Archipelago

Published in Archipelago

Miskin, Sakit Menahun, Badan Pak Ajir Tinggal Tulang Belulang

Jun 17, 2018 Publish by 
  Foto  : Usianya sudah hampir 100 tahun. Kini menderita sakit hampir empat tahun lamanya. Tidak mampu brobat ke Puskesmas atau dokter karena tidak punya biaya. Bahkan untuk makan saja tidak ada.
Foto : Usianya sudah hampir 100 tahun. Kini menderita sakit hampir empat tahun lamanya. Tidak mampu brobat ke Puskesmas atau dokter karena tidak punya biaya. Bahkan untuk makan saja tidak ada. (kt/min)

NGAWI (KoranTransparansi.com) – Kakek ini kondisinya makin memperihatinkan. Namanya Muhajir, usianya mendekati 100 tahun (tepatnya 98 tahun). Lantaran tidak punya biaya untuk berobat, akhirnya hanya pasrah dengan keadaan dan berbaring selama hamir 4 tahun. Badannya terus tergerus dengan penyakit dan kini tinggal tulang belulang yang terlihat menonjol keluar.

Muhajir tinggal di Dusun Jatisari, Desa Babadan, Kecamatan Paron Ngawi, Jawa Timur. Sekitar 2 km dari tempat wisata hutan yaitu alas Ketonggo. Kakek ini pasrah dengan keadaan. Sebab untuk memeriksakan kesehatannya di Puskemas atau rumah sakit, sangat tidak mungkin. Tidak ada biaya. 

Jangankan untuk berobat ke Puskesmas atau memeriksakan ke dokter, untuk makan sehari hari saja tidak ada. BPJS juga tidak punya.

Muhajir tinggal serumah dengan istrinya, juga sudah tua dan anaknya Tohari. Tohari memiliki empat saudara yang semuanya sudah berkeluarga dan tinggal berjauhan.

Beberapa kali Pak Ajir, demikian orang kampung memanggilnya mengeluh kesakitan di  bagian perut dan sekujur tubunnya terasa panas. Ditubuh Pak Ajir tidak ada  bekas luka, tidak ada benjolan atau memar misalnya.  Tapi badanya terus mengering. Malahan kini hanya tinggal tulang belulang .

Pak Ajir tinggal dirumah yang sangat sederhana. Tidurnya di lantai tanah dibalut dengan tikar dan kasur seadanya, lusuk.   

Sedangkan Tohari juga tidak memiliki pekerjaan tetap. Untuk mencukupui kebutuhan dapur dan membiayai orang tuanya, Tohari hanya menunggu  tetangganya yang memanfaatkan jasa tenaganya. Itupun tidak bisa berlama lama meninggalkan rumah.

Tohari ketika ditemui koran ini menceritakan,  awalnya bapak hanya menderita sakit panas saja. Pernah diperiksakan ke  Puskesmas. Saat itu hanya sakit ringan biasa. Setelah diberi obat , lalu pulang. "Bapak ini sebenarnya tidak pernah menderita sakit  sampai parah," kata Tohari.

Setiap harinya, makan Pak Ajir normal seperti layaknya orang biasa saja , nasi putih dan air putih. Pagi paling dua atau tiga sendok, juga siang dan sore hari.    

Diceritakan oleh Tohari , dua tahun lalu pernah sakit keras. Malah kelurga dan tetangganya sempat menyatakan meninggal lantaran denyut  nadinya tidak begerak sama sekali. Mata sudah memejam dan lemas. Bahkan oleh tetangga kanan kiri sudah dibacakan surat Yasin. 

Namun setelah pembacaan surat  Yasin selesai, tak lama bapak bangun .  Betapa kagetnya Bapak malah bangun. Matanya membuka lebar dan denyut nadinya normal lagi. Kejadian itu sampai tiga kali dengan rentan  waktu dua sampai empat bulan. Malahan yang terakhir warga sudah mau mengumumkan melalui pengeras suara Masjid. 

Tohari menjelaskan, upaya pengobatan hanya dengan meminta tolong pada orang pintar untuk mengambil kemungkinan memiliki  ajimat. Tanda punya ajimat sangat kuat karena beberapa kali bapaknya selalu tanya kemana tekennya (tongkat).

Tekennya berupa bambu dengan diamater 2 cm dan panjang satu meteran. Pada suatu ketika teken itu datang sendiri. Tiba tiba   ada dibawah tikar  tempat  tidur. Lalu Pak Hajir terlihat lebih segar.

Lalu kemana teken itu sekarang ? Menurut  Tohari, teken itu sudah dilarung di sungai. Ini juga atas saran dari orang pinter tadi.  Berobat ke orang pinter sudah sampai 5 orang. Malahan ada sehabis mengobati, besoknya, tiga orang keluarganya mendadak  masuk rumah sakit. Ada juga yang tidak mau meneruskan. 

Menurut tetangganya, ketika masih sehat, Pak Hajir selalu bercerita tentang masa penjajahan Jepang. Dia aktif menjaga kampung dan suka puasa. Sejak muda, Pak hajir lebih banyak hidup di ponpes yang kebetulan  letak ponpesnya hanya tetangga desa. (min)

banner

Berita Terkini

> BERITA TERKINI lainnya ...