Archipelago

Cinta Laura

Jakarta – Aktris Cinta Laura tengah sibuk dalam produksi film bergenre horor. Dalam film itu, Cinta berperan sebagai sosok gadis asli Bogor, Jawa Barat.

Ditemui di sela acara yang digelar di Jakarta, Senin, ia belum mau
 
menyebut judulnya.

 

Namun, Cinta mengungkapkan secuil kisah lucu di saat syuting film yang mengangkat cerita misteri di Indonesia itu.(kh)

Erni Agustin Eksis Cintai Seni Tradisi

Malang (KoranTransparansi.com) - Penyanyi tradisionil Campursari Erni Agustin, namanya memang sudah tak diragukan lagi. Ia akan tetap berada di jalurnya sendiri yaitu melestarikan dan mengembangkan kesenian yang ia geluti sejak kecil.

Masyarakat  Jawa Timur, sudah sangat mengenalnya. Bahkan, untuk bisa menghadirkan Erny, untuk sebuah acara hajatan keluraga misalnya, atau sebuah pertunjukan , harus pesan tanggal jauh jauh sebelumnya. Ya ini karena jadwalnya sangat padat, bisa sampai setengah tahun sebelumnya. (fir)

 Foto  : Dra.Hj.Fatma Saifullah Yusuf Memberikan Apresiasi Pada Designer Di Acara Batik Fashion Festival 2018 Di ITC Mall Surabaya, Minggu (25/11/2018)

Surabaya (KoranTransparansi.com) - Hj. Fatma Saifullah Yusuf mengapresiasi berbagai karya busana batik hasil desain dari para perancang busana yang tergabung dalam Asosiasi Perancang Pengusaha Model Indonesia (APPMI) DPD Jawa Timur.

 

Apalagi, batik merupakan ciri khas dan budaya Bangsa Indonesia dan sudah ditetapkan oleh UNESCO sebagai warisan kebudayaan dunia sehingga harus terus dilestarikan.Ungkatpnya di Surabaya, Minggu (25/11).

 

Menurutnya, batik di Indonesia sangat banyak ragam dan coraknya sehingga bisa dipadukan dengan berbagai kain dan motif yang berbeda 

 

Untuk menghasilkan karya busana itu, dibutuhkan tangan terampil dan ide kreatif dari para perancang mode sehingga kain batik tersebut bisa dinikmati dan lebih bermakna.

 

Sebagai penikmat fashion, Fatma-sapaan lekatnya, merasa bangga bahwa para perancang mode yang tergabung dalam APPMI DPD Jatim bisa terus eksis dengan berbagai karya nyata yang sangat indah. Selain itu, desain-desain yang dihasilkan selalu ditunggu para penikmat fashion untuk menambah kecantikan. 

 

"Ini membuktikan bahwa dari selembar kain bisa diolah menjadi gaun yang indah dan cantik saat dilihat dan dikenakan," kata Ketua Umum Badan Kerjasama Organisasi Wanita (BKOW) Provinsi Jatim ini.

 

Sebagai penggemar batik terutama yang berasal dari Jatim, ia sangat mengapresiasi acara fashion show ini sebagai bagian dari melestarikan budaya batik. Ke depan ia berharap para perajin batik terutama dari Jatim dapat terus mengembangkan hasil karyanya. 

 

Dalam kesempatan ini, Fatma juga menyampaikan terimakasih kepada APPMI DPD Jatim yang terus bekerja, berkarya dan berdidikasi tinggi membawa nama harum bangsa melalui kain batik. Sehingga, hingga saat ini karya-karya tersebut dapat terus dinikmati dan menambah rasa cinta terhadap budaya bangsa.

 

"Terimakasih juga kepada sahabat-sahabat media dan seluruh pihak yang terus membantu dan mendukung acara ini," terangnya.

 

Sementara itu, Ketua APPMI DPD Jatim, Denny Djoewardi mengatakan, fashion show ini menampilkan tren mode busana batik tahun 2019 dari Jatim. Apalagi Jatim banyak menghasilkan berbagai kerajinan batik. 

