Archipelago

Kepala Kepolisian Resort Donggala, AKBP Ferdinand Suwarji (baju biru)

PALU (KoranTransparansi.com) – Kepala Kepolisian Resort Donggala, AKBP Ferdinand Suwarji didampingi Kabag Ops AKP Andi Syaiful Arif pada Jumat malam, (27/7/2018) menggelar tatap muka bersama para wartawan, di Triple F, Jalan Mangunsarkoro, Kota Palu, Sulawesi Tengah.

Dalam tatap muka bersama wartawan dari berbagai media itu, Kapolres mengharapkan masukan dan saran serta kritikan dalam menjalankan tugas di wilayah Polres Donggala.

Kapolres menjelaskan, pertemuan silaturahmi ini  diharapkan dapat meningkatkan kerja sama dalam bidang pelayanan publik terhadap masyarakat yang ada diwilayah Donggala.

“Saya meminta dukungan dari teman-teman wartawan dalam menjalankan kerja-kerja institusi kepolisian di Donggala. Jika ada kesalahan yang kami lakukan dalam bertugas mohon jangan sungkan untuk mengkritik,” ujarnya.(R.Nur)
Para pembeli Mie Nyonyor

BANYUWANGI (KoranTransparansi.com) - Apabila mencari rumah makan, restaurant, cafe, atau tempat makan lainnya yang laris dan beromset besar sudah biasa. Tapi mencari tempat makan yang jujur membayar pajak sesuai dengan omset yang didapat itu baru langka.

Di Banyuwangi, terdapat warung rumahan yang membayar pajak dengan jujur. Bahkan warung ini bisa membayar pajak Rp 1 juta tiap harinya. Bisa dibayangkan berapa jumlah omsetnya.

Warung itu adalah Mie Nyonyor, yang terletak di Jalan Medang Kamulan 8, Tamanbaru, Kecamatan Banyuwangi Kota. Lokasi warung ini sebenarnya tidak strategis, terletak di komplek perumahan. Warung ini sekaligus menjadi tempat tinggal pemiliknya, Fendra Agoprilla Putra (29).

"Apa yang saya dapat sudah cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Sekarang, apa salahnya membayar sesuatu yang merupakan kewajiban. Itu juga untuk kepentingan umum yang kita juga yang menikmati. Apalagi pemerintah sudah ," kata pria yang akrab disapa Ago tersebut, Rabu (18/7).

Dengan terbuka Ago menjelaskan berapa jumlah omsetnya tiap hari. Rata-rata pengunjung yang datang ke warungnya sekitar 200 hingga 300 orang per hari dengan omset mencapai  Rp 4-5 juta. Tiap hari, warungnya menghabiskan 4-6 dus mie kering. Satu dus isi 20 mie kering, yang bisa menjadi 60 porsi mie.

“Namun, saat weekend atau usai libur panjang pengunjunganya bisa meningkat 2 – 3 kali lipat. Seperti habis Lebaran kemarin, omset saya mencapai Rp 10 juta per harinya," kata Ago.

Meski omsetnya besar, namun Ago tidak serta merta lupa melaksanakan kewajibannya sebagai wajib pajak. Sejak tiga tahun lalu, saat dia dikenalkan aturan pajak restoran, Ago langsung membayar pajak secara teratur.

"Awalnya kami menghitung manual, kira-kira berapa yang harus kami bayarkan dari pengunjung yang hadir. Sejak tiga bulan lalu dibantu pemkab menggunakan alat tax monitor, kami justru terbantu. Kami bisa memantau berapa jumlah pajak yang dibayarkan," kata pria berusia 28 tahun itu.

Dengan demikian, rata-rata warung ini membayar pajak Rp 500.000 hingga Rp 1 juta bahkan lebih tiap harinya tergantung jumlah pengunjung. Ini terlihat dari tax monitor yang memantau pembayaran pajak. Di Banyuwangi usaha rumah makan dikenakan pajak 10 persen.

Usaha yang dirintis Ago itu tidak serta merta seperti saat ini. Ago mengawali dunia bisnis sejak masih kuliah. Alumni Untag Banyuwangi itu, mengawalinya dengan berjualan bakso. "Setelah lulus saya mulai gelisah, karena cita rasa bakso buatan saya belum terlalu meyakinkan menurut saya,” bebernya.

Melihat banyak daerah yang lagi booming dengan mie pedas berlevel-level, akhirnya Ago mulai merintis mie level tersebut mulai 2012. "Awalnya saya pasarkan pada teman-teman kuliah saya ternyata sambutannya positif, dibilang enak. sehingga saya memutuskan untuk membuka warung," jelas Ago.

