Archipelago

Analisa Penawaran dan Permintaan pasar tradisional Pasar Soponyono dan Pasar Paing Kecamatan Rungkut Surabaya menggunakan Sistem Informasi Geografi

Oleh : Prof. Ir. Hening Widi Oetomo, MM, PhD.

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STIESIA) Surabaya

Perubahan pola kehidupan dan kebutuhan masyarakat dalam memenuhi keinginan dan kebutuhan masyarakat untuk keperluan hidup sehari-hari memunculkan berbagai fasilitas perbelanjaan. Pasar sebagai salah satu fasilitas perbelanjaan selama ini sudah menyatu dan memiliki tempat penting dalam kehidupan masyarakat.

Bagi masyarakat, pasar bukan sekedar tempat bertemunya penjual dan pembeli. Pasar juga wadah interaksi sosial dan representasi nilai-nilai tradisional.Pasar tradisional merupakan tempat bertemunya penjual dan pembeli serta ditandai dengan adanya transaksi penjual pembeli secara langsung.Bangunan biasanya terdiri dari kios-kios yang dibuka oleh penjual maupun suatu pengelola pasar. Pasar tradisional merupakan ciri pada negara berkembang. Tingkat pendapatan dan perekonomian masyaratakat kurang begitu tinggi. Hal ini menyebabkan masyarakat lebih suka berbelanja ke pasar tradisional.Akan tetapi seiring dengan perkembangan zaman, budaya masyarakat Indonesia sudah mulai bergeser. Kegiatan-kegiatan besar dan lebih modern telah memasuki banyak perkotaan di Indonesia.

Banyak investor yang masuk ke Indonesia untuk membangun pasar-pasar modern yang menampung kegiatan-kegiatan besar. Era globalisasi ini banyak bermunculan pasar-pasar modern. Dibangun dengan segala kelebihan dan fasilitasnya serta kelengkapannya dalam memperjualbelikan barang-barang kebutuhan masyarakat. Kehadiran pasar modern, terutama supermarket dan hypermart dianggap oleh berbagai kalangan telah menyudutkan keberadaan pasar tradisional.

Pasar tradisional merupakan tempat bertemunya penjual dan pembeli serta ditandai dengan adanya transaksi penjual pembeli secara langsung dan biasanya ada proses tawar-menawar, bangunan biasanya terdiri dari kios-kios, los dan dasaran terbuka yang dibuka oleh penjual maupun suatu pengelola pasar. Kebanyakan menjual kebutuhan sehari-hari seperti bahan-bahan makanan berupa ikan, buah, sayur-sayuran, telur, daging, kain, pakaian barang elektronik, jasa dan lain-lain. Selain itu, ada pula yang menjual kue-kue dan barang-barang lainnya. Kelebihan dari pasar ini adalah harga barangnya yang terjangkau, area penjualan yang biasanya luas, dan merupakan salah satu pendongkrak perekonomian kalangan menengah kebawah. 

Penelitian tentang pola persebaran pasar tradisional dan pasar modern di Kota Surakarta telah dilakukan oleh Aditya Sigid Nugraha (2013) menggunakan analisis tetangga terdekat (Nearest Neighbour Analysis) dengan mencari skala t. Proses perhitungannya memanfaatkan aplikasi sistem informasi geografis. Hasil yang diperoleh dari analisis tetangga terdekat (nearest neighbour analysis) secara otomasi menggunakan arcview bahwa baik pasar tradisional dan pasar  modern  memiliki  pola  persebaran  mengelompok.  Hal  ini  dimungkinkan karena  sebagian  pasar  tradisional,   dan  pasar  modern  letaknya  tidak  saling berjauhan.