 

"Kami, APPMI DPD Jatim bersama UKM batik dan tenun terus berkomitmen melestarikan batik sebagai salah satu budaya bangsa," katanya.

 

Untuk itu, dalam fashion show kali ini juga diselenggarakan berbagai lomba untuk menyaring berbagai desainer baru. Ia berharap dengan adanya even ini, Provinsi Jatim dan Kota Surabaya dapat menjadi trend setter busana batik di Indonesia. 

 

Batik Fashion Festival ini diselenggarakan oleh ITC Surabaya bekerjasama dengan Asosiasi Perancang Pengusaha Model Indonesia (APPMI) DPD Jatim. Karya batik tren 2019 yang ditampilkan kali ini berasal dari berbagai perancang seperti Denny Djoewardi,

 

Ulfa Mumtaza, Yuyuk Nurmaisyah, Yeny Ries, Djoko Sasongko, Gita Orlin, Cindra Kirana dan Anna Budiman. (min)

Analisa Penawaran dan Permintaan pasar tradisional Pasar Soponyono dan Pasar Paing Kecamatan Rungkut Surabaya menggunakan Sistem Informasi Geografi

Oleh : Prof. Ir. Hening Widi Oetomo, MM, PhD.

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STIESIA) Surabaya

Perubahan pola kehidupan dan kebutuhan masyarakat dalam memenuhi keinginan dan kebutuhan masyarakat untuk keperluan hidup sehari-hari memunculkan berbagai fasilitas perbelanjaan. Pasar sebagai salah satu fasilitas perbelanjaan selama ini sudah menyatu dan memiliki tempat penting dalam kehidupan masyarakat.

Bagi masyarakat, pasar bukan sekedar tempat bertemunya penjual dan pembeli. Pasar juga wadah interaksi sosial dan representasi nilai-nilai tradisional.Pasar tradisional merupakan tempat bertemunya penjual dan pembeli serta ditandai dengan adanya transaksi penjual pembeli secara langsung.Bangunan biasanya terdiri dari kios-kios yang dibuka oleh penjual maupun suatu pengelola pasar. Pasar tradisional merupakan ciri pada negara berkembang. Tingkat pendapatan dan perekonomian masyaratakat kurang begitu tinggi. Hal ini menyebabkan masyarakat lebih suka berbelanja ke pasar tradisional.Akan tetapi seiring dengan perkembangan zaman, budaya masyarakat Indonesia sudah mulai bergeser. Kegiatan-kegiatan besar dan lebih modern telah memasuki banyak perkotaan di Indonesia.

Banyak investor yang masuk ke Indonesia untuk membangun pasar-pasar modern yang menampung kegiatan-kegiatan besar. Era globalisasi ini banyak bermunculan pasar-pasar modern. Dibangun dengan segala kelebihan dan fasilitasnya serta kelengkapannya dalam memperjualbelikan barang-barang kebutuhan masyarakat. Kehadiran pasar modern, terutama supermarket dan hypermart dianggap oleh berbagai kalangan telah menyudutkan keberadaan pasar tradisional.

Pasar tradisional merupakan tempat bertemunya penjual dan pembeli serta ditandai dengan adanya transaksi penjual pembeli secara langsung dan biasanya ada proses tawar-menawar, bangunan biasanya terdiri dari kios-kios, los dan dasaran terbuka yang dibuka oleh penjual maupun suatu pengelola pasar. Kebanyakan menjual kebutuhan sehari-hari seperti bahan-bahan makanan berupa ikan, buah, sayur-sayuran, telur, daging, kain, pakaian barang elektronik, jasa dan lain-lain. Selain itu, ada pula yang menjual kue-kue dan barang-barang lainnya. Kelebihan dari pasar ini adalah harga barangnya yang terjangkau, area penjualan yang biasanya luas, dan merupakan salah satu pendongkrak perekonomian kalangan menengah kebawah. 