Awalnya pelanggan Ago adalah teman-teman kuliahnya. Lama-kelamaan mulai banyak pembeli yang berdatangan. "Dulu saya terapkan kuis di medsos, dan pemenangnya bisa makan gratis di sini. Lama kelamaan mulai banyak yang datang," tambahnya.

Setelah sukses dengan warung Mie Nyonyor, Ago membuka pintu bagi mereka yang ingin berwirausaha. Ago mempersilahkan siapa saja yang ingin belajar membuat mie ala Mie Nyonyor, datang ke tempatnya tanpa dipungut biaya.

"Saya tidak membuka franchise. Tapi yang ingin membuka usaha serupa kami persilahkan. Kami training dan semuanya gratis. Hanya saja bumbu rahasia tidak bisa kami berikan, karena itu rahasia perusahaan. Tapi kami memperbolehkan untuk membelinya pada kami," jelasnya.

Kini Ago menjalin kerja sama dengan sekitar 40 gerai serupa yang tersebar di berbagai daerah. Di antaranya, Bali, Solo, Surabaya, Jember, Lamongan, Lumajang, Blitar, dan lainnya. Saat ditanya tentang pengembangan usahanya, Ago menjawab hanya ingin fokus pada pengembangan gerai Mie Nyonyor yang saat ini dijalankannya.

“Sebenarnya saya sudah merasa cukup dengan hasil yang saya dapatkan saat ini. Memang ada rencana mengembangkan, tapi tujuannya untuk membuka lapangan kerja buat saudara atau orang yang membutuhkan,“ katanya dengan kalem.

Secara terpisah, Bupati Banyuwangi Abdullah memberikan apresiasi positif pada Mie Nyonyor. Bupati Anas berharap langkah Ago yang tertib membayar pajak, dapat diikuti oleh pengusaha-pengusaha kuliner lainnya.

“Kami atas nama pemerintah daerah berterima kasih pada Mas Ago karena bersedia membayar pajak secara tertib. Semoga ini menjadi contoh yang bisa diikuti oleh pengusaha lainnya di Banyuwangi,” kata Anas.

Pemerintah Kabupaten Banyuwangi sendiri mengeluarkan kebijakan pemasangan tax monitor sejak Juni 2017. Alat ini berfungsi merekam semua transaksi yang berlangsung di hotel dan restauran dan mengeluarkan struk pembayaran yang telah ditambahkan pajak sebesar 10 persen bagi konsumen.

“Pajak ini yang membayar tetap konsumen, bukan pemilik warung, namun kami meminta kesediaan pemilik usaha untuk menarik pajak ini. Semua penerimaan pajak akan kembali pada masyarakat berupa infrastruktur dan fasilitas umum,” ungkap Anas.(ari)

 

Gabrielle Saat Memberikan Workshop Jazz di SMAN I Giri

BANYUWANGI (KoranTransparansi.com) – Serangkaian event jazz yang digelar Banyuwangi mengispirasi Gabrielle Stravelli, musisi jazz Amerika Serikat datang ke Banyuwangi.

Jazz ambassador Amerika ini akan menggelar konser di Hotel El Royale Banyuwangi, pada Jumat malam (13/7).

Gabrielle mengatakan dirinya yang datang bersama suaminya yang juga musisi jazz, Pat O’leary ini untuk

"berbagi budaya" musik jazz di Indonesia. Bagi dia, jazz itu musik yang santai, musik yang bisa menciptakan interaksi yang intim dengan audiensnya.

"Apa yang disampaikan musik dan sampai kepada audiens, itulah jazz. Kita hilangkan stigma, bahwa jazz itu rumit dan mahal,” kata Gabrielle saat memberikan workshop jazz di SMAN I Giri, Banyuwangi kemarin.

Sehari sebelum konser, Gabrielle menggelar workshop musik jazz yang diikuti puluhan pecinta jazz Banyuwangi, kemarin Kamis (12/7). Mereka yang terdiri dari pelajar,  guru seni dan pemain musik sangat antusias mengikuti materi demi materi yang disampaikan pasangan suami istri itu.

Berbagai teknik dalam musik jazz disampaikan. Gabrielle juga mengajarkan cara bernyanyi ala jazz.  Diiringi alat musik piano dan elektrik kontra bass, dia mengajak para pecinta jazz mengikuti alunan suaranya. "Hep hep pap pap, once more..Hep hep pap pap," ajak Gabrielle yang lalu diikuti peserta.

Para peserta pun terlihat asyik mengikuti nada demi nada yang disuarakan Gabrielle. Tidak hanya cara menyanyi, mereka juga mengajarkan cara bermusik bahkan sejarah jazz.

"Musik jazz memang merupakan genre yang membutuhkan skill khusus untuk memainkannya. Terutama kemampuan improvisasi yang lebih ketimbang musik lain. Jadi memang harus dipelajari," jelasnya.