Persebaran pasar tradisional dan pasar modern terhadap titik pusat kota dimana pusat pemerintahan Balai Kota Surakarta sebagai acuan dengan membuat ring lingkaran setiap satu kilometer hingga titik terjauh sampai dengan sepuluh kilometer untuk mengetahui persebaran pasarnya terhadap pusat kota. Hasilnya adalah perkembangan ataupun persebarannya  tidak  bergantung  pada  kawasan  central  business  district  (CBD) karena  beberapa  pasar  tradisional  telah  ada  sebelum  terbentuknya   kawasan tersebut, sedangkan untuk pasar modern perkembangannya lebih dipengaruhi atau berada pada jalur utama menuju kawasan central business district (CBD). Aksesibiltas berdasarkan fungsi jalannya tidak berpengaruh pada pasar tradisional namun pertumbuhan  pasar modern  akan sangat memperhatikan  konektifitasnya terhadap klas fungsi jalannya. 

Penelitian ini juga tentang pasar tradisional namun sedikit berbeda dengan penelitian Aditya Sigid Nugraha (2013). Penelitian ini di fokuskan pada permintaan dan penawaran sekitar lokasi pada radius 1 km terhadap 2 buah pasar tradisional yaitu Pasar Paing dan Pasar Soponyono Kecamatan Rungkut Surabaya.  Pertanyaan yang ada pada penelitian ini adalah bagaimana Indeks penawaran dan permintaan pada Pasar Paing dan Pasar Soponyono Kecamatan Rungkut Surabaya. Lokasi Pasar Paing dan Pasar Soponyono Kecamatan Rungkut ditunjukkan pada gambar berikut. 

Data yang dikumpulkan untuk menunjukkan permintaan dan penawaran merupakan data ruangan dan data bukan ruangan di Pasar Soponyono dan Pasar Paing Kecamatan Rungkut. Data ruangan dikumpulkan melalui Sistem Informasi Geografi menggunakan alat Global Positioning System (GPS) sedangkan data bukan ruangan dikumpulkan melalui observasi lapangan. Setelah data ditabulasi maka akan dihitung tingkat permintaan dan tingkat penawaran pasar dengan menggunakan Model Index. Model adalah representasi sederhana dari sebuah fenomena atau sistem.

Model Index akan menghitung nilai index dari setiap unit kawasan yang melibatkan banyak kriteria dan pembobotan (Kang Tsu Chang, 2008).  Secara umum ada 3 langkah dalam menghitung nilai Index sebagai berikut, Pertama, Mengevaluasi tingkat kepentingan relatif masing-masing kriteria terhadap kriteria yang lain atau pembobotan. Kedua,  Standarisasi data untuk masing-masing criteria dan ketiga,  menghitung nilai Index dengan jalan menjumlahkan hasil perkalian antara pembobotan dengan nilai standar masing-masing kriteria. 

Penawaran dari Pasar Pasar Soponyono dan Pasar Paing Kecamatan Rungkut dilakukan dengan pendekatan aktifitas disekitar pasar dalam radius 1 kilometer. Dengan pendekatan tersebut maka terdapat 4 kriteria untuk penawaran yaitu Jumlah pasar dalam radius 1 km, Jumlah Mini market dalam radius 1 km, Jumlah Restoran dalam radius 1 km dan Jumlah Toko Kelontong dalam radius 1 km. Nilai index penawaran minimal adalah 1 dan maksimal adalah 5. Nilai index pemasaran paling kecil adalah 1 atau sangat rendah sampai yang terbesar adalah 5 atau sangat tinggi.

Permintaan dari Pasar Pasar Soponyono dan Pasar Paing Kecamatan Rungkut dilakukan dengan pendekatan aktifitas disekitar pasar dalam radius 1 kilometer. Dengan pendekatan tersebut maka terdapat 4 kriteria untuk penawaran yaitu Jumlah perkantoran dalam radius 1 km, Jumlah Sekolah dalam radius 1 km, Jumlah Lembaga Keuangan dalam radus 1 km, Jumlah Tempat Ibadah dalam radius 1 km. Nilai index penawaran minimal adalah 1 dan maksimal adalah 5. Nilai index permintaan paling kecil adalah 1 atau sangat rendah sampai yang terbesar adalah 5 atau sangat tinggi. Hasil perhitungan untuk pasar Soponyono adalah Indeks Penawaran mempunyai nilai 3,27 sedangkan Indeks Permintaan mempunyai nilai 3,77 sedangkan Indeks Penawaran pasar Paing adalah 3,12 sedangkan Indeks Permintaan pasar Paing adalah 4,04.

Hasil perhitungan untuk Pasar Soponyono menunjukkan bahwa Nilai Indeks Permintaan lebih tinggi dibanding dengan Indeks Pernawarannya sehingga pada kawasan pasar Soponyono masih dimungkinkan untuk pendirian pasar baru. Demikian juga untuk Pasar Paing mempunyai Nilai Indeks Permintaan lebih tinggi dibanding dengan Indeks Pernawarannya sehingga pada kawasan pasar Paing masih dimungkinkan untuk pendirian pasar baru. Untuk lokasi pasar baru diperlukan  survey oleh pihak eksternal yang netral dan tidak berpihak. Penelitian ini menyumbangkan metode untuk penilaian permintaan dan penawaran dengan metode Index Model namun untuk kecukupan data dan akurasi diperlukan penelitian lebih lanjut.

Simpulan dari penelitian  telah menjawab pertanyaan tentang bagaimana permintaan dan penawaran pasar tradisional di Pasar Soponyono dan Pasar Paing. Teknik yang digunakan untuk menyelesaikan masalah adalah mengintegrasikan teknik statistik dan sistem informasi geografi. Teknik statistik digunakan untuk merencanakan bobot dan nilai standarisasi setiap indikator penawaran dan permintaan. Adapaun Sistem Informasi Geografi digunakan untuk mengumpulkan data koordinat objek, analisis overlay, untuk menghitung jumlah objek dalam  radius tertentu. Hasilnya adalah nilai indeks permintaan lebih tinggi dibanding indeks penawaran pasar baik di pasar Soponyono maupun di pasar Paing.

Untuk pendirian pasar baru diperlukan  kajian secara hukum, kenyamanan publik dan lain lain sehingga pasar baru benar-benar layak dari semua aspek yang terkait. Keterbatasan dalam penelitian ini adalah kecukupan data yang masih rendah namun penelitian ini telah menyumbangkan metode Index Model sebagai salah satu metode untuk menghitung indeks permintaan dan penawaran yang bisa diterapkan untuk berbagai objek penelitian. Bagaimana pendapat Anda ?

 

 

Prof. Ir. Hening Widi Oetomo, MM, PhD.Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STIESIA) Surabaya

Oleh : Prof. Ir. Hening Widi Oetomo, MM, PhD.

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STIESIA) Surabaya

PERUBAHAN pola kehidupan dan kebutuhan masyarakat dalam memenuhi keinginan dan kebutuhan masyarakat untuk keperluan hidup sehari-hari memunculkan berbagai fasilitas perbelanjaan. Pasar sebagai salah satu fasilitas perbelanjaan selama ini sudah menyatu dan memiliki tempat penting dalam kehidupan masyarakat.

Bagi masyarakat, pasar bukan sekedar tempat bertemunya penjual dan pembeli. Pasar juga wadah interaksi sosial dan representasi nilai-nilai tradisional.Pasar tradisional merupakan tempat bertemunya penjual dan pembeli serta ditandai dengan adanya transaksi penjual pembeli secara langsung.

Bangunan biasanya terdiri dari kios-kios yang dibuka oleh penjual maupun suatu pengelola pasar. Pasar tradisional merupakan ciri pada negara berkembang. Tingkat pendapatan dan perekonomian masyaratakat kurang begitu tinggi. Hal ini menyebabkan masyarakat lebih suka berbelanja ke pasar tradisional.Akan tetapi seiring dengan perkembangan zaman, budaya masyarakat Indonesia sudah mulai bergeser.

Kegiatan-kegiatan besar dan lebih modern telah memasuki banyak perkotaan di Indonesia. Banyak investor yang masuk ke Indonesia untuk membangun pasar-pasar modern yang menampung kegiatan-kegiatan besar. Era globalisasi ini banyak bermunculan pasar-pasar modern. Dibangun dengan segala kelebihan dan fasilitasnya serta kelengkapannya dalam memperjualbelikan barang-barang kebutuhan masyarakat.

Kehadiran pasar modern, terutama supermarket dan hypermart dianggap oleh berbagai kalangan telah menyudutkan keberadaan pasar tradisional. Pasar tradisional merupakan tempat bertemunya penjual dan pembeli serta ditandai dengan adanya transaksi penjual pembeli secara langsung dan biasanya ada proses tawar-menawar, bangunan biasanya terdiri dari kios-kios, los dan dasaran terbuka yang dibuka oleh penjual maupun suatu pengelola pasar.

Kebanyakan menjual kebutuhan sehari-hari seperti bahan-bahan makanan berupa ikan, buah, sayur-sayuran, telur, daging, kain, pakaian barang elektronik, jasa dan lain-lain. Selain itu, ada pula yang menjual kue-kue dan barang-barang lainnya. Kelebihan dari pasar ini adalah harga barangnya yang terjangkau, area penjualan yang biasanya luas, dan merupakan salah satu pendongkrak perekonomian kalangan menengah kebawah.

Penelitian tentang pola persebaran pasar tradisional dan pasar modern di Kota Surakarta telah dilakukan oleh Aditya Sigid Nugraha (2013) menggunakan analisis tetangga terdekat (Nearest Neighbour Analysis) dengan mencari skala t.

Proses perhitungannya memanfaatkan aplikasi sistem informasi geografis. Hasil yang diperoleh dari analisis tetangga terdekat (nearest neighbour analysis) secara otomasi menggunakan arcview bahwa baik pasar tradisional dan pasar  modern  memiliki  pola  persebaran  mengelompok.  Hal  ini  dimungkinkan karena  sebagian  pasar  tradisional,   dan  pasar  modern  letaknya  tidak  saling berjauhan.

Persebaran pasar tradisional dan pasar modern terhadap titik pusat kota dimana pusat pemerintahan Balai Kota Surakarta sebagai acuan dengan membuat ring lingkaran setiap satu kilometer hingga titik terjauh sampai dengan sepuluh kilometer untuk mengetahui persebaran pasarnya terhadap pusat kota.

Hasilnya adalah perkembangan ataupun persebarannya  tidak  bergantung  pada  kawasan  central  business  district  (CBD) karena  beberapa  pasar  tradisional  telah  ada  sebelum  terbentuknya   kawasan tersebut, sedangkan untuk pasar modern perkembangannya lebih dipengaruhi atau berada pada jalur utama menuju kawasan central business district (CBD).

Aksesibiltas berdasarkan fungsi jalannya tidak berpengaruh pada pasar tradisional namun pertumbuhan  pasar modern  akan sangat memperhatikan  konektifitasnya terhadap klas fungsi jalannya.

Penelitian ini juga tentang pasar tradisional namun sedikit berbeda dengan penelitian Aditya Sigid Nugraha (2013). Penelitian ini di fokuskan pada permintaan dan penawaran sekitar lokasi pada radius 1 km terhadap 2 buah pasar tradisional yaitu Pasar Paing dan Pasar Soponyono Kecamatan Rungkut Surabaya. 

Pertanyaan yang ada pada penelitian ini adalah bagaimana Indeks penawaran dan permintaan pada Pasar Paing dan Pasar Soponyono Kecamatan Rungkut Surabaya. Lokasi Pasar Paing dan Pasar Soponyono Kecamatan Rungkut ditunjukkan pada gambar berikut.

Data yangdikumpulkan untuk menunjukkan permintaan dan penawaran merupakan data ruangan dan data bukan ruangan di Pasar Soponyono dan Pasar Paing Kecamatan Rungkut. Data ruangan dikumpulkan melalui Sistem Informasi Geografi menggunakan alat Global Positioning System (GPS) sedangkan data bukan ruangan dikumpulkan melalui observasi lapangan.

Setelah data ditabulasi maka akan dihitung tingkat permintaan dan tingkat penawaran pasar dengan menggunakan Model Index. Model adalah representasi sederhana dari sebuah fenomena atau sistem. Model Index akan menghitung nilai index dari setiap unit kawasan yang melibatkan banyak kriteria dan pembobotan (Kang Tsu Chang, 2008). 

Secara umum ada 3 langkah dalam menghitung nilai Index sebagai berikut, Pertama, Mengevaluasi tingkat kepentingan relatif masing-masing kriteria terhadap kriteria yang lain atau pembobotan. Kedua,  Standarisasi data untuk masing-masing criteria dan ketiga,  menghitung nilai Index dengan jalan menjumlahkan hasil perkalian antara pembobotan dengan nilai standar masing-masing kriteria.

Penawaran dari Pasar Pasar Soponyono dan Pasar Paing Kecamatan Rungkut dilakukan dengan pendekatan aktifitas disekitar pasar dalam radius 1 kilometer. Dengan pendekatan tersebut maka terdapat 4 kriteria untuk penawaran yaitu Jumlah pasar dalam radius 1 km, Jumlah Mini market dalam radius 1 km, Jumlah Restoran dalam radius 1 km dan Jumlah Toko Kelontong dalam radius 1 km. Nilai index penawaran minimal adalah 1 dan maksimal adalah 5.

Nilai index pemasaran paling kecil adalah 1 atau sangat rendah sampai yang terbesar adalah 5 atau sangat tinggi. 

Permintaan dari Pasar Pasar Soponyono dan Pasar Paing Kecamatan Rungkut dilakukan dengan pendekatan aktifitas disekitar pasar dalam radius 1 kilometer. Dengan pendekatan tersebut maka terdapat 4 kriteria untuk penawaran yaitu Jumlah perkantoran dalam radius 1 km, Jumlah Sekolah dalam radius 1 km, Jumlah Lembaga Keuangan dalam radus 1 km, Jumlah Tempat Ibadah dalam radius 1 km.

Nilai index penawaran minimal adalah 1 dan maksimal adalah 5. Nilai index permintaan paling kecil adalah 1 atau sangat rendah sampai yang terbesar adalah 5 atau sangat tinggi. Hasil perhitungan untuk pasar Soponyono adalah Indeks Penawaran mempunyai nilai 3,27 sedangkan Indeks Permintaan mempunyai nilai 3,77 sedangkan Indeks Penawaran pasar Paing adalah 3,12 sedangkan Indeks Permintaan pasar Paing adalah 4,04.

Hasil perhitungan untuk Pasar Soponyono menunjukkan bahwa Nilai Indeks Permintaan lebih tinggi dibanding dengan Indeks Pernawarannya sehingga pada kawasan pasar Soponyono masih dimungkinkan untuk pendirian pasar baru.

Demikian juga untuk Pasar Paing mempunyai Nilai Indeks Permintaan lebih tinggi dibanding dengan Indeks Pernawarannya sehingga pada kawasan pasar Paing masih dimungkinkan untuk pendirian pasar baru.

Untuk lokasi pasar baru diperlukan  survey oleh pihak eksternal yang netral dan tidak berpihak. Penelitian ini menyumbangkan metode untuk penilaian permintaan dan penawaran dengan metode Index Model namun untuk kecukupan data dan akurasi diperlukan penelitian lebih lanjut

Simpulan dari penelitian  telah menjawab pertanyaan tentang bagaimana permintaan dan penawaran pasar tradisional di Pasar Soponyono dan Pasar Paing.

Teknik yang digunakan untuk menyelesaikan masalah adalah mengintegrasikan teknik statistik dan sistem informasi geografi. Teknik statistik digunakan untuk merencanakan bobot dan nilai standarisasi setiap indikator penawaran dan permintaan. 

Adapaun Sistem Informasi Geografi digunakan untuk mengumpulkan data koordinat objek, analisis overlay, untuk menghitung jumlah objek dalam  radius tertentu. Hasilnya adalah nilai indeks permintaan lebih tinggi dibanding indeks penawaran pasar baik di pasar Soponyono maupun di pasar Paing.

Untuk pendirian pasar baru diperlukan  kajian secara hukum, kenyamanan publik dan lain lain sehingga pasar baru benar-benar layak dari semua aspek yang terkait.

Keterbatasan dalam penelitian ini adalah kecukupan data yang masih rendah namun penelitian ini telah menyumbangkan metode Index Model sebagai salah satu metode untuk menghitung indeks permintaan dan penawaran yang bisa diterapkan untuk berbagai objek penelitian. Bagaimana pendapat Anda ?

 Teuku Zacky (paling kanan) dan tim Aerotravel dalam rapat koordinasi dengan panitia dan Kowani di Yogyakarta, Selasa (11/9/2018) soal persiapan akhir pelaksanaan Sidang Umum ke-35 ICW dan Temu Nasional Seribu Organisasi Perempuan Indonesia, 11-20 Septeber 2018.

Yogyakarta (KoranTransparansi.com) - Banyak orang sudah tahu aktor Teuku Zacky telah lebih dari lima tahun terakhir bergelut dengan bisnis penyelenggara acara alias "event organizer" (EO).

Namun belum banyak yang tahu bahwa pria berdarah Aceh kelahiran Bandung 23 Januari 1983 ini kini sedang bergabung bersama Aerotravel, anak perusahaan PT Garuda Indonesia, selaku MICE (Meeting, Incentive, Convention and Exhibition) organizer.         

Aktor film "Obama Anak Menteng" (2010) ini sedang menggarap Sidang Umum ke-35 ICW (International Council of Women), organisasi perempuan dunia di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan Temu Nasional Seribu Organisasi Perempuan Indonesia, di Hotel Grand Inna Malioboro, Yogyakarta, yang seluruh rangkaian acaranya berlangsung 11 hingga 20 September 2018.

Suami Ilmira Usmanova dan ayah dua anak ini menjelaskan berbagai kesiapan akhirnya saat rapat koordinasi bersama panitia dan Kowani (Kongres Wanita Indonesia).

Ia menjelaskan soal pembuatan tanda pengenal bagi delegasi dan peserta yang berjumlah sekitar seribuan perempuan luar negeri dan dari berbagai daerah, termasuk tamu undangan lainnya, soal pengaturan tempat duduk, konsumsi, dan sebagainya.

"Persiapannya harus matang," kata pria setinggi 187 centimeter dan berbrewok dan berkumis, saat menjelaskan acara yang dijadwalkan akan menghadirkan Presiden Joko Widodo pada upacara pembukaan yang akan berlangsung pada Kamis (14/9).

Teuku Zacky saat menjelaskan persiapan akhir pelaksanaan Sidang Umum ke-35 ICW dan Temu Nasional Seribu Organisasi Perempuan Indonesia, dalam rapat koordinasi dengan panitia pelaksana dan Kowani.(kh)

 Temanten diapit kedua ortunya Teguh Lulus Racxhmadi-Endang Kusumawati (kiri) dan  Alex I Gusti Putu Subawa- Claudia Ni Ketut Sekarini.

SURABAYA (KoranTransparansi.com)  – Wakil ketua bidang kesejahteraan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Timur Teguh Lulus Rachmadi-Endang Kusumawati menggelar resepsi pernikahan putra bungsu (dua bersaudara) Alvin Havianto (Alvin) di Islamic Center Jalan Dukuh Kupang Surabaya, Selasa
(4/9/2018) malam.

Alvin, panggilan akrap Alvin Havianto mempersunting kekasihnya Lidwina Ni Gusti AP Novianty (Wina) , putri dari pasangan Alex I Gusti Putu Subawa- Claudia Ni Ketut Sekarini.

Resepsi yang dimulai tepat pukul 19.00 tersebut berlangsung sangat meriah dengan iringen musik elektone dan MC Samsi. Hadir pula Kepala Biro Humas & Protokol Pemprov Jawa Timur Aries Agung Paewi lengkap dengan Kabag dan Kasubagnya, Kepala Dinas Pemuda & Olahraga Pemprov Jatim Supratomo, Sudjono, mantan Kepala Dinas Perpustakaan & Kearsipan. Dan beberapa pejabat dilingkungan Pemprov  Jawa Timur.

Selain itu juga sahabat sahabat PWI Hadiaman Santoso, Arifin BH, Ketua Stikosa-AWS DR Ismoyo Herdono, Pimpred Harian Bhirawa Nawang Esti, Sekretaris PWI Jatim Eko Pamudji, Amak Syarifudin, Dosen senior Stikosa AWS  Zainal Arifin dan puluhan wartawan lainnya.

Sedangkan penerima tamu Teguh LR sengaja menempatankan sahabat sahabatnya wartawan Pokja yang biasa ngepos di lingkungan PemprovJatim yang dikoordinasi Fiqih Arvani dan beberapa keluarga mempelai.

Selamat bahagia Mas Alvin-Mbak Wina .. (fir)

Kepala Kepolisian Resort Donggala, AKBP Ferdinand Suwarji (baju biru)

PALU (KoranTransparansi.com) – Kepala Kepolisian Resort Donggala, AKBP Ferdinand Suwarji didampingi Kabag Ops AKP Andi Syaiful Arif pada Jumat malam, (27/7/2018) menggelar tatap muka bersama para wartawan, di Triple F, Jalan Mangunsarkoro, Kota Palu, Sulawesi Tengah.

Dalam tatap muka bersama wartawan dari berbagai media itu, Kapolres mengharapkan masukan dan saran serta kritikan dalam menjalankan tugas di wilayah Polres Donggala.

Kapolres menjelaskan, pertemuan silaturahmi ini  diharapkan dapat meningkatkan kerja sama dalam bidang pelayanan publik terhadap masyarakat yang ada diwilayah Donggala.

“Saya meminta dukungan dari teman-teman wartawan dalam menjalankan kerja-kerja institusi kepolisian di Donggala. Jika ada kesalahan yang kami lakukan dalam bertugas mohon jangan sungkan untuk mengkritik,” ujarnya.(R.Nur)
Para pembeli Mie Nyonyor

BANYUWANGI (KoranTransparansi.com) - Apabila mencari rumah makan, restaurant, cafe, atau tempat makan lainnya yang laris dan beromset besar sudah biasa. Tapi mencari tempat makan yang jujur membayar pajak sesuai dengan omset yang didapat itu baru langka.

Di Banyuwangi, terdapat warung rumahan yang membayar pajak dengan jujur. Bahkan warung ini bisa membayar pajak Rp 1 juta tiap harinya. Bisa dibayangkan berapa jumlah omsetnya.

Warung itu adalah Mie Nyonyor, yang terletak di Jalan Medang Kamulan 8, Tamanbaru, Kecamatan Banyuwangi Kota. Lokasi warung ini sebenarnya tidak strategis, terletak di komplek perumahan. Warung ini sekaligus menjadi tempat tinggal pemiliknya, Fendra Agoprilla Putra (29).

"Apa yang saya dapat sudah cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Sekarang, apa salahnya membayar sesuatu yang merupakan kewajiban. Itu juga untuk kepentingan umum yang kita juga yang menikmati. Apalagi pemerintah sudah ," kata pria yang akrab disapa Ago tersebut, Rabu (18/7).

Dengan terbuka Ago menjelaskan berapa jumlah omsetnya tiap hari. Rata-rata pengunjung yang datang ke warungnya sekitar 200 hingga 300 orang per hari dengan omset mencapai  Rp 4-5 juta. Tiap hari, warungnya menghabiskan 4-6 dus mie kering. Satu dus isi 20 mie kering, yang bisa menjadi 60 porsi mie.

“Namun, saat weekend atau usai libur panjang pengunjunganya bisa meningkat 2 – 3 kali lipat. Seperti habis Lebaran kemarin, omset saya mencapai Rp 10 juta per harinya," kata Ago.

Meski omsetnya besar, namun Ago tidak serta merta lupa melaksanakan kewajibannya sebagai wajib pajak. Sejak tiga tahun lalu, saat dia dikenalkan aturan pajak restoran, Ago langsung membayar pajak secara teratur.

"Awalnya kami menghitung manual, kira-kira berapa yang harus kami bayarkan dari pengunjung yang hadir. Sejak tiga bulan lalu dibantu pemkab menggunakan alat tax monitor, kami justru terbantu. Kami bisa memantau berapa jumlah pajak yang dibayarkan," kata pria berusia 28 tahun itu.

Dengan demikian, rata-rata warung ini membayar pajak Rp 500.000 hingga Rp 1 juta bahkan lebih tiap harinya tergantung jumlah pengunjung. Ini terlihat dari tax monitor yang memantau pembayaran pajak. Di Banyuwangi usaha rumah makan dikenakan pajak 10 persen.

Usaha yang dirintis Ago itu tidak serta merta seperti saat ini. Ago mengawali dunia bisnis sejak masih kuliah. Alumni Untag Banyuwangi itu, mengawalinya dengan berjualan bakso. "Setelah lulus saya mulai gelisah, karena cita rasa bakso buatan saya belum terlalu meyakinkan menurut saya,” bebernya.

Melihat banyak daerah yang lagi booming dengan mie pedas berlevel-level, akhirnya Ago mulai merintis mie level tersebut mulai 2012. "Awalnya saya pasarkan pada teman-teman kuliah saya ternyata sambutannya positif, dibilang enak. sehingga saya memutuskan untuk membuka warung," jelas Ago.

Awalnya pelanggan Ago adalah teman-teman kuliahnya. Lama-kelamaan mulai banyak pembeli yang berdatangan. "Dulu saya terapkan kuis di medsos, dan pemenangnya bisa makan gratis di sini. Lama kelamaan mulai banyak yang datang," tambahnya.

Setelah sukses dengan warung Mie Nyonyor, Ago membuka pintu bagi mereka yang ingin berwirausaha. Ago mempersilahkan siapa saja yang ingin belajar membuat mie ala Mie Nyonyor, datang ke tempatnya tanpa dipungut biaya.

"Saya tidak membuka franchise. Tapi yang ingin membuka usaha serupa kami persilahkan. Kami training dan semuanya gratis. Hanya saja bumbu rahasia tidak bisa kami berikan, karena itu rahasia perusahaan. Tapi kami memperbolehkan untuk membelinya pada kami," jelasnya.

Kini Ago menjalin kerja sama dengan sekitar 40 gerai serupa yang tersebar di berbagai daerah. Di antaranya, Bali, Solo, Surabaya, Jember, Lamongan, Lumajang, Blitar, dan lainnya. Saat ditanya tentang pengembangan usahanya, Ago menjawab hanya ingin fokus pada pengembangan gerai Mie Nyonyor yang saat ini dijalankannya.

“Sebenarnya saya sudah merasa cukup dengan hasil yang saya dapatkan saat ini. Memang ada rencana mengembangkan, tapi tujuannya untuk membuka lapangan kerja buat saudara atau orang yang membutuhkan,“ katanya dengan kalem.

Secara terpisah, Bupati Banyuwangi Abdullah memberikan apresiasi positif pada Mie Nyonyor. Bupati Anas berharap langkah Ago yang tertib membayar pajak, dapat diikuti oleh pengusaha-pengusaha kuliner lainnya.

“Kami atas nama pemerintah daerah berterima kasih pada Mas Ago karena bersedia membayar pajak secara tertib. Semoga ini menjadi contoh yang bisa diikuti oleh pengusaha lainnya di Banyuwangi,” kata Anas.

Pemerintah Kabupaten Banyuwangi sendiri mengeluarkan kebijakan pemasangan tax monitor sejak Juni 2017. Alat ini berfungsi merekam semua transaksi yang berlangsung di hotel dan restauran dan mengeluarkan struk pembayaran yang telah ditambahkan pajak sebesar 10 persen bagi konsumen.

“Pajak ini yang membayar tetap konsumen, bukan pemilik warung, namun kami meminta kesediaan pemilik usaha untuk menarik pajak ini. Semua penerimaan pajak akan kembali pada masyarakat berupa infrastruktur dan fasilitas umum,” ungkap Anas.(ari)

 

banner

Berita Terkini

> BERITA TERKINI lainnya ...