Penelitian tentang pola persebaran pasar tradisional dan pasar modern di Kota Surakarta telah dilakukan oleh Aditya Sigid Nugraha (2013) menggunakan analisis tetangga terdekat (Nearest Neighbour Analysis) dengan mencari skala t. Proses perhitungannya memanfaatkan aplikasi sistem informasi geografis. Hasil yang diperoleh dari analisis tetangga terdekat (nearest neighbour analysis) secara otomasi menggunakan arcview bahwa baik pasar tradisional dan pasar  modern  memiliki  pola  persebaran  mengelompok.  Hal  ini  dimungkinkan karena  sebagian  pasar  tradisional,   dan  pasar  modern  letaknya  tidak  saling berjauhan.

Persebaran pasar tradisional dan pasar modern terhadap titik pusat kota dimana pusat pemerintahan Balai Kota Surakarta sebagai acuan dengan membuat ring lingkaran setiap satu kilometer hingga titik terjauh sampai dengan sepuluh kilometer untuk mengetahui persebaran pasarnya terhadap pusat kota. Hasilnya adalah perkembangan ataupun persebarannya  tidak  bergantung  pada  kawasan  central  business  district  (CBD) karena  beberapa  pasar  tradisional  telah  ada  sebelum  terbentuknya   kawasan tersebut, sedangkan untuk pasar modern perkembangannya lebih dipengaruhi atau berada pada jalur utama menuju kawasan central business district (CBD). Aksesibiltas berdasarkan fungsi jalannya tidak berpengaruh pada pasar tradisional namun pertumbuhan  pasar modern  akan sangat memperhatikan  konektifitasnya terhadap klas fungsi jalannya. 

Penelitian ini juga tentang pasar tradisional namun sedikit berbeda dengan penelitian Aditya Sigid Nugraha (2013). Penelitian ini di fokuskan pada permintaan dan penawaran sekitar lokasi pada radius 1 km terhadap 2 buah pasar tradisional yaitu Pasar Paing dan Pasar Soponyono Kecamatan Rungkut Surabaya.  Pertanyaan yang ada pada penelitian ini adalah bagaimana Indeks penawaran dan permintaan pada Pasar Paing dan Pasar Soponyono Kecamatan Rungkut Surabaya. Lokasi Pasar Paing dan Pasar Soponyono Kecamatan Rungkut ditunjukkan pada gambar berikut. 

Data yang dikumpulkan untuk menunjukkan permintaan dan penawaran merupakan data ruangan dan data bukan ruangan di Pasar Soponyono dan Pasar Paing Kecamatan Rungkut. Data ruangan dikumpulkan melalui Sistem Informasi Geografi menggunakan alat Global Positioning System (GPS) sedangkan data bukan ruangan dikumpulkan melalui observasi lapangan. Setelah data ditabulasi maka akan dihitung tingkat permintaan dan tingkat penawaran pasar dengan menggunakan Model Index. Model adalah representasi sederhana dari sebuah fenomena atau sistem.

Model Index akan menghitung nilai index dari setiap unit kawasan yang melibatkan banyak kriteria dan pembobotan (Kang Tsu Chang, 2008).  Secara umum ada 3 langkah dalam menghitung nilai Index sebagai berikut, Pertama, Mengevaluasi tingkat kepentingan relatif masing-masing kriteria terhadap kriteria yang lain atau pembobotan. Kedua,  Standarisasi data untuk masing-masing criteria dan ketiga,  menghitung nilai Index dengan jalan menjumlahkan hasil perkalian antara pembobotan dengan nilai standar masing-masing kriteria. 

Penawaran dari Pasar Pasar Soponyono dan Pasar Paing Kecamatan Rungkut dilakukan dengan pendekatan aktifitas disekitar pasar dalam radius 1 kilometer. Dengan pendekatan tersebut maka terdapat 4 kriteria untuk penawaran yaitu Jumlah pasar dalam radius 1 km, Jumlah Mini market dalam radius 1 km, Jumlah Restoran dalam radius 1 km dan Jumlah Toko Kelontong dalam radius 1 km. Nilai index penawaran minimal adalah 1 dan maksimal adalah 5. Nilai index pemasaran paling kecil adalah 1 atau sangat rendah sampai yang terbesar adalah 5 atau sangat tinggi.