Dia lalu menjelaskan mengapa dalam rangkaiannya ke Banyuwangi juga menggelar workshop.

"Di Indonesia, di Banyuwangi juga mungkin, tak mudah untuk menemukan guru jazz sebagaimana di tempat kami di New York. Karena itu kehadiran kami di sini sekaligus untuk berbagi ilmu kepada musisi dan pecinta jazz di Indonesia,” kata Ambasador Jazz Amerika.

Gabrielle juga memberikan apresiasi yang tinggi kepada Banyuwangi yang konsisten menggelar musik jazz.

“Banyuwangi tak hanya indah, tapi masyarakatnya sangat familiar dengan musik jazz. Saya juga pernah dengan ada student jazz di sini. Ini bagus menurut saya,” paparnya..

Dalam konser nanti, Gabrielle juga akan membawakan lagu khas Using dengan aransemen Jazz. “Saya akan bikin surprise, ada lagu BAnywuangi yang akan kami tampilkan nanti malam. Jazz itu open-minded, jadi kami tak salah akan membawakan lagu daerah Banyuwangi," bebernya.

Selama di Indonesia, mereka akan menggelar konser hanya di tiga kota di Indonesia. Selain di Banyuwangi, mereka hanya manggung di Jakarta dan Surabaya. (ari)

Pesta budaya Indonesia di Hawaii

Anggota TNI-AL yang tergabung dalam Satgas Rimpac 2018 menampilkan tari kecak saat pesta budaya Indonesia di Honolulu, Hawaii, Amerika Serikat, Minggu (8/7/2018). Tari Kecak, tari Saman dan tari Gemu Famire serta berbagai macam kuliner Indonesia menjadi pertunjukan dan suguhan delegasi dari 27 negara peserta Rimpac 2018, warga dan WNI yang tinggal di Hawaii sebagai misi mengenalkan keragaman budaya tanah air. (min)

Ulama Harry Moekti (tengah) tiba di Gedung KPK, Jakarta, Rabu (2/11/2016). Kedatangan mantan penyanyi rock tersebut untuk memenuhi undangan menjadi penceramah pada pengajian rutin yang digelar di KPK

 

Jakarta (KoranTransparansi.com) - Kabar duka kembali menyelimuti dunia musik Indonesia setelah mantan rocker, Hariadi Wibowo alias Hari Moekti, meninggal dunia dalam usia 61 tahun pada Minggu malam.

yanyi rock yang tenar di era 80-an itu meninggal di Rumah Sakit Dustira Cimahi pada pukul 20.49 WIB.

"Benar, yang meninggal dunia dengan nama Bapak Hariadi Wibowo pada malam ini," kata seorang petugas jaga Rumah Sakit Dustira Cimahi ketika dikonfirmasi Antara News, Minggu malam.

Kendati demikian, petugas tersebut belum bisa memberikan informasi lebih lanjut terkait penyakit yang diderita almarhum sebelum masuk ke Rumah Sakit Dustira pada malam ini.

Hari Moekti yang lahir di Cimahi pada 25 Maret 1957, terkenal dengan lagu-lagu berjudul "Ada Kamu", "Aku Suka Kamu Suka" dan "Satu Kata", sebelum beralih menjadi da'i.

Kabar meninggalkan Hari Moekti merebak di media sosial dengan ucapan berbela sungkawa yang dicuitkan beberapa tokoh.

"Kabar duka, @hari_moekti yang pernah tergabung di band Adegan dan Makara meninggal dunia malam ini Minggu (24/6/2018) pukul 20.49. Info yang saya dapatkan dari Mas @KadriJimmo karena serangan jantung. #Alfatihah," cuit pengamat musik Adib Hidayat melalui akun @AdibHidayat baru-baru ini.

Budayawan Sujiwo Tejo turut mencuit, "Met jalan Kang Hari Moekti ... Sampai jumpa ... #utangRasa"

Menurut rencana, Jenazah Hari Moekti akan dimandikan dan dishalatkan di Cimahi, sebelum dikebumikan di Bogor pada Senin (25/6) pagi.(kh)

Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko, saat menghadiri pameran karya seni kolaborasi Goenawan Mohamad dan Hanafi bertajuk "57 x 76", di Galeri Nasional, Jakarta Pusat, Kamis malam (21/6). (facebook)

 

Jakarta (KoranTransparansi.com) - Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko, mengatakan, nilai-nilai luhur budaya bangsa harus terus ditanamkan kepada generasi muda agar menjadi benteng dan pondasi kuat dalam menghadapi pengaruh budaya luar yang dirasa tidak sesuai, serta dapat menyerabut jati diri bangsa.

banner

Berita Terkini

> BERITA TERKINI lainnya ...