keluarga tersebut sudah harus keluar rumah Gadang, membuat rumah biasa.

Namun, menurut Ita, biasanya keluarga yang sudah tidak mampu saja lama tinggal di rumah Gadang, tetapi kalau sudah mampu belum sampai kamar paling ujung kiri sudah keluar rumah, membuat rumah sendiri. ’’Bagi yang tidak mampu biasanya diboleh agak lama,’’ ujarnya.

Pada prinsipnya rumah Gadang ialah bukan milik keluarga, tapi milik kaum, ukuran kamar rumah gadang yang kecil, memberi motivasi bagi seorang suami atau seorang bapak, supaya giat bekerja untuk membuatkan rumah untuk anak dan istri, 

Bahkan, budaya menjamu tamu di rumah Gadang, tamu harus duduk menghadap ke arah luar rumah, bukan ke dalam rumah yang mengetahui isi rumah. Filosofi yang terkandung dari rumah milik kaum ini, kalau si tamu menghadap ke dalam, nanti melihat kekurangan yang ada dalam rumah Gadang, 

Oleh karena itu, tata cara itu untuk menghindari jangan sampai terjadi pergunjingan dan fitnah, apabila ada kekurangan tuan rumah, tetapi ruan rumah menghadap ke dalam rumah membesi isyarat kalau ada kekurangan dalam menjamu tamu. 

 ’’Jadi kalau ada tamu harus menghadap keluar, sehingga yang dilihat pemandangan luar, hal merupakan keuntungan bagi tuan rumah, kalau ada makanannya kurang dalam jamuan makan, tuan rumah tidak perlu berteriak minta tambah sama orang  dapur cukup memberi kode, apalagi dapur di rumah Gadang cuma satu, tapi ukurannya panjang, tungku masing keluarga berbeda-beda.

Ukiran Kucing Tidur

.Mengenai ukiran, menurut Ita, bukan sembarang diukir, semua mengandung makna dan ada artinya, karena falsafah ukiran rumah Gadang, ‘\’’ Alam takambang jadi guru, cancang kayu jadi ukiran’’, Maksudnya orang Minang membuat ukiran  berguru ke alam, kayu yang kecil tidak dibuang tapi dijadikan ukiran. Contoh ukiran kuciang lalok (kucing tidur ) mengambarkan sifat orang yang pemalas. Dengan harapan jangan ditiru.

Falsafah lain, ’’Itiak pulang patang melambang’’ Itu menunjukkan sifat disiplin dan keteraturan, ’’pucuak rabuang’’ mengambarkan dari kecil sampai tua berguna untuk orang lain, pepatah adatnya berbunyi  ’’Ketek paguno Gadang tapakai ‘’. 

Di depan rumah gadang berdiri 4 rangkiang ( lumbuang ). Pertama, Rangkiang sitinjau lauik tiangnyo ado 4 padinya digunakan untuk acara adat. Kedua,  Rangkiang sitenggang lapa tiangnya ada 4 padi digunakan u tuk membantu fakir miskin dan untuk cadangan di musim paceklik

Ketiga, Rangkiang si bayau-bayau tiangnya ada 6 padi digunakan untuk makanan sehari-hari, penghuni rumah Gadang. Dan keempat, Rangkiang Harimau pahunyi koto , tiang ada 9 padi digunakan untuk pembangunan di kampung, misal untuk buat masjid , jalan dll. Rangkiang letak nya jauh dari rumah Gadang, kalau terjadi kebakaran, penghuni rumah Gadang tidak akan kebakaran karena padi masih terselamatkan,  Rumah Gadang, kokoh, kondang, kontruksi kuat, kuasa Kaum. (djoko tetuko)

 

Amanda Sihombing, Direktur Ippudo Indonesia.

 

Jakarta (Koran Tramsparansi) - Restoran asal Jepang Ippudo mengaku optimis untuk mengembangkan bisnisnya di Indonesia, hal tersebut akan diwujudkan dengan membuka gerai baru di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta, Pusat.

"Rencananya Juni kami akan buka gerai baru di Grand Indonesia. Sales kami di Indonesia cukup bagus, makanya kami optimistis," kata Amanda Sihombing, Direktur Ippudo Indonesia, di Jakarta, Kamis.

Menurut Amanda, Ippudo memiliki ciri khas sendiri dalam menyajikan ramen, karena menu-menu yang dihadirkan diracik langsung oleh koki dari gerai pusatnya di Jepang.

Misalnya, menu Chicken Ramen yang hanya ada di Indonesia, di mana pihak Ippudo Indonesia meminta koki yang ada di Jepang untuk meracik bumbunya dan kemudian disajikan di restoran yang ada di Tanah Air.

"Jadi, kami meminta Ippudo Jepang untuk membuatkan menu Chicken Ramen, nah nanti koki mereka datang ke sini, tes bahan baku, tes pasar, kemudian kembali ke Jepang untuk mengolahnya. Nah, hasilnya itu kemudian kami hadirkan di sini," ungkap Amanda.

Menurut Amanda, setiap restoran Ippudo yang ada di berbagai negara memiliki menu khas negara masing-masing, misalnya Tomyum Ramen yang ada di Thailand.

Amanda berharap, gerai baru yang akan dibuka nanti akan lebih mendekatkan Ippudo kepada pencinta ramen yang ada di Jakarta.

Hingga saat ini, Ippudo sudah membuka sekitar 50 gerai di berbagai negara, di antaranya New York, London, Hongkong, Chhina, Malaysia, Thailand dan San Francisco.(min)

 Menjelang hari bahagia, Pangeran Harry memutuskan berhenti merokok. Ini juga diumumkan lewat akun Twitter Kensington Palace bahwa pernikahan mereka akan berlangsung pada 19 Mei 2018.

JAKARTA (KT) - Menjelang hari bahagia, dikabarkan Pangeran Harry memutuskan untuk berhenti merokok demi tunangannya Meghan Markle. Orang dalam istana mengatakan pada Hollywood Life bahwa Meghan "sangat senang Harry berhenti merokok" karena dia "tidak suka bau rokok dan tidak suka mencium Harry setelah dia baru merokok".  

Sumber tersebut juga mengatakan bahwa Harry selalu "memakai penyegar nafas setelah merokok, tapi Meghan selalu bisa merasakan tembakau dan bau asap rokok di pakaiannya."

"Meghan tahu betapa sulitnya bagi Harry untuk berhenti, jadi dia sangat mengapresiasi upayanya berhenti merokok untuknya," lanjut sumber itu.

"Harry mengatakan itu hal terkecil yang bisa ia lakukan, melihat Meghan harus pindah ke bagian lain di dunia dan meninggalkan karir akting."

Harry dan Megan sebelumnya mengumumkan lewat akun Twitter Kensington Palace bahwa pernikahan mereka akan berlangsung pada 19 Mei 2018. Meghan juga punya rencana khusus untuk gaun pernikahan yang dirumorkan bernilai sekitar 50.000 dolar AS.

"Meghan sangat menyukai mode dan dia sangat senang membuat gaun pernikahan sempurna," kata sumber yang dekat pada pasangan itu terhadap Hollywood Life.

"Meghan sedang memikirkan cara kreatif untuk menggabungkan kenangan tentang Putri Diana ke dalam hari paling penting dalam hidupnya, dan dia sudah sering berdiskusi dengan Elizabeth Emanuel, perancang gaun pernikahan Diana." (reuters/ant/kh)

Festival Durian Ngawi Pengunjung memilih durian di sebuah stand saat Festival Durian di Karanggubito, Kendal, Kabupaten

NGAWI (KT) - Durian hasil panen petani di lereng Gunung Lawu yang terdapat di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur banyak disukai warga saat musim durian jelang akhir tahun seperti ini.

Salah satunya adalah durian hasil panen yang ditanam oleh Kuwat warga Desa Karanggupito, Kecamatan Kedal, Kabupaten Ngawi. Setiap hari saat musim durian, rumahnya selalu didatangi para pecinta buah beraroma tajam tersebut.   

"Sejak memasuki musim durian, para petani rata-rata bisa menjual sekitar 150 hingga 200 buah durian setiap harinya," ujar Kuwat kepada Wartawan    

Adapun durian yang disediakan di Kampung Durian tersebut adalah durian jenis montong, mentega, dan petruk. Rasanya tak diragukan lagi, manis, sedikit pahit, namun banyak diburu.   

Aneka macam jenis durian tersebut, bukan dibeli atau didatangkan dari luar daerah, akan tetapi berasal dari kebun durian milik warga setempat, termasuk Kuwat.  

Harga yang dipatok bervariasi, mulai dari Rp20 ribu hingga Rp100 ribu per buah tergantung dari ukuran dan jenis duriannya yang dibeli konsumen.   

"Yang datang kesini dari sejumlah daerah di sekitar Ngawi. Seperti Madiun, Magetan, Ponorogo, dan Ngawi sendiri," kata Kuwat.   

Pihaknya menggaransi jika pembeli belum puas dengan durian yang dimakannya, bisa memintanya untuk petik langsung dari pohon. 

Sementara, salah satu pembeli asal Magetan Yessy mengaku sangat suka dengan durian hasil panenan petani Karanggupito.     

"Setiap musim durian, saya bersama keluarga selalu datang ke Karangupito untuk menikmati durian yang dipetik langsung dari pohon," kata Yessy.    

Ia merasa mengaku puas. Selain rasanya yang khas, penjual akan langsung menggantinya apabila durian yang dibelinya rusak atau busuk.    

Di saat musim durian tersebut, Kampung Durian di Desa Karanggupito, Kecamatan Kendal selalu menjadi jujukan kuliner petik buah durian langsung dar pohon. Kondisi tersebut cukup menarik pengunjung luar daerah untuk datang ke Kabupaten Ngawi dan berimbas meningkatkan pendapatan warga setempat. (rin)

banner

Berita Terkini

> BERITA TERKINI lainnya ...