Permintaan dari Pasar Pasar Soponyono dan Pasar Paing Kecamatan Rungkut dilakukan dengan pendekatan aktifitas disekitar pasar dalam radius 1 kilometer. Dengan pendekatan tersebut maka terdapat 4 kriteria untuk penawaran yaitu Jumlah perkantoran dalam radius 1 km, Jumlah Sekolah dalam radius 1 km, Jumlah Lembaga Keuangan dalam radus 1 km, Jumlah Tempat Ibadah dalam radius 1 km. Nilai index penawaran minimal adalah 1 dan maksimal adalah 5. Nilai index permintaan paling kecil adalah 1 atau sangat rendah sampai yang terbesar adalah 5 atau sangat tinggi. Hasil perhitungan untuk pasar Soponyono adalah Indeks Penawaran mempunyai nilai 3,27 sedangkan Indeks Permintaan mempunyai nilai 3,77 sedangkan Indeks Penawaran pasar Paing adalah 3,12 sedangkan Indeks Permintaan pasar Paing adalah 4,04.

Hasil perhitungan untuk Pasar Soponyono menunjukkan bahwa Nilai Indeks Permintaan lebih tinggi dibanding dengan Indeks Pernawarannya sehingga pada kawasan pasar Soponyono masih dimungkinkan untuk pendirian pasar baru. Demikian juga untuk Pasar Paing mempunyai Nilai Indeks Permintaan lebih tinggi dibanding dengan Indeks Pernawarannya sehingga pada kawasan pasar Paing masih dimungkinkan untuk pendirian pasar baru. Untuk lokasi pasar baru diperlukan  survey oleh pihak eksternal yang netral dan tidak berpihak. Penelitian ini menyumbangkan metode untuk penilaian permintaan dan penawaran dengan metode Index Model namun untuk kecukupan data dan akurasi diperlukan penelitian lebih lanjut.

Simpulan dari penelitian  telah menjawab pertanyaan tentang bagaimana permintaan dan penawaran pasar tradisional di Pasar Soponyono dan Pasar Paing. Teknik yang digunakan untuk menyelesaikan masalah adalah mengintegrasikan teknik statistik dan sistem informasi geografi. Teknik statistik digunakan untuk merencanakan bobot dan nilai standarisasi setiap indikator penawaran dan permintaan. Adapaun Sistem Informasi Geografi digunakan untuk mengumpulkan data koordinat objek, analisis overlay, untuk menghitung jumlah objek dalam  radius tertentu. Hasilnya adalah nilai indeks permintaan lebih tinggi dibanding indeks penawaran pasar baik di pasar Soponyono maupun di pasar Paing.

Untuk pendirian pasar baru diperlukan  kajian secara hukum, kenyamanan publik dan lain lain sehingga pasar baru benar-benar layak dari semua aspek yang terkait. Keterbatasan dalam penelitian ini adalah kecukupan data yang masih rendah namun penelitian ini telah menyumbangkan metode Index Model sebagai salah satu metode untuk menghitung indeks permintaan dan penawaran yang bisa diterapkan untuk berbagai objek penelitian. Bagaimana pendapat Anda ?

 

 

Prof. Ir. Hening Widi Oetomo, MM, PhD.Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STIESIA) Surabaya

Oleh : Prof. Ir. Hening Widi Oetomo, MM, PhD.

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STIESIA) Surabaya

PERUBAHAN pola kehidupan dan kebutuhan masyarakat dalam memenuhi keinginan dan kebutuhan masyarakat untuk keperluan hidup sehari-hari memunculkan berbagai fasilitas perbelanjaan. Pasar sebagai salah satu fasilitas perbelanjaan selama ini sudah menyatu dan memiliki tempat penting dalam kehidupan masyarakat.

Bagi masyarakat, pasar bukan sekedar tempat bertemunya penjual dan pembeli. Pasar juga wadah interaksi sosial dan representasi nilai-nilai tradisional.Pasar tradisional merupakan tempat bertemunya penjual dan pembeli serta ditandai dengan adanya transaksi penjual pembeli secara langsung.

Bangunan biasanya terdiri dari kios-kios yang dibuka oleh penjual maupun suatu pengelola pasar. Pasar tradisional merupakan ciri pada negara berkembang. Tingkat pendapatan dan perekonomian masyaratakat kurang begitu tinggi. Hal ini menyebabkan masyarakat lebih suka berbelanja ke pasar tradisional.Akan tetapi seiring dengan perkembangan zaman, budaya masyarakat Indonesia sudah mulai bergeser.

Kegiatan-kegiatan besar dan lebih modern telah memasuki banyak perkotaan di Indonesia. Banyak investor yang masuk ke Indonesia untuk membangun pasar-pasar modern yang menampung kegiatan-kegiatan besar. Era globalisasi ini banyak bermunculan pasar-pasar modern. Dibangun dengan segala kelebihan dan fasilitasnya serta kelengkapannya dalam memperjualbelikan barang-barang kebutuhan masyarakat.

Kehadiran pasar modern, terutama supermarket dan hypermart dianggap oleh berbagai kalangan telah menyudutkan keberadaan pasar tradisional. Pasar tradisional merupakan tempat bertemunya penjual dan pembeli serta ditandai dengan adanya transaksi penjual pembeli secara langsung dan biasanya ada proses tawar-menawar, bangunan biasanya terdiri dari kios-kios, los dan dasaran terbuka yang dibuka oleh penjual maupun suatu pengelola pasar.

Kebanyakan menjual kebutuhan sehari-hari seperti bahan-bahan makanan berupa ikan, buah, sayur-sayuran, telur, daging, kain, pakaian barang elektronik, jasa dan lain-lain. Selain itu, ada pula yang menjual kue-kue dan barang-barang lainnya. Kelebihan dari pasar ini adalah harga barangnya yang terjangkau, area penjualan yang biasanya luas, dan merupakan salah satu pendongkrak perekonomian kalangan menengah kebawah.

Penelitian tentang pola persebaran pasar tradisional dan pasar modern di Kota Surakarta telah dilakukan oleh Aditya Sigid Nugraha (2013) menggunakan analisis tetangga terdekat (Nearest Neighbour Analysis) dengan mencari skala t.

Proses perhitungannya memanfaatkan aplikasi sistem informasi geografis. Hasil yang diperoleh dari analisis tetangga terdekat (nearest neighbour analysis) secara otomasi menggunakan arcview bahwa baik pasar tradisional dan pasar  modern  memiliki  pola  persebaran  mengelompok.  Hal  ini  dimungkinkan karena  sebagian  pasar  tradisional,   dan  pasar  modern  letaknya  tidak  saling berjauhan.

Persebaran pasar tradisional dan pasar modern terhadap titik pusat kota dimana pusat pemerintahan Balai Kota Surakarta sebagai acuan dengan membuat ring lingkaran setiap satu kilometer hingga titik terjauh sampai dengan sepuluh kilometer untuk mengetahui persebaran pasarnya terhadap pusat kota.

Hasilnya adalah perkembangan ataupun persebarannya  tidak  bergantung  pada  kawasan  central  business  district  (CBD) karena  beberapa  pasar  tradisional  telah  ada  sebelum  terbentuknya   kawasan tersebut, sedangkan untuk pasar modern perkembangannya lebih dipengaruhi atau berada pada jalur utama menuju kawasan central business district (CBD).

Aksesibiltas berdasarkan fungsi jalannya tidak berpengaruh pada pasar tradisional namun pertumbuhan  pasar modern  akan sangat memperhatikan  konektifitasnya terhadap klas fungsi jalannya.

Penelitian ini juga tentang pasar tradisional namun sedikit berbeda dengan penelitian Aditya Sigid Nugraha (2013). Penelitian ini di fokuskan pada permintaan dan penawaran sekitar lokasi pada radius 1 km terhadap 2 buah pasar tradisional yaitu Pasar Paing dan Pasar Soponyono Kecamatan Rungkut Surabaya. 

Pertanyaan yang ada pada penelitian ini adalah bagaimana Indeks penawaran dan permintaan pada Pasar Paing dan Pasar Soponyono Kecamatan Rungkut Surabaya. Lokasi Pasar Paing dan Pasar Soponyono Kecamatan Rungkut ditunjukkan pada gambar berikut.

Data yangdikumpulkan untuk menunjukkan permintaan dan penawaran merupakan data ruangan dan data bukan ruangan di Pasar Soponyono dan Pasar Paing Kecamatan Rungkut. Data ruangan dikumpulkan melalui Sistem Informasi Geografi menggunakan alat Global Positioning System (GPS) sedangkan data bukan ruangan dikumpulkan melalui observasi lapangan.

Setelah data ditabulasi maka akan dihitung tingkat permintaan dan tingkat penawaran pasar dengan menggunakan Model Index. Model adalah representasi sederhana dari sebuah fenomena atau sistem. Model Index akan menghitung nilai index dari setiap unit kawasan yang melibatkan banyak kriteria dan pembobotan (Kang Tsu Chang, 2008). 

Secara umum ada 3 langkah dalam menghitung nilai Index sebagai berikut, Pertama, Mengevaluasi tingkat kepentingan relatif masing-masing kriteria terhadap kriteria yang lain atau pembobotan. Kedua,  Standarisasi data untuk masing-masing criteria dan ketiga,  menghitung nilai Index dengan jalan menjumlahkan hasil perkalian antara pembobotan dengan nilai standar masing-masing kriteria.

Penawaran dari Pasar Pasar Soponyono dan Pasar Paing Kecamatan Rungkut dilakukan dengan pendekatan aktifitas disekitar pasar dalam radius 1 kilometer. Dengan pendekatan tersebut maka terdapat 4 kriteria untuk penawaran yaitu Jumlah pasar dalam radius 1 km, Jumlah Mini market dalam radius 1 km, Jumlah Restoran dalam radius 1 km dan Jumlah Toko Kelontong dalam radius 1 km. Nilai index penawaran minimal adalah 1 dan maksimal adalah 5.

Nilai index pemasaran paling kecil adalah 1 atau sangat rendah sampai yang terbesar adalah 5 atau sangat tinggi. 

Permintaan dari Pasar Pasar Soponyono dan Pasar Paing Kecamatan Rungkut dilakukan dengan pendekatan aktifitas disekitar pasar dalam radius 1 kilometer. Dengan pendekatan tersebut maka terdapat 4 kriteria untuk penawaran yaitu Jumlah perkantoran dalam radius 1 km, Jumlah Sekolah dalam radius 1 km, Jumlah Lembaga Keuangan dalam radus 1 km, Jumlah Tempat Ibadah dalam radius 1 km.

Nilai index penawaran minimal adalah 1 dan maksimal adalah 5. Nilai index permintaan paling kecil adalah 1 atau sangat rendah sampai yang terbesar adalah 5 atau sangat tinggi. Hasil perhitungan untuk pasar Soponyono adalah Indeks Penawaran mempunyai nilai 3,27 sedangkan Indeks Permintaan mempunyai nilai 3,77 sedangkan Indeks Penawaran pasar Paing adalah 3,12 sedangkan Indeks Permintaan pasar Paing adalah 4,04.

Hasil perhitungan untuk Pasar Soponyono menunjukkan bahwa Nilai Indeks Permintaan lebih tinggi dibanding dengan Indeks Pernawarannya sehingga pada kawasan pasar Soponyono masih dimungkinkan untuk pendirian pasar baru.

Demikian juga untuk Pasar Paing mempunyai Nilai Indeks Permintaan lebih tinggi dibanding dengan Indeks Pernawarannya sehingga pada kawasan pasar Paing masih dimungkinkan untuk pendirian pasar baru.

Untuk lokasi pasar baru diperlukan  survey oleh pihak eksternal yang netral dan tidak berpihak. Penelitian ini menyumbangkan metode untuk penilaian permintaan dan penawaran dengan metode Index Model namun untuk kecukupan data dan akurasi diperlukan penelitian lebih lanjut

Simpulan dari penelitian  telah menjawab pertanyaan tentang bagaimana permintaan dan penawaran pasar tradisional di Pasar Soponyono dan Pasar Paing.

Teknik yang digunakan untuk menyelesaikan masalah adalah mengintegrasikan teknik statistik dan sistem informasi geografi. Teknik statistik digunakan untuk merencanakan bobot dan nilai standarisasi setiap indikator penawaran dan permintaan. 

Adapaun Sistem Informasi Geografi digunakan untuk mengumpulkan data koordinat objek, analisis overlay, untuk menghitung jumlah objek dalam  radius tertentu. Hasilnya adalah nilai indeks permintaan lebih tinggi dibanding indeks penawaran pasar baik di pasar Soponyono maupun di pasar Paing.

Untuk pendirian pasar baru diperlukan  kajian secara hukum, kenyamanan publik dan lain lain sehingga pasar baru benar-benar layak dari semua aspek yang terkait.

Keterbatasan dalam penelitian ini adalah kecukupan data yang masih rendah namun penelitian ini telah menyumbangkan metode Index Model sebagai salah satu metode untuk menghitung indeks permintaan dan penawaran yang bisa diterapkan untuk berbagai objek penelitian. Bagaimana pendapat Anda ?

 Teuku Zacky (paling kanan) dan tim Aerotravel dalam rapat koordinasi dengan panitia dan Kowani di Yogyakarta, Selasa (11/9/2018) soal persiapan akhir pelaksanaan Sidang Umum ke-35 ICW dan Temu Nasional Seribu Organisasi Perempuan Indonesia, 11-20 Septeber 2018.

Yogyakarta (KoranTransparansi.com) - Banyak orang sudah tahu aktor Teuku Zacky telah lebih dari lima tahun terakhir bergelut dengan bisnis penyelenggara acara alias "event organizer" (EO).

Namun belum banyak yang tahu bahwa pria berdarah Aceh kelahiran Bandung 23 Januari 1983 ini kini sedang bergabung bersama Aerotravel, anak perusahaan PT Garuda Indonesia, selaku MICE (Meeting, Incentive, Convention and Exhibition) organizer.         

Aktor film "Obama Anak Menteng" (2010) ini sedang menggarap Sidang Umum ke-35 ICW (International Council of Women), organisasi perempuan dunia di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan Temu Nasional Seribu Organisasi Perempuan Indonesia, di Hotel Grand Inna Malioboro, Yogyakarta, yang seluruh rangkaian acaranya berlangsung 11 hingga 20 September 2018.

Suami Ilmira Usmanova dan ayah dua anak ini menjelaskan berbagai kesiapan akhirnya saat rapat koordinasi bersama panitia dan Kowani (Kongres Wanita Indonesia).

Ia menjelaskan soal pembuatan tanda pengenal bagi delegasi dan peserta yang berjumlah sekitar seribuan perempuan luar negeri dan dari berbagai daerah, termasuk tamu undangan lainnya, soal pengaturan tempat duduk, konsumsi, dan sebagainya.

"Persiapannya harus matang," kata pria setinggi 187 centimeter dan berbrewok dan berkumis, saat menjelaskan acara yang dijadwalkan akan menghadirkan Presiden Joko Widodo pada upacara pembukaan yang akan berlangsung pada Kamis (14/9).

Teuku Zacky saat menjelaskan persiapan akhir pelaksanaan Sidang Umum ke-35 ICW dan Temu Nasional Seribu Organisasi Perempuan Indonesia, dalam rapat koordinasi dengan panitia pelaksana dan Kowani.(kh)

banner

Berita Terkini

> BERITA TERKINI lainnya